Dilema Teater Koma karena Corona

CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 21:00 WIB
Pementasan lakon J.J Sampah-Sampah Kota oleh Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, Kamis, 7 November 2019. Lakon J.J Sampah-Sampah Kota ini berkisah tentang sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Pertama kalinya sejak berdiri pada 1977, Teater Koma sama sekali tak menggelar pementasan sepanjang tahun ini. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1977, Teater Koma sama sekali tak menggelar pementasan sepanjang tahun ini. Mereka terjebak dalam dilema di tengah pandemi penyakit akibat virus corona atau Covid-19.

Komunitas yang didirikan Nano Riantiarno bersama 11 orang lainnya ini semula merencanakan dua produksi besar pada 2020, yakni Sampek Engtay serta kelanjutan dari Gemintang. Namun, situasi pandemi membuyarkan rencana tersebut.

Lakon Sampek Engtay yang direncanakan mulai pentas pada akhir Maret lalu harus ditunda dua kali, ke bulan Agustus hingga yang terbaru dijadwalkan pada awal tahun depan.


"Pertama [ditunda] kan Maret karena awal pandemi. Kita pentas harusnya akhir bulan, tapi di pertengahan sudah ada pengumuman enggak boleh. Itu terpaksa dibatalkan walaupun maunya enggak karena tiket sudah terjual, dan itu bukan kita yang mau karena sudah peraturan," katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (7/7).

Meski pemerintah baru-baru ini sudah mengeluarkan protokol gelaran pertunjukan teater, Ratna Riantiarno selaku Pimpinan Produksi Teater Koma menyatakan enggan mengambil risiko terhadap keamanan dan keselamatan penonton, pemain, serta tim yang terlibat.

Ratna menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa kembali membatalkan pertunjukan karena sulit menerapkan pembatasan jarak, serta pengeluaran biaya produksi akan membengkak jika harus melakukan tes kesehatan terlebih dulu.

Dalam peraturan Mendikbud dan Menparekraf pada awal bulan ini, salah satu poinnya memang menegaskan bahwa produksi pertunjukan teater harus mengatur jarak minimal satu meter antarpekerja dan pelaku seni serta penonton.

Selain itu, bila ada adegan yang membutuhkan kontak fisik, setiap penampil wajib melakukan isolasi selama 14 hari sebelum latihan dan melakukan tes PCR.

"Pertunjukan yang kita garap itu tentang orang pacaran, lalu ada bagian yang menampilkan murid-murid dan itu tidak bisa kita ubah. Secara pertunjukan memang sudah tidak bisa karena sulit menjaga jarak di atas panggung," tutur Ratna.

Selain itu, biaya pemeriksaan kesehatan juga butuh kocek besar dengan jumlah tim produksi dan pemain mencapai 75 orang. Bujet produksi pun bisa meningkat dua kali lipat, sementara pemasukan maksimal hanya 50 persen karena pembatasan kapasitas penonton.

"Dan kita juga enggak tahu apa orang masih berani keluar untuk menonton? Kan masih berisiko. Pertunjukan kami itu panjangnya 3 jam di ruangan tertutup. Apa berani berada di ruangan itu selama itu? Itu kan segala risiko yang kami pikirkan," katanya.

Ia kemudian berkata, "Gedung juga kan kita mainnya di Ciputra Artpreneur. Naik lift ke lantai atas, susah harus jaga jarak. Kalau satu lift empat orang empat orang, berapa lama ya itu?"

Pementasan lakon J.J Sampah-Sampah Kota oleh Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, Kamis, 7 November 2019. Lakon J.J Sampah-Sampah Kota ini berkisah tentang sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. CNN Indonesia/Bisma SeptalismaIlustrasi pementasan Teater Koma. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Ratna tak memungkiri bahwa penundaan ini memang sempat menimbulkan dilema, apalagi keputusan pertama diambil hanya berselang sepekan menjelang jadwal pementasan dan persiapan sudah hampir 100 persen.

Semula, Teater Koma menjadwalkan pertunjukan tersebut pada 28 dan 29 Maret, lalu sempat diubah menjadi 15 dan 16 Agustus. Kini, pentas itu dijadwalkan ulang menjadi 30-31 Januari 2021 dan di Ciputra Artpreneur Theater.

Pada Maret lalu, menurut Ratna tim produksi hanya tinggal memindahkan properti serta melakukan latihan di atas panggung Ciputra Artpreneur. Jumlah tiket yang terjual sudah 70 persen.

Bila kukuh menggelar pada Agustus mendatang, tim produksi harus bekerja keras untuk menambah jadwal pentas karena batasan kapasitas penonton.

Pada akhirnya, Teater Koma memutuskan untuk menundanya lagi usai melakukan konsultasi dengan pihak sponsor dan lainnya.

Namun, pilihan itu pun bukan berarti tidak ada yang dikorbankan. Dari sisi finansial, ia dan tim butuh berbagai upaya untuk bertahan hidup.

Menurut Ratna, sekitar 20 persen anggota Teater Koma menggantungkan hidup lewat pertunjukan. Beberapa orang memang punya pekerjaan lain, tapi ada pula yang terkena pemberhentian atau pemotongan gaji.

"Ini membuat kami tidak ada pertunjukan sama sekali untuk pertama kalinya di dalam usia 40 sekian. Yang kasihan yang bekerja dari situ, tapi anggota kami ada orang kantoran. Beberapa teman-teman ada yang jual makanan atau apa mencari cara. Kita juga mencoba sandiwara radio lalu kemarin putar rekaman streaming lumayan dapat uang," katanya.

Pendapatan dari pemutaran streaming pun sebenarnya tak sebanding dengan biaya produksi. Namun, bagi Ratna itu sudah cukup membantu dan ia mensyukuri Teater Koma tidak sepenuhnya berhenti karena pandemi.

"Ini sih sebetulnya ada yang mau menayangkan bayar sedikit, kita sudah puji Tuhan. Kalau bicara angka, tidak ada artinya sama sekali dengan produksi sama, tidak ada. Hanya bisa bagi ke temen sedikit-sedikit. Paling enggak, ada pemasukan. Waktu itu mau Lebaran, ada lima produksi yang tayang," katanya.

Beberapa waktu lalu, sejumlah pementasan lampau milik Teater Koma, seperti Tanda Cinta dan Sie Jin Kwie, memang sempat ditayangkan secara streaming oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.

Tanda Cinta Teater Koma dok: Bakti Budaya Djarum FoundationSejumlah pementasan Teater Koma sempat ditayangkan secara virtual. (Bakti Budaya Djarum Foundation)

Penayangan streaming itu sendiri sempat membuat Ratna berpikir untuk membuat produksi baru yang ditayangkan secara virtual. Meski di sisi lain, ada dilema karena kenikmatan dari pertunjukan teater akan berbeda ketimbang disuguhkan langsung di panggung.

"Teater Koma itu kan pertunjukan kolosal. Saya berpikir apa kenikmatannya ya ditonton seperti itu? Apalagi kalau cuma dari ponsel, tapi mau tidak mau kita pun akan mulai mencoba di panggung tanpa penonton lalu disiarkan secara online," ucap Ratna.

"Kalau dipikir, apa ini bisa menghidupi? Ya tidak juga. Karena melihat semua orang sedang susah, jadi tidak mungkin jual tiket mahal, tapi setidaknya jangan sampai berhenti [berkarya]."

Bagi Ratna, saat ini harapan dia hanyalah situasi pandemi dapat teratasi dengan baik.

"Ini sangat memprihatinkan dan memang bukan kita saja yang kena dan mengharapkan bantuan dari pemerintah, tapi kita juga tahu, prosedur di pemerintah tidak mudah. Jadi, berharap ada kesabaran ada keikhlasan. Gimana caranya survive, harus cari akal dan segala cara," katanya.

(agn/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK