Drama Thailand, 'Ruang' Berbicara Indonesia dan Asia Tenggara

CNN Indonesia | Minggu, 13/09/2020 15:17 WIB
Meski memiliki bahasa yang berbeda, drama Thailand dianggap lebih mampu berperan sebagai 'ruang' berbicara bagi sebagian penonton Indonesia. Meski memiliki bahasa yang berbeda, drama Thailand dianggap lebih mampu berperan sebagai 'ruang' berbicara bagi sebagian penonton Indonesia. (dok. GMM Grammy/Jungka Bangkok/SOUR Bangkok via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Drama Thailand bukan hanya digemari oleh masyarakat lokal di sana, tapi juga penonton Indonesia. Meski memiliki bahasa yang jauh berbeda, drama Thailand dianggap lebih mampu berperan sebagai 'ruang' berbicara atas masalah kehidupan masyarakat kedua negara.

Akademisi Film Institut Kesenian Jakarta, Satrio 'Pepo' Pamungkas melihat bahwa drama Thailand digemari di Indonesia karena memiliki sisi kehidupan yang tak jauh berbeda. Hal itu yang kemudian mendorong drama Thailand semakin tenar dalam beberapa waktu terakhir.

Mulai dari serial thriller Girl From Nowhere (2018) yang menjadi perbincangan hangat di TikTok hingga yang terbaru Bad Genius the Series, diadaptasi dari film hit Thailand berjudul sama. Di samping itu, genre komedi romantis pun mengisi daftar drama Thailand terfavorit.


"Dari segi fisik, konsep fisik kita lebih mendekati ke Thailand dibanding Korea, dari cuaca juga. Jadi ketika menonton seperti bercermin, ada keserupaan sehingga merasa diwakilkan," kata Satrio.

Dia lanjut menambahkan bahwa selain dari segi fisik, industri Thailand juga memiliki cerita yang kuat dengan kejadian yang digambarkan pun memiliki relevansi dengan kondisi sosial di Indonesia.

Satrio mencontohkan seperti yang digambarkan lewat serial Girl From Nowhere.

Girl from Nowhere secara garis besar mengisahkan Nanno (diperankan Chicha Amatayakul), seorang gadis misterius dan pintar yang kerap berpindah sekolah dan memiliki kemampuan untuk membongkar kebohongan serta kemunafikan yang terjadi di SMA tempatnya bersekolah.

Serial Thailand, Girl From NowhereMeski memiliki bahasa yang berbeda, drama Thailand dianggap lebih mampu berperan sebagai 'ruang' berbicara bagi sebagian penonton Indonesia. (dok. GMM Grammy/Jungka Bangkok/SOUR Bangkok via IMDb)

Di setiap episode, Nanno membawa pada kisah balas dendam, di mana dia akan selalu muncul kembali di sekolah yang berbeda ketika episode baru dimulai.

"Walaupun tokoh Nanno itu entah fiktif atau enggak, tapi ada kejadian yang sama persis di kita. Ada anak yang merasa di-bully, dilecehkan di sekolah. Kasus-kasusnya sama. Akhirnya saya lihat ada pergerakan ada ruang Asia Tenggara yang berbicara. 'Oh mirip kita nih," paparnya.

Menurut Satrio, sebuah karya film atau serial mewakili dari apa yang terjadi di daerah itu sendiri, baik berupa gambaran kehidupan, kasus sosial, serta cerita rakyatnya.

"Di Thailand saya rasa ada kasus seperti itu yang mereka coba angkat dan ternyata di Indonesia melihatnya masih relevan sehingga disukai. Yang kami apresiasi dari Thailand adalah keterbukaan mereka terhadap kasus-kasus dan kondisi sosial yang terjadi di negaranya," katanya.

"Bad Genius itu tabu banget. Mungkin kalau yang diangkat pendidikan kita itu lebih menarik. Mungkin ya. Bad Genius, hal yang tabu tapi mereka terbuka. Jadi Thailand itu negara berkembang tapi cara pikirnya terbuka," tambah Satrio.

Serial Bad Genius menampilkan permasalahan yang serupa dengan filmnya. Lynn seorang siswi cerdas di SMA populer, mencari keuntungan dengan membantu teman-temannya saat ujian, setelah merasa sistem sekolah tidak adil untuk orang sepertinya.

Film Thailand, Bad GeniusSerial Bad Genius menampilkan permasalahan yang serupa dengan filmnya. (dok. GDH 559/Cine Asia Films via IMDb)

Keberhasilan dari awal membantu teman dekat hingga satu kelas melewati ujian sekolah membuat Lynn berani untuk curang dalam tes internasional di Australia.

Kedalaman cerita yang dimiliki drama Thailand itulah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik dramanya, ketika menampilkan ketulusan serta kejujuran pada kondisi sosial yang ada.

Sehingga, Satrio menilai ada adrenalin berbeda dari suguhan drama Thailand.

"Dalam drama Korea didominasi oleh cerita percintaan, perselingkuhan, yang menawarkan kemewahan, keindahan Korea, penonton seperti dimanjakan. Sementara, dalam drama Thailand penonton dibawa 'Oh iya, sekolah gue kayak gini,'" katanya.

Di samping itu, Satrio menyebut segi penggarapan dan pengemasan serial juga menjadi nilai tambah bagi drama Thailand.

Ia menilai Thailand berani dan tak main-main untuk menyuguhkan hasil karya luar biasa. Mulai dari tata cahaya hingga aktor dan aktris yang memainkan, dipikirkan secara matang.

Untuk cerita yang ringan sekalipun, seperti drama 2gether, Satrio melihat serial itu ditampilkan menggunakan teknik yang baik serta kematangan karakter juga akting dari pemainnya.

2gether: The SeriesUntuk cerita yang ringan sekalipun, seperti drama 2gether, Satrio melihat serial itu ditampilkan menggunakan teknik yang baik serta kematangan karakter dan akting pemainnya. (dok. GMMTV via imdb)

"Benar-benar natural tanpa ada tekanan. Benar-benar tulus. Jadi meski ceritanya ringan banget, mungkin seperti sinetron, tetapi ketika garapnya dengan packaging yang baik maka akhirnya jadi luar biasa," tutur Satrio.

Dia kemudian berpendapat bahwa Indonesia sebenarnya mampu dan bukan tak mungkin untuk membuat serial seperti Thailand. Hanya saja, memang dibutuhkan keberanian khususnya dari pihak para produser.

"Sebenarnya bisa banget Indonesia buat kayak gitu. Sangat bisa, seandainya mau. Namun mungkin kekurangannya itu, takut gambling. Kalau rugi gimana, kalau enggak ada yang nonton gimana," katanya.

Satrio lanjut mengatakan, "Kita banyak orang yang memadai, cuma tinggal produser atau dari investor yang berani. Saya rasa akan jadi."

(agn/end)

[Gambas:Video CNN]