Sineas dan Pemerintah Korsel Bersiap Bangkitkan Perfilman

CNN Indonesia | Minggu, 09/08/2020 07:24 WIB
Para ahli dan perwakilan pemerintah Korsel berkumpul untuk membahas strategi membangkitkan perfilman usai terkena dampak pandemi Covid-19. Ilustrasi. (morgueFile/mconnors)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ahli dan perwakilan pemerintah Korea Selatan berkumpul untuk membahas dampak pandemi Covid-19 dalam industri perfilman dan cara menyelamatkan bioskop kini hingga masa mendatang.

Mereka membahas seluruh aspek perbaikan industri tersebut melalui acara bertajuk Post-coronavirus Era: Korean Cinema Prepares for the Next 100 Years yang dihadiri 100 orang.

Di antara yang hadir terdapat Wakil Menteri Budaya Oh Young-woo, perwakilan Partai Demokrat Do Jong-hwan, Ketua Dewan Perfilman Korea (KOFIC) Oh Seok-geun, hingga perwakilan Persatuan Produser Korea.


Ketua Persatuan Produser Korea, Choi Jeong-hwa, menganggap pertemuan ini penting karena walau beberapa film lokal mulai membangkitkan industri layar lebar di tengah pandemi.

"Beberapa film musim panas seperti Peninsula dan Steel Rain 2 dirilis sesuai rencana dan memberikan hasil yang baik terhadap box office. Namun, kami masih belum tahu pasti kapan bioskop akan beroperasi normal," kata Choi Jeong-hwa seperti dikutip Korea Times.

Jumlah penonton bioskop memang meningkat dalam tiga bulan terakhir. Namun, angka itu sejatinya hanya 20-30 persen apabila dibandingkan total penonton di periode yang sama pada 2019.

Berdasarkan data Dewan Perfilman Korea, jumlah penonton bioskop pada semester pertama 2020 menurun 70,3 persen dibandingkan tahun lalu. Total pengunjung pada Juli 2020 bahkan menurun 74 persen dibandingkan Juli 2019.

Pemerintah Korea sebenarnya sudah mengambil sejumlah langkah darurat untuk menyelamatkan industri bioskop dan film. Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korsel, misalnya, langsung memangkas iuran yang wajib diberikan bioskop hingga 90 persen.

Pemerintah juga mengizinkan bioskop menunda pembayaran 0,3 persen itu hingga akhir tahun tanpa biaya keterlambatan. Rencana itu kemudian dibulatkan dengan koordinasi bersama Kementerian Keuangan Korsel.

[Gambas:Video CNN]

Dewan Perfilman Korea (KOFIC) juga menyuntikkan dana 17 miliar won atau sekitar Rp199,3 miliar (1 won=Rp11,72) untuk membantu industri perfilman lokal.

Dana itu digunakan untuk memberikan potongan 6 ribu won atau sekitar Rp70 ribu per satu tiket mulai 4 Juni. Biasanya, satu tiket nonton di Korea dijual 12 ribu won atau sekitar Rp140 ribu. Potongan itu hanya diberikan akhir pekan demi menarik lebih banyak penonton.

Menurut Choi, bantuan pemerintah kurang menutupi dampak dari virus corona terhadap bisnis film dan bioskop. Ia berpendapat pemerintah Prancis dan Jerman menjadi contoh yang baik dalam menyelamatkan industri film.

"Korea hanya melakukan tindakan darurat, sementara Prancis dan Jerman mempunyai rencana dan kebijakan penyelamatan yang secara khusus ditujukan untuk mendukung industri perfilman dan budaya," kata Choi Jeong-hwa.  

Ia kemudian berkata, "Bahkan untuk bantuan dari KOFIC, banyak produser dan distributor film yang memerlukan persetujuan Kementerian Ekonomi dan Keuangan. Itu menghalangi efisiensi."

Jaminan Keselamatan

Lebih jauh, Profesor Jurusan Sosiologi Universitas Kookmin, Choi Hang-sub, mengatakan bahwa industri film dan bioskop harus bisa memastikan dan menjamin keselamatan serta kesehatan pengunjung jika kembali ke bioskop setelah pandemi Covid-19 berakhir.

"Kunci mendatangkan kembali pencinta film ke bioskop adalah memastikan kepada mereka bahwa bioskop itu tempat yang aman dan bukan menjadi sumber infeksi," kata Choi Hang-sub.

Sebelumnya, KOFIC sendiri sudah menerbitkan aturan jelang pembukaan kembali bioskop. Selain pengecekan suhu dan penggunaan masker, para pengunjung juga dilarang berbincang-bincang ketika menonton.

Jun Byung-yool, salah satu anggota KOFIC, menyatakan bahwa tingkat penyebaran virus bisa ditekan apabila penonton tidak membuka masker, bahkan hanya untuk makan dan mengobrol dengan pengunjung lainnya.

Sementara itu, pihak bioskop juga diwajibkan untuk mengatur tempat duduk sehingga penonton satu dengan yang lain tetap dalam jarak aman. Studio wajib selalu dibersihkan dan desinfeksi sebelum dan setelah penayangan film.

[Gambas:Video CNN]

Karyawan bioskop wajib mematuhi aturan karantina, seperti langsung mengambil cuti ketika demam, batuk atau menunjukkan gejala Covid-19, serta harus sering mencuci tangan.

Selain jaminan keselamatan, Choi Hang-sub juga menilai industri film dan bioskop perlu melakukan pengembangan konten audio-visual serta teknologi untuk semakin menarik perhatian pencinta film.

Direktur Strategi CGV, Cho Sung-jin, juga mengamini hal ini. Namun untuk dapat melakukan pengembangan tersebut, jaringan bioskop membutuhkan bantuan dana dari pemerintah.

"Untuk mengembangkan perfilman Korea, kita perlu memperluas pasar luar negeri. Kita juga perlu mereformasi anggaran pengembangan film dan meminta bantuan dana tambahan dari pemerintah," tuturnya.

(chri/has)