Review Film: The Call

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 04/12/2020 19:30 WIB
Review The Call menilai film ini digarap dengan serius oleh Lee Chung-hyun dengan menggunakan alur cerita yang mampu membuat penonton tak bisa menduga. Review The Call menilai bahwa film ini digarap dengan serius oleh Lee Chung-hyun dengan menggunakan alur cerita yang mampu membuat penonton tak bisa menduga. (dok. Next Entertainment World via Hancinema)
Jakarta, CNN Indonesia --

Agaknya niat penulis dan sutradara The Call, Lee Chung-hyun, bukan hanya ingin membuat film thriller, melainkan mempermainkan nalar dan emosi penonton terutama usai menyaksikan film yang ditayangkan di Netflix itu.

Lee Chung-hyun memporak-porandakan nalar penonton yang susah payah mengikuti jalan cerita dari film 112 menit tersebut, berpindah melintasi waktu, dan mempersiapkan diri akan berbagai kejutan yang muncul.

Bahkan hingga sesi kredit pun, penonton tak dibiarkan menutup tab Netflix dengan damai kala satu per satu nama pemain bermunculan.


Lupakan alur maju-mundur, lupakan alur konvensional kronologi maju ke depan, ataupun alur paralel ala-ala waralaba film ber-semesta. Lee Chung-hyun yang mengadopsi film ini dari film Puerto Rico, The Caller (2011), tampak sesuka hati membuat alur film ini.

The Call mengisahkan perjalanan mengerikan yang dialami oleh Kim Seo-yeon (Park Shin-hye) ketika mengunjungi rumah masa kecilnya di sebuah desa kala ibunya, Eun-ae (Kim Sung-ryung), sakit keras.

Kala mengunjungi rumah yang telah ditinggal lama itu, Seo-yeon menerima sebuah panggilan misterius pada telepon rumahnya. Panggilan itu berasal dari seorang gadis bernama Oh Young-sook (Jeon Jong-seo).

Setelah beberapa kali berkomunikasi, Young-sook rupanya adalah penghuni rumah tersebut sebelum ditempati oleh keluarga Kim. Hubungan komunikasi itu pun terjadi melintasi waktu, Seo-yeon di masa kini, sedangkan Young-sook dari 1999.

Seo-yeon yang membenci ibunya semenjak ayahnya meninggal karena kebakaran rumah, seolah menemukan teman dari sosok Yeong-sook yang mengaku menjadi korban kekejaman ibunya sendiri, Ja-ok (Lee El).

Bukan hanya menjadi teman mengobrol, pertemanan keduanya banyak mengubah alur waktu kehidupan mereka. Hingga kemudian, pertemanan mereka berubah menjadi beragam teror menakutkan yang berdampak luas.

Film Korea The CallReview The Call menilai bahwa film ini digarap dengan serius oleh Lee Chung-hyun dengan menggunakan alur cerita yang mampu membuat penonton tak bisa menduga. (dok. Next Entertainment World via Hancinema)

Sutradara dan penulis Lee Chung-hyun pun memilih pola time-slip dengan alur yang tak terduga untuk menunjukkan teror-teror tersebut sepanjang film ini.

Namun apakah keputusan Lee Chung-hyun itu lantas membuat film ini mendapat penilaian buruk dari saya? Saya rasa tidak. Film ini jelas hasil pemikiran seksama dari Lee soal gaya penuturan ceritanya dari awal hingga akhir.

Hal itu terlihat dari bagaimana Lee sukses menggiring opini penonton pada sebuah alur cerita yang kemudian, dengan kejam, ia hempaskan lagi ke sebuah plot baru dan tak disangka.

Apalagi, ketika jalan cerita berada di babak penentuan yang digambarkan dengan adegan di tempat pembuangan sampah dan investigasi polisi di rumah tua tersebut.

Pada babak ini, penonton saya rasa hanya dihadapkan dua pilihan: menonton tanpa memikirkan ujungnya supaya tidak pusing, atau penasaran kemudian memikirkannya dan terjebak oleh alur 'usil' dari film ini.

Film Korea The CallReview The Call menulis, film ini mengisahkan perjalanan mengerikan yang dialami oleh Kim Seo-yeon (Park Shin-hye) ketika mengunjungi rumah masa kecilnya di sebuah desa kala ibunya, Eun-ae (Kim Sung-ryung), sakit keras.: (dok. Next Entertainment World via Hancinema)

Saya semula memilih opsi pertama. Hingga kemudian, saya menutup tab Netflix dengan perasaan bingung bahkan hingga merenung mencerna adegan paling akhir yang saya lihat.

Dengan konsep penuturan seperti itu, jelas penggarapan naskah tidak bisa main-main karena bila tidak, penonton sudah 'mental' dari sesi awal film.

Walaupun, saya juga tidak bisa mengatakan film ini sempurna karena bila diperhatikan secara seksama, Lee tampaknya keserimpet pada latar waktu sejumlah adegan yang berkaitan dengan dunia paralel. 

Kemudian apakah The Call film yang menyenangkan? Saya kembali harus menyebut: bagi saya tidak. Semua karena perasaan lega dan hangat yang saya rasakan kala film berakhir dengan tega direnggut oleh Lee Chung-hyun.

Untuk hal itu, saya rasanya ingin mencoret naskah dengan spidol merah dan membuang ide jahil Lee pada film ini. Mana mungkin saya menyebut film ini menyenangkan kalau saya gemas ingin merombak naskah itu dari mereka?

Akan tetapi, untuk sebuah tontonan film thriller, The Call patut masuk dalam daftar rekomendasi.

Berbeda dengan thriller lain yang hanya mengandalkan aksi mencekam pembunuhan, kejar-mengejar, apalagi mistis, The Call memadukan itu semua dengan gaya penuturan yang sangat cerdik.

Salah satu hal yang juga mendukung penuturan itu dari film ini adalah kualitas akting dari para pemain, terutama Park Shin-hye dan Jeon Jong-seo yang memerankan dua karakter utama perempuan The Call.

Berkat keduanya pula, pesan Lee untuk menampilkan karakter perempuan yang kuat dan menguasai situasi bisa tampilkan dengan baik. Menurut saya, inspirasi Kill Bill yang diambil oleh Lee sukses membantu ia menyempurnakan The Call.

"Saya ingin membuat karakter penjahat perempuan yang kuat karena itu jarang ditemukan dalam film-film Korea. Saya sangat tertarik mengisahkan perempuan yang tidak stabil tapi mampu mengobrak-abrik dunia yang tertata rapi." tutur Lee Chung-hyun.

[Gambas:Youtube]



(end)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK