Review Serial: The Queen's Gambit

CNN Indonesia | Jumat, 13/11/2020 19:14 WIB
The Queen's Gambit, film tentang pecatur yang sangat baik membuat orang penasaran tentang permainan catur. Review film The Queen's Gambit. (Arsip Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak perlu bisa catur, apalagi jago untuk menikmati film Queen's Gambit. Film ini bukan tentang catur, melainkan kisah pecatur wanita, grand master asal Amerika Serikat.

Adalah Elizabeth Harmon, seorang anak panti asuhan yang tumbuh menjadi pecatur dunia paling ditakuti.

Tentu saja film yang tayang di Netflix ini hanya cerita fiktif. The Queen's Gambit ini diangkat dari novel karya Walker Tevis.


Catatan redaksi, review ini sarat spoiler sehingga tak disarankan bagi pembaca yang ingin menonton tanpa bocoran.

Beth menjalani masa kecil suram. Sang ibu bunuh diri dengan menabrakkan mobil ke truk. Beth yang kala itu masih lima tahun, selamat dalam kecelakaan itu.

Sang ibu bunuh diri karena ditolak kembali oleh pasangannya. Mereka sempat bertengkar lima tahun sebelum sang ibu datang ke rumah ayah Beth.

Dari pertengkaran keduanya, sang ibu dan ayah tampaknya memiliki latar belakang sebagai akademis.

Hidup sebatang kara, Beth harus tinggal di sebuah panti asuhan. Trauma akibat kecelakaan itu membuat kepribadian Beth sangat dingin dan tertutup.

Dia sulit sekali membaur dengan anak-anak panti asuhan lain. Hanya Jolene, remaja berkulit hitam yang kerap menyapa dan ingin berteman dengan Beth kecil.

Jolene pula yang memberi saran agar meminum pil penenang sebelum tidur. Setiap anak-anak panti asuhan memang disediakan dua pil: satu vitamin dan satunya lagi penenang.

The Queen's Gambit.Cuplikan film The Queen's Gambit. (Arsip Netflix)

Petugas memberikan pil itu untuk segera diminum anak-anak panti asuhan setiap hari.

Beth benar-benar menikmati imajinasinya setelah ia meminum pil itu di dipan panti asuhan sebelum tidur. Sembari menatap langit-langit, dia bisa mengkhayalkan apapun.

Suatu ketika Beth bertemu Mr Shaibel, petugas kebersihan panti asuhan di rubanah ketika ia ditugaskan guru untuk membersihkan penghapus papan tulis. Beth melihat keasyikan Mr Shaibel memainkan catur seorang diri.

Beth langsung jatuh hati dengan permainan catur. Ia meminta sang petugas gaek itu mengajarkan dan mengajaknya bermain.

Mr Shaibel tentu menolak. Pasalnya, permainan catur tak pantas dimainkan perempuan, apalagi anak kecil. Dengan set waktu era 1960-an, catur dianggap sebagai permainan pria dewasa.

Mr Shaibel akhirnya menyerah membendung keinginan kuat Beth. Ia mengizinkan Beth bermain catur dengannya. Pria tua itu bahkan mengajarkan permainan catur. Salah satunya trik Pertahanan Sisilia dalam catur.

Seiring waktu, Mr Shaibel justru kagum dengan kecerdasan Beth yang luar biasa. Awalnya lelaki tua itu mudah sekali mengalahkan Beth. Lama-kelamaan giliran Beth yang selalu menang dari teman main caturnya itu.

Sampai suatu ketika Mr Shaibel memberi tahu seorang guru dan ahli catur sekolah menengah atas di wilayah itu. Tertarik dengan kemampuan Beth, sang guru mengajaknya bergabung di klub catur sekolahnya.

Luar biasanya, Beth mampu mengalahkan sekitar 10 siswa klub catur dalam sekali main. Ya, Beth digilir melawan mereka sekaligus dan menang.

Beth sempat jauh dari kecintaannya itu ketika sepasang suami-istri mengadopsinya saat Beth berusia remaja. Allston dan sang istri, Alma Wheatly, memilih mengadopsi anak usia remaja.

Awalnya Beth senang karena bisa tinggal di rumah yang layak. Apalagi, ia punya kamar sendiri. Namun, Beth mulai merasakan ketidakharmonisan dua orang tua angkatnya itu. Allston pergi meninggalkan Wheatly.

Beth hanya tinggal dengan ibu angkat yang agak cuek dan enggan mengurus rumah layaknya ibu rumah tangga. Beth kemudian menyusun rencana untuk ikut lomba catur berhadiah US$100 untuk pemenang.

Dia menyurati Mr Shaibel untuk meminjam uang US$5. Beth berjanji akan mengembalikan sebesar US$10 jika ia menang. Permintaan Beth dikabulkan, ia mendapat pinjaman dari guru sekaligus mantan teman main caturnya.

Dari situlah nasib Beth berubah menjadi lebih baik. Sang ibu angkat bahkan menawarkan diri menjadi manajernya dengan komisi 20 persen dari penghasilan Beth di kompetisi catur.

Singkat cerita, karier Beth terus menanjak. Bak bidak catur, setapak demi setapak, langkahnya kian agresif.

Singkat cerita, Beth tembus hingga ke level US Open atau Amerika Serikat dengan mengalahkan jawara catur AS, Benny Watts. Tahun sebelumnya, Beth kalah dari Watts di US Open.

Beth kemudian diundang di kejuaraan dunia catur di Meksiko. Di sana lah dia bertemu jawara terkuat dunia asal Uni Soviet, Vasily Borgov.

Beth kalah dari Borgov di sana. Lebih menyakitkan lagi, Beth kehilangan ibu angkat sekaligus manajernya, Wheatley, karena penyakit hepatitis.

Kebiasaan buruk Beth yang kecanduan alkohol dan pil penenang, jadi salah satu faktor dia kalah dari pecatur asal Rusia itu.

Di samping itu, baru terungkap bahwa pecatur Uni Soviet selalu bekerja sama secara tim membantu jagoan mereka untuk mengalahkan lawan-lawan. Dalam hal ini, Borgov tak sendiri. Dia dibantu kompatriotnya menyusun strategi untuk menaklukkan lawannya.

Sejumlah mantan lawannya dari AS menyadari hal itu. Alhasil, Watts, Townes, dan Harry Beltik pada akhirnya membantu Beth untuk mengalahkan Borgov.

Borgov bisa dikalahkan setahun kemudian di kandangya sendiri, Moskow. Sukses itu berkat bantuan mantan lawan yang merupakan kompatriot Beth dalam menyusun strategi.

Sebagai orang awam yang pas-pasan kemampuan caturnya, menonton The Queen's Gambit tetap asyik buat saya. Tak perlu jagoan catur untuk memahami film itu.

Sebaliknya, The Queen's Gambit justru mengundang penasaran penonton seperti istri saya yang sama sekali tak bisa main catur.

"Ayo ayah, kapan-kapan lah kita beli catur," ujarnya begitu bersemangat usai menonton film The Queen's Gambit.

Sungguh langkah apik bagi The Queen's Gambit mempromosikan permainan catur bagi orang-orang awam.

Meski demikian, ada beberapa cerita yang masih misterius dari sejumlah adegan. Di antaranya adalah sosok ayah kandung Beth yang belum terungkap. Hingga Beth tenar, sosok ayahnya tak juga muncul.

Cerita Townes yang merupakan cinta sejati Beth juga masih buram. Belum jelas bahwa mantan pecatur yang jadi pandit di majalah catur itu menolak atau menyambut cinta Beth.

"Dia itu sebenarnya hetero atau enggak sih orientasinya?" ujar rekan kantor saya mengomentari kisah cinta dan pertemanan Townes dan Beth.

Bisa jadi kisah-kisah tersebut terjawab di musim kedua The Queen's Gambit.

Kisah pecatur bocah dan wanita asal Uni Soviet juga bisa jadi bakal muncul di musim kedua. Bahkan mereka bisa saja menjadi musuh terkuat di musim berikutnya.

Ada pula adegan yang menurut saya cukup janggal. Salah satunya para penggemar Beth di Moskow yang mayoritas wanita berebut minta tanda-tangan sang pecatur asal AS tersebut.

Saya sulit membayangkan di era Perang Dingin antara AS dan Soviet di tahun 1960-an, begitu bebasnya orang-orang Soviet mengidolakan pecatur asal negara rival.

Namun, sejujurnya adegan itu mampu menggugah emosi penonton tentang sosok heroik Beth sebagai wanita pertama jawara catur dunia.

Film ini juga jadi salah satu jenis film yang menyentil isu-isu feminisme. Seorang perempuan lahir jadi pecatur dunia di negara yang cenderung meminggirkan kaum wanita dari permainan itu pada era 1960-an.

Anya Taylor-Joy juga sangat apik memerankan karakter Beth sebagai pecatur jawara dunia yang sangat ambisuis dan dingin, namun penuh gejolak.

(bac/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK