Karier Legendaris Didi Kempot dan Identitas Unik Campursari

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 05/05/2020 19:30 WIB
Didi Kempot Meski dikenal sebagai penyanyi campursari, Didi Kempot justru memulai kariernya bukan dari jenis musik tersebut. (dok Didi Kempot Official)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum meninggal dunia, Didi Kempot dikenal luas sebagai musisi campursari. Namun jauh lagi sebelum itu, campursari belum menjadi identitas dari Didi Kempot sampai akhir dekade '80-an.

Hal itu diakui sendiri oleh Didi Kempot kala wawancara khusus bersama CNNIndonesia.com, Juli 2019. Ia menyebut campursari sudah ada sebelum seorang Didi Kempot membawakannya ke ranah publik.

Bahkan, ia mengaku kala memulai karier bermusik dengan mengamen pada dekade '80-an, Didi Kempot hanya membawakan lagu-lagu lawas yang berbahasa Jawa.


Sementara itu, musik campursari sendiri baru dikenal luas pada akhir dekade '80-an ketika mendiang Anto Sugiartono alias Manthous yang berasal dari Yogyakarta, menampilkan musik ini ke publik. Dulu, hanya dikenal keroncong yang akrab dibawakan oleh Waldjinah.


Musik campursari tergolong unik dan baru, hasil kawin dari campuran musik kontemporer di Indonesia seperti keroncong dan dangdut alias congdut.

Ketika Didi Kempot masuk studio rekaman di Jakarta 1989, ia pun masih membawa musik yang selama ini dimainkan. Namun ketika menggarap aransemen musik dengan Pompi Suradimansyah, Didi baru menetapkan genre musiknya.

"Dulu kemasannya orang bilang pop Jawa. Musica bilangnya pop Jawa. Sebelum saya, almarhum Manthous rekaman di Musica juga. Yang aransemen album saya Mas Pompi, saya hanya kasih dasar gitar keroncong biasa," kata Didi.

Didi mengaku bahwa musik pop Jawa yang ia dan Manthous dalam waktu bersamaan ternyata diterima pasar dengan hangat.
Penyanyi campursari Didi Kempot menghibur penggemarnya saat Ngamen Antikorupsi di areal parkir Stasiun Kereta Api Madiun, Jawa Timur, Kamis (13/4). Didi Kempot yang tahun ini menjadi Duta Kereta Api Ngamen Antikorupsi di Madiun di gandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampil membawakan sejumlah lagu, antara lain ‘Suket Teki’, ‘Jambu Alas’, ‘Sekonyong-konyong Kodher’. ANTARA FOTO/Siswowidodo/nz/17Meski dikenal sebagai penyanyi campursari, Didi Kempot justru memulai kariernya bukan dari jenis musik tersebut. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Memasuki dekade '90-an, genre pop Jawa juga dikenal sebagai congdut alias keroncong dangdut. Genre ini pula yang kemudian dipilih oleh Didi dan diwujudkan melalui lagu Stasiun Balapan pada 1998 yang ia selipkan unsur Latin di tengahnya.

"Ternyata diterima di sini. Meledak banget, anak muda di pinggir jalan mulai nyanyi Stasiun Balapan. Dari situ meyakinkan saya, setelah saya diundang nyanyi di Universitas Gadjah Mada, untuk fokus di genre campursari," kata Didi.

Sejak saat itu, Didi Kempot pun menuai kerier yang melegenda dan gemilang berkat campuran musik tersebut. Setidaknya yang tercatat ia pernah merilis Stasiun Balapan (1999), Modal Dengkul, Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko'e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004) dan Ono Opo (2005).

Bahkan, dirinya menyebut sudah membuat sampai 700 lagu sepanjang dia berkarier meskipun kini pencatatannya masih dalam proses.


Sementara itu, Bambang Prasetya yang merupakan praktisi campursari menilai bahwa anggapan campursari dengan keroncong dangdut itu berbeda. Menurutnya, campursari merupakan campuran gamelan Jawa dengan alat musik modern.

Anggapan Bambang bahwa campursari mesti mengandung gamelan juga senada dengan pernyataan Joko Tri Laksono dari Etnomusikologi ISI Yogyakarta.

Menurut pemaparan Joko dalam tulisan Perspektif Historis Campursari dan Campursari ala Manthous dan dimuat dalam jurnal seni Imaji terbitan Universitas Negeri Yogyakarta Vol 8 No 1 Tahun 2010, campursari adalah ensambel gamelan dengan instrumen modern.

[Gambas:Youtube]

Secara historis, cikal bakal campursari sudah muncul sejak 1960-an ketika Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta memadukan keroncong dengan alat musik siter dan kendang. Namun kala itu belum diberi perhatian karena dianggap keluar dari pakem.

Memasuki dekade '90-an, campursari jadi hit, terutama ketika Manthous membuat grup bergenre ini dan menggunakan langgam juga gendhing Jawa. Hasil campuran itu pun diterima masyarakat.

Lebih lengkap terkait perjalanan Didi Kempot dan musik campursari bisa dilihat di sini.

[Gambas:Video CNN]

(end)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK