Kisah Miris Saung Angklung Udjo: Banyak Pekerja Dirumahkan

hyg, CNN Indonesia | Jumat, 22/01/2021 13:03 WIB
Cerita 'nada-nada minor' Saung Angklung Mang Udjo di tengah pandemi Covid-19 dan kini terancam tutup. Saung Angklung Udjo kini hanya menyisakan beberapa pekerja dan pengrajin di masa pandemi. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Bandung, CNN Indonesia --

Cerita Saung Angklung Udjo (SAU) yang tersohor hingga mancanegara pernah membuat publik Indonesia bangga.

Upaya sanggar tersebut ikut membantu memperkenalkan alat musik angklung khas Jawa Barat itu ke penjuru dunia. Salah satu terobosan mendiang Mang Udjo adalah memodifikasi notasi nada angklung dari Pentatonis ke Diatonis (tujuh nada) seperti halnya alat musik macam gitar atau piano.

Masyarakat umum pun bisa memainkan musik tertentu dengan instrumen angklung. Terlebih penampilan itu bisa dilakukan secara serempak oleh sejumlah orang.


Berkat itu pula Saung Angklung Udjo di Bandung kerap kebanjiran pengunjung yang penasaran untuk memainkan angklung. Tak tanggung-tanggung, bahkan turis mancanegara juga ikut meramaikannya.

Bahkan, jawara dunia MotoGP Marc Marquez pernah berkunjung ke Saung Angklung Udjo. Ia begitu menikmati memainkan alat musik tradisional dari bambu tersebut secara bersama.

Situasi berubah 180 derajat di masa pandemi virus corona (Covid-19). 'Nada-nada minor' alias miris kini yang terdengar dari kisah Saung Angklung Udjo.

Saung Udjo terancam tutup. Pemasukan kurang dari kunjungan dampak dari pembatasan aktivitas masyarakat membuat destinasi wisata berbasis seni dan budaya di Kota Bandung itu semakin terseok-seok dalam memenuhi operasional.

Pebalap MotoGP Marc Marquez memainkan angklung saat kunjungan di Saung Angklung Udjo, Bandung, Jawa Barat, Minggu (10/2/2019). Marc Marquez dikenalkan dan bermain alat musik tradisional yang terbuat dari bambu tersebut. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama.Pebalap MotoGP Marc Marquez pernah berkunjung ke Saung Angklung Udjo pada 10 Februari 2019. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama)

Direktur PT SAU Taufik Hidayat Udjo mengatakan, kunjungan ke SAU menurun drastis sejak Maret 2020 lalu. Di mana biasanya para tamu di SAU berasal dari turis mancanegara dan siswa-siswi sekolah dari berbagai daerah di Indonesia.

"Biasanya tamu 2.000 orang per hari, sekarang 20 orang per minggu saja sulit," tutur Taufik mengeluhkan, Kamis (21/1).

Dampak dari penurunan kunjungan SAU, sekitar 1.000 pekerja dan pengrajin yang menggantungkan hi­dupnya di saung yang beralamat di Jalan Padasuka itu sebagian besar terpaksa dirumahkan.

Mayoritas mereka yang kehilangan mata pencaharian merupakan masyarakat sekitar, mulai dari seniman hingga pe­rajin angklung dan penyedia suvenir.

"Sekarang semuanya itu 90 persen lebih berhenti total. Logikanya sekarang siapa yang mau pakai? Kan angkung itu biasanya dipakai sifatnya massal [grup]," kata Taufik.

Salah satu yang paling terdampak adalah produksi angklung. Terhitung sejak pertengahan Maret tahun lalu, aktivitas produksi angklung terhenti lantaran terbentur dengan pembatasan kegiatan masyarakat. Peminat sepi, produksi terpaksa terhenti.

"Mulai berhenti produksi ya sekitar Maret sudah mulai. Sempat ramai untuk Agustus karena ada proyek pengadaan dengan pemerintah. Tapi setelah itu tidak produksi lagi," ungkap Taufik.

Pusat kerajinan bambu dan workshop untuk alat musik bambu di SAU sendiri biasanya memproduksi angklung hingga ke mancanegara. Tercatat angklung produksi SAU pernah diekspor ke beberapa negara di Asia seperti Korea Selatan hingga ke Amerika Serikat.

"Paling tidak hampir 5.000 pcs per bulan. Tapi sudah lama terhenti, jadi sekarang ini pengrajin berhenti memproduksi (angklung). Ada yang berjualan, ada yang berkenun," kata Taufik.

(bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK