Teater Perempuan-Perempuan Chairil Tayang Streaming Pekan Ini

CNN Indonesia | Jumat, 08/05/2020 16:41 WIB
Reza Rahadian ; Perempuan-Perempuan Chairil Pertunjukan teater Perempuan-Perempuan Chairil yang terinspirasi dari kisah hidup penyair Chairil Anwar bakal diputar secara streaming pada akhir pekan ini. (dok: Bakti Budaya Djarum Foundation)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertunjukan teater Perempuan-Perempuan Chairil yang terinspirasi dari kisah hidup penyair Chairil Anwar bakal diputar secara streaming pada akhir pekan ini.

Rekaman pentas yang digelar oleh Titimangsa Foundation itu akan tersedia pada Sabtu dan Minggu, 9 dan 10 Mei mendatang pukul 14.00 WIB di laman situs dan saluran YouTube Indonesia Kaya.

Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, mengatakan salah satu sebab pihaknya menayangkan kembali pementasan itu adalah mengingat antusiasme yang tinggi atas lakon tersebut.


"Penayangan ini juga upaya kami untuk mengenalkan masyarakat akan sosok Chairil Anwar, seorang penyair legendaris Indonesia yang melahirkan karya-karya fenomenal dan mendunia," katanya.

"Melalui kegiatan ini, diharapkan kita lebih mengenal sosok Chairil Anwar melalui kisah dibalik puisi-puisi ciptaannya,"

Perempuan-Perempuan Chairil yang ditayangkan nanti merupakan rekaman dari pementasan yang diselenggarakan pada 11 dan 12 November 2017 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lakon ini menampilkan Reza Rahadian sebagai Chairil Anwar, Marsha Timothy sebagai Ida, Chelsea Islan sebagai Sri Ajati, Tara Basro sebagai Sumirat dan Sita Nursanti sebagai Hapsah
Wiriaredja.

Kisah ini terinpirasi dari buku berjudul "Chairil" karya Hasan Aspahani. Dari buku itulah, Happy Salma dan Agus Noor selaku sutradara menemukan bentuk dan fokus pemanggungan Chairil.

"Karya-karya Chairil Anwar merupakan cermin sejarah untuk memaknai apa arti kemerdekaan manusia, juga kemerdekaan sebuah bangsa," kata Happy Salma, produser Teater Perempuan-Perempuan Chairil.

Reza Rahadian ; Perempuan-Perempuan ChairilPertunjukan teater Perempuan-Perempuan Chairil yang terinspirasi dari kisah hidup penyair Chairil Anwar bakal diputar secara streaming pada akhir pekan ini. (dok: Bakti Budaya Djarum Foundation)

"Setidaknya esensi itulah yang mendorong saya mewujudkan mimpi mementaskan perjalanan hidup Chairil Anwar," lanjutnya.

Happy Salma juga menambahkan, melalui sejumlah sosok perempuan dalam puisi Chairil, pementasan ini ia sebut menguak sisi lain dari sang pujangga.

Bukan hanya itu, pementasan ini juga disebut Happy Salma menunjukkan kegelisahan hidup dan pemikiran Chairil Anwar, serta pertaruhannya yang memberi tenaga dan makna semangat kemerdekaan.

Lakon ini tersaji dalam empat babak yang menggambarkan hubungan Chairil dengan empat perempuan, yakni Ida, Sri, Mirat dan Hapsah. Empat perempuan yang tak sama, empat cerita yang berbeda.

Ida Nasution adalah mahasiswi, penulis yang hebat, pemikir kritis dan bisa menyaingi intelektualisme Chairil ketika mereka berdebat.

Sri Ajati, juga seorang mahasiswi, bergerak di tengah pemuda-pemuda hebat pada zamannya, ikut main teater, jadi model lukisan, dan gadis ningrat yang tak membeda-bedakan kawan.

Sumirat juga seorang yang terdidik yang lincah. Tahu benar cara menikmati keadaan, mengagumi keluasan pandangan Chairil, menerima dan membalas cinta Chairil dengan sama besarnya tapi akhirnya cinta itu kandas.

Lalu akhirnya Chairil disadarkan oleh Hapsah, bahwa dia adalah lelaki biasa. Perempuan yang memberi anak pada Chairil ini begitu berani mengambil risiko mencintai Chairil karena tahu lelaki itu akhirnya akan berubah, meskipun itu terlambat, tapi ia tahu Chairil menyadari bahwa Hapsah benar.

"Chairil Anwar merupakan seorang penyair besar dengan puisi yang sarat makna dan visioner pada zamannya. Memerankan tokoh besar seperti ini menjadi tantangan sendiri buat saya karena dialog-dialognya tersusun dari berbagai puisi dan mendorong saya menggali lebih dalam bagaimana sosok penyair ini dengan membaca karya-karyanya," kata Reza Rahadian.

Pementasan ini juga dimeriahkan dengan hadirnya pemain pendukung, Sri Qadariatin sebagai perempuan malam dan Indrasitas sebagai Affandi.

(agn/end)