Clara Ng Nilai Banyak Hal Hilang pada Literasi Anak Era Kini

CNN Indonesia | Rabu, 02/12/2020 02:35 WIB
Penulis Clara Ng menilai literasi bagi anak-anak kini seolah tak dianggap sebagai sesuatu yang penting sehingga dampaknya terlihat kala pandemi melanda. Ilustrasi literasi anak. Penulis Clara Ng menilai literasi bagi anak-anak kini seolah tak dianggap sebagai sesuatu yang penting sehingga dampaknya terlihat kala pandemi melanda. (robarmstrong2/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penulis Clara Ng menilai dunia literasi anak-anak zaman sekarang jauh berbeda dibandingkan dulu kala. Kini, katanya, literasi bagi anak-anak seolah tak dianggap sebagai sesuatu yang penting sehingga dampaknya terlihat kala pandemi melanda.

Novelis yang juga kerap menulis cerita anak-anak tersebut mengungkapkan keresahannya tersebut kala sesi jumpa media Jakarta International Literary Festival (JILF), Selasa (01/12). Tahun ini, acara literasi tersebut mengambil tema Heroes: (Re)making History.

"Tema Heroes: (Re)making History, saya jadi membandingkan dunia literasi anak-anak dulu dan sekarang banyak hal yang telah hilang," kata Clara Ng.


"Saya melihat saat ini banyak anak-anak yang tumbuh tanpa ada pondasi yang kuat. Apalagi masa pandemi saat ini anak-anak kita dipaksa untuk memahami pandemi dan urusan orang dewasa," tambahnya.

Clara pesimis anak-anak dapat memahami kondisi saat ini melihat masih banyak pihak tidak menyadari pentingnya literasi untuk anak-anak. Bagi Clara, literasi adalah jembatan bagi anak-anak menuju proses pendewasaan dan memahami lingkungan sekitar.

"Jika anak-anak tidak dibiasakan untuk membaca buku, lalu kita memaksa mereka untuk memahami kondisi sekarang sementara mereka tidak memiliki dasar yang kuat, akhirnya mereka harus lompat," kata Clara.

"Jadi saya melihat ada jembatan yang terbakar, jembatan untuk anak-anak untuk menjadi dewasa. Untuk tumbuh menjadi dewasa, anak-anak membutuhkan tangga membaca dimulai sejak dini," lanjutnya.

Clara Ng merupakan salah satu panelis dalam acara Road to JILF 2021. Tahun ini, JILF 2021 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta akan lebih banyak mengangkat topik berkaitan dengan cerita kepahlawanan yang bermunculan selama masa pandemi tapi kurang diperhatikan.

"JILF ingin menjadi sebuah ruang yang terbuka dan berani dalam menembus batasan, terutama dalam upaya menjadi bagian dari sebuah kolektif untuk mereka ulang lanskap sastra dunia yang lebih mudah diakses, beragam, dan setara." ujar kurator JILF, Isyana Arthar.

Gelaran ini rencananya akan berlangsung pada 2021 dan disertai dengan sejumlah rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak November lalu.

JILF juga menyajikan perbincangan sastra melalui Podcast Sastra dan Diskusi Panel dengan empat tema utama meliputi "Sejarah dari Ingatan", "Kekuatan dan Batas Representasi", "Kisah-Kisah Fantastis", dan "Kisah-Kisah Masa Depan".

Tema-tema tersebut akan diperbincangkan bersama 37 orang dengan latar beragam sebagai narasumber dan moderator.

Publik dapat menyimak delapan episode siniar sastra yang dirilis secara berkala sejak 18 November-3 Desember melalui siniar Footnotes from JILF.

Selain itu, JILF juga menyediakan empat seri diskusi panel pada 4-6 Desember 2020 yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Jakarta International Literary Festival sebagai rangkaian dari Road to JILF 2021.

(nly/end)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK