Selisik Mitos Bawang Putih Penangkal Vampir dan Drakula

CNN Indonesia | Minggu, 18/10/2020 15:59 WIB
Bawang putih dikenal dan dipercaya sebagai penangkal ampuh terhadap vampir juga drakula, sejak zaman dulu kala. Bawang putih dikenal sebagai penangkal ampuh terhadap vampir juga drakula, sejak zaman dulu kala. (Pixabay/condesign)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salah satu hal yang melekat dengan vampir juga drakula, selain peminum darah manusia, adalah ketakutan mereka akan benda relikui keagamaan, dan bawang putih.

Stigma itu semakin melekat sejak kisah drakula dinarasikan oleh Bram Stoker melalui Dracula pada 1897, meskipun sang empunya ide tidak pernah menginjakkan kaki di tanah Transylvania ataupun Wallachia yang menjadi 'kampung' dari drakula.

Ia hanya mempelajari folklor soal vampir dan makhluk mitologi horor setempat yang dikenal sebagai strigoi dari buku bertajuk An Account of the Principalities of Wallachia and Moldavia yang tersimpan di Perpustakaan Whitby, Inggris.


Pengetahuan tentang folklor vampir dari buku itu kemudian diaplikasikan dalam kisah karakter fiktifnya soal drakula. Salah satunya, soal kelemahan drakula akan bawang putih.

Hal itu terlihat ketika Stoker mengisahkan karakter Dr Van Helsing menyiapkan banyak bawang putih untuk menyelamatkan Lucy Westenra dari Count Dracula.

Penggunaan bawang putih oleh Stoker melalui Van Helsing ini didasarkan atas kepercayaan masyarakat setempat dan Eropa Timur sejak lama bahwa bawang putih itu manjur menangkal roh ataupun kekuatan jahat.

Bukan hanya itu, dari generasi ke generasi masyarakat Eropa Timur, bawang putih juga dianggap bisa menyembuhkan penyakit dan melindungi rumah atau wilayah dari gangguan roh jahat.

Dracula (1931)Salah satu hal yang melekat dengan vampir juga drakula, selain peminum darah manusia, adalah ketakutan mereka akan benda relikui keagamaan, dan bawang putih. (dok. Universal Pictures via IMDb)

Roh atau jadi-jadian jahat macam strigoi dikenal oleh masyarakat Eropa Timur kerap memangsa induk sapi untuk dikonsumsi susunya. Untuk menangkal strigoi dan melindungi ternak, para peternak di Rumania dan kawasan Transylvania lainnya mengoleskan bawang putih di tanduk ternak mereka.

Bukan hanya itu, masyarakat Rumania juga mengonsumsi bawang putih terutama pada malam perayaan Santo Andrew yang merupakan santo pelindung kawasan itu pada 29 November.

Hal itu dilakukan karena masyarakat percaya, bawang putih bisa menjaga mereka tetap aman dari strigoi juga moroi, roh jahat yang menghantui kerabat mereka yang masih hidup.

Kemudian saat Halloween alias akhir Oktober, penduduk desa juga memakan bawang putih dan mengoleskannya di tiap sudut jendela dan pintu.

"Karena khasiatnya yang menyembuhkan sebagai pengobatan alternatif, bawang putih juga telah menjadi atribut dan simbol tanaman ritual yang bisa menangkal kesialan dan roh jahat," kata pakar etnologi Museum Rumania, Ana Iuga, dilansir dari BBC.

Negara yang disebut-sebut menjadi asal drakula ini bahkan memiliki Festival Bawang Putih yang berlangsung beberapa tahun terakhir di Tihuţa Pass, pegunungan Bârgău mountains (Carpathians Timur).

Tempat itu mempertemukan Transylvania dan Bukovina yang sejak lama dianggap sebagai pintu gerbang ke kawasan Count Dracula.

Sindrom Vampir

Terlepas dari kepercayaan masyarakat, secara medis bawang putih memang terbukti dijauhi oleh 'vampir'. Dunia medis menemukan fakta bahwa bawang putih adalah hal terlarang untuk mereka yang menderita porfiria alias sindrom vampir.

Porfiria merupakan gangguan darah yang menyebabkan tubuh tak memiliki cukup enzim untuk menciptakan heme, komponen pada hemoglobin untuk mengangkut oksigen dan menyebarkannya dalam tubuh.

American Porphyria Foundation menjelaskan beberapa perubahan akan jelas dialami penderita porfiria, yang membuat penyakit ini disebut sebagai "sindrom vampir".

Penderita akan mengalami mulai dari insomnia, sensitivitas berlebihan terhadap cahaya matahari bahkan ketika di dalam ruangan dengan jendela hingga terjadi infeksi dan luka. Urine penderita juga berubah warna menjadi kemerahan seperti darah.

Orang dengan porfiria juga mengalami kerusakan pada gusi yang membuat gigi taring jadi lebih terlihat. Rambut penderita juga tumbuh lebat secara tidak normal, dan kadang juga diikuti pada kuku.

Penyakit ini juga membuat penderitanya mengalami anemia parah hingga membutuhkan transfusi darah. Anemia tersebut juga membuat penderita terlihat pucat serta kaki dan tangan yang dingin.

Ilustrasi sel darah merahMenurut Chemical Institute of Canada, bawang putih mengandung Allyl disulfida yang mampu mengaktivasi enzim yang mengambil zat besi pada hemoglobin. (iStockphoto/Design Cells)

Oleh karenanya, penderita porfiria juga disarankan oleh sejumlah dokter untuk mengonsumsi darah demi mengompensasi kerusakan pada sel darah mereka.

Penyakit ini juga membuat jaringan wajah menjadi rusak yang membuat penderitanya cenderung menghindari cermin, persis seperti perilaku vampir dan drakula.

Penderita penyakit ini pun telah lama memiliki hubungan yang 'tak ramah' dengan bawang putih. Menurut Chemical Institute of Canada, bawang putih mengandung Allyl disulfida yang mampu mengaktivasi enzim yang mengambil zat besi pada hemoglobin.

"Karena penderita porfiria sudah memiliki sel darah merah yang tidak berfungsi dengan baik, menurut teori, ini yang menjadi permasalahan mereka dengan bawang putih," tulis CIC.

"Meskipun benar bahwa penderita porfiria mengalami masalah dengan pembentukan hemoglobin, senyawa ini sebenarnya masih ada dalam darah walau dalam jumlah yang sedikit," lanjut mereka.

"Sedangkan masalah pada porfiria bukanlah kekurangan hemoglobin, ini adalah akumulasi dari kerusakan jaringan porfirin. Bagaimana pun, tak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bawang putih harus ditakuti oleh penderita porfiria," tulis CIC.

(chri/end)

[Gambas:Video CNN]




ARTIKEL TERKAIT