Review Film: Sound of Metal

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 11/12/2020 19:19 WIB
Dengan kekuatan kisah, akting, visual, dan audio kelas wahid, Sound of Metal menjadi mesin empati terhadap komunitas tuli dengan segala kebisingan emosinya. Dengan kekuatan kisah, visual, dan audio kelas wahid, Sound of Metal dapat menjadi mesin empati terhadap komunitas tuli dengan segala kebisingan emosinya. (Dok. Caviar via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

BELAJAR MENJADI TULI.

Guratan kapur tersebut terpampang di papan tulis di sebuah pusat komunitas tuli. Setelah menulis, sang pengajar menoleh seraya menunjuk salah satu pria urakan yang baru saja kehilangan pendengarannya.

Momen tersebut terekam dalam salah satu adegan Sound of Metal dan langsung menggambarkan isi film arahan Darius Marder itu.


Sound of Metal memang berhasil membawa penonton untuk mempelajari dunia orang tuli melalui pengalaman audio visual kualitas wahid.

Melalui kisah musisi yang tiba-tiba kehilangan pendengarannya, penonton seolah belajar beradaptasi menjadi orang tuli bersama sang karakter utama.

Pada akhirnya, penonton dapat mendalami dunia orang tuli dan segala spektrum di dalamnya. Sound of Metal pun menjadi mesin empati yang sempurna terhadap orang tuli dan segala kebisingan batinnya.

Secara garis besar, Sound of Metal bercerita tentang Ruben Stone (Riz Ahmed), seorang penabuh drum metal yang tiba-tiba kehilangan pendengarannya.

[Gambas:Youtube]

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kemampuan pendengaran Ruben ternyata sudah tak mencapai 30 persen dari orang biasa. Dokter menasihati Ruben agar menghindari segala kebisingan agar kondisi telinganya tak semakin parah.

Sempat tak rela, Ruben pun harus meninggalkan dunia lamanya sejenak dan belajar menjadi orang tak bisa mendengar di salah satu pusat komunitas tuli pimpinan Joe (Paul Raci).

Mesin empati Sound of Metal sudah mulai bekerja sejak awal. Film dibuka dengan segala pengalaman menyenangkan Ruben bersama kekasihnya, Lou (Olivia Cooke). Mereka membentuk band duo bernama Blackgammon.

Mereka bersenang-senang ketika menggelar tur lewat jalur darat menggunakan karavan. Ruben dan Lou konser bersama dan ketika turun panggung, mereka menjalani hidup bahagia di dalam karavan, berdansa dan bercanda sambil mendengarkan musik.

Sound of MetalKaravan di Sound of Metal. (Dok. Caviar via IMDb)

Hingga satu waktu, Ruben didiagnosis mengalami penurunan fungsi pendengaran dan mengharuskannya rehat dari segala kebisingan.

Pergerakan antar-adegan begitu cepat sehingga penonton dapat merasakan kontras kehidupan penuh ingar bingar dan keheningan.

Perubahan tersebut membawa penonton perlahan masuk ke dalam dunia Ruben dan bersama-sama dengan Ahmed tenggelam dalam kekalutan.

Ahmed begitu piawai memperlihatkan nuansa dalam aktingnya sehingga penonton dapat merasakan perubahan naik turun emosi hanya melalui sorot mata, mimik, dan gestur tubuh.

Tak heran ketika banyak pihak menganggap Sound of Metal merupakan salah satu penampilan terbaik Ahmed sepanjang karier aktingnya.

Ahmed memang selalu tampil prima. Namun dalam Sound of Metal, ia dapat menunjukkan lebih banyak lapisan emosi ketimbang karya-karyanya sebelumnya.

Ambil contoh aktingnya dalam The Night Of, serial HBO yang membuatnya meraih trofi Emmy Awards. Dalam serial itu, Ahmed memang dapat menggambarkan kekalutan pemuda Amerika-Pakistan yang terseret kasus pembunuhan dengan sangat baik.

Namun, kerumitan jiwa pemuda dalam serial The Night of itu tidak sekompleks Ruben. Dalam Sound of Metal, Ahmed berhasil menampilkan segala sisi kepribadian Ruben itu dengan memukau.

Sound of MetalRuben di Sound of Metal. (Dok. Caviar via IMDb)

Tak hanya dari segi emosi, Ahmed juga sangat total dalam memainkan instrumen drum. Permainannya begitu meyakinkan sampai-sampai menuai pujian dari penabuh drum Metallica, Lars Ulrich.

"Saya selalu mencari kesalahan jika menonton film tentang orang yang bermain drum. Selalu ada saja yang bisa dicela. Namun, Ahmed menunjukkan permainan yang sempurna, apalagi dengan kenyataan bahwa ia kidal," kata Ulrich dalam salah satu diskusi.

Kemampuan Ahmed menabuh drum semakin menonjol berkat pengambilan gambar "live" saat Blackgammon tampil di setiap konser.

Sebagai sutradara, Darius Marder sangat jeli dalam memilih metode pengambilan gambar agar dapat merekam emosi yang ingin ditonjolkan.

Dalam kebanyakan film, penampilan panggung biasanya direkam menggunakan teknik tidak langsung dengan pengambilan gambar tiap personel yang terpisah.

Ketika proses rekaman vokalis, misalnya, hanya sang penyanyi yang disorot, sementara personel lainnya berpura-pura memainkan instrumen di latar belakang. Pengambilan gambar seperti ini kerap tak dapat merekam emosi secara berkesinambungan.

Sound of MetalSound of Metal. (Dok. Caviar via IMDb

Bukan hanya proses pengambilan gambar, Marder juga sangat mahir membuat penonton terhanyut dalam petualangan Ruben dengan menampilkan terjemahan di saat yang tepat.

Saat awal Ruben baru masuk ke komunitas tuli, Marder tak menyediakan terjemahan bahasa isyarat yang digunakan orang di sekitarnya. Sama seperti Ruben, penonton sama-sama menebak maksud para anggota komunitas tuli melalui gerak-geriknya.

Setelah Ruben berhasil memahami, Marder baru menyediakan terjemahan bahasa isyarat sehingga penonton seolah beradaptasi bersama sang karakter utama.

Ketika Ruben sudah dapat berbaur, interaksi Ahmed dengan para aktor tuli di sekitarnya begitu natural. Marder memberikan ruang besar untuk para anggota komunitas tuli menunjukkan jati dirinya dan menjadi manusia biasa.

Dengan demikian, penggambaran komunitas tuli tak seperti film-film pada umumnya yang hanya memperlihatkan mereka sebagai orang-orang protagonis dan lemah.

Dalam Sound of Metal, para anggota komunitas bahkan bisa menunjukkan sisi "nakal" dengan kisah-kisah saat mereka menjadi pencandu narkoba, atau sekadar cerita asmara dan hasrat seorang lesbian.

"Film ini dapat memberikan gambaran kekayaan komunitas tuli, keberagaman kebudayaan tuli. Ingat, komunitas tuli juga bisa menjadi bad ass!" ujar salah satu aktor tuli dalam Sound of Metal, Chelsea Lee.

Sound of MetalInteraksi Ruben dan komunitas tuli di Sound of Metal. (Dok. Caviar via IMDb

Keberagaman komunitas tuli ini dapat terekam sempurna berkat keluwesan Marder menggandeng Jeremy Lee Stone.

Stone sebenarnya merupakan pelatih bahasa isyarat untuk Ahmed. Namun, ia berperan besar dalam memberikan saran adegan ketika berinteraksi dengan komunitas tuli sehingga semua terasa begitu natural.

Tak banyak sutradara yang bisa memberikan ruang luas bagi pihak luar. Namun, dengan pengalamannya sebagai sutradara film dokumenter, Marder paham betul cara menggandeng pihak tertentu agar dapat menggambarkan satu subjek sesuai dengan kenyataan.

Di sisi lain, Marder juga menyuguhkan pengalaman total bagi penonton agar dapat benar-benar merasakan dunia orang tuli melalui eksperimen desain suara dalam Sound of Metal.

Terkadang, atmosfer dalam film ini terasa begitu hampa dengan audio yang kedap suara. Ada kalanya pula, terdengar banyak "noise" dari alat bantu dengar.

Idealnya, film ini memang seharusnya tayang di bioskop agar pengalaman audio benar-benar terasa, tapi pandemi Covid-19 masih melanda. Jika menonton di layanan streaming, pastikan gunakan headphone.

Acung jempol untuk Nicolas Becker yang bersusah payah melakukan riset bertahun-tahun hingga ke Prancis, kemudian merampungkan proses ramu rekam dalam 23 pekan.

Tak hanya bagi penonton umum, Marder juga sangat memikirkan komunitas tuli. Ia menyediakan "Close Caption (CC)" atau terjemahan yang juga memberikan keterangan berbagai suara di tiap adegan sehingga komunitas tuli dapat mengikuti cerita dengan baik.

Terjemahan ini kerap dianggap mengganggu bagi orang pada umumnya. Namun, sebagai sineas yang memiliki ibu tuli, Marder tak peduli dengan kata orang.

Film akhirnya ditutup sempurna dengan adegan tanpa dialog dan terjemahan apa pun, menyuguhkan pengalaman yang dapat dirasakan semua pihak, baik tuli ataupun tidak. Keheningan.

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK