Jalaluddin Rumi, Sang Sufi 'Perajut' Syair dalam Syiar Islam

CNN Indonesia | Senin, 19/04/2021 16:16 WIB
Maulana Jalaluddin Rumi Sang Penyair muslim dan salah satu tokoh sufi besar dalam islam. Profil Jalaluddin Rumi, toko tasawuf 'perajut' syair dalam syiar Islam. (CNNIndonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Maulana Jalaluddin Rumi adalah tokoh legendaris dalam dunia filsuf. Ia dikenal sebagai sang 'perajut' syair terindah dan salah satu tokoh sufi besar dalam syiar Islam.

Dalam islam, Sufi merupakan orang yang mendedikasikan dirinya dalam dunia Tasawuf. Sementara Tasawuf merupakan sebuah jalan untuk mendekat dan melekatkan hati kepada Tuhan, bukan hanya penekanan pada sisi syariat.

Jalaludin Rumi sebenarnya merupakan nama julukan. Sang penyair sufi ini bernama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad bin Husin Al Khatihbi Al Bakri.


Nama julukan "Rumi" karena ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Kota Konya (sekarang bagian dari Turki), atau dahulu dikenal dengan sebutan Rum.

Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh (sekarang adalah wilayah Afghanistan). Sejak kecil ia dikenal dengan panggilan Rumi. Ia terlahir dari keluarga yang berpendidikan tinggi. Ayahnya, Bahaduddin Walad, merupakan seorang ahli ilmu agama, ahli hukum dan juga ahli ilmu kebatinan.

Hal tersebut menjadi latar belakang alasan Rumi menjadi sangat dekat dengan ilmu agama dan ilmu kebatinan. Tak hanya itu, Rumi juga banyak mempelajari tentang pemikiran Sufi.

Salah satu pemikiran Rumi yang paling mendunia adalah tentang tawakkal. Konsep tawakkal yang dikembangkan oleh kalangan sufi kadang kala lebih condong pada tawakkal paham Jabariyah, yaitu menggantungkan segalanya kepada Allah SWT.

Namun bagi Rumi, tawakkal bukanlah penerimaan pasif, tapi usaha aktif seseorang dengan menggunakan kekuatan memilih. Dia menyatakan taburkan benih, lalu berserahlah kepada yang Maha Kuasa.

Pandangannya tentang tawakal dapat dilihat dari dialog yang ia sajikan dalam buku Masnawi, Senandung Cinta Abadi yang berbunyi:

Sekumpulan binatang itu berkata kepada singa, "tidak ada kerja yang lebih baik selain percaya kepada kehendak Tuhan; apakah yang lebih karib kepada Tuhan; selain kepasrahan? Sering orang lari dari penderitaan untuk jatuh lagi pada penderitaan; sering orang menghindar dari ular untuk berjumpa naga. Pandangan-Nya ditujukan kepada kita semua, apakah sebagai gantinya? Di dalam pandangannya akan kau miliki seluruh saran dan keinginan mu".

Kata Singa, "Tetapi Tuhan dari hamba-Nya telah memasang tangga di depan kita. Selangkah demi selangkah kita harus mendaki menuju atap; menjadi orang yang pasrah adalah harapan yang tolol."

Selanjutnya dalam syair yang lain, Rumi menjelaskan tentang kepasrahan seorang hamba kepada Sang Kekasih:

Bila awan tidak menangis, mana mungkin taman bisa tersenyum. Sampai anda telah menemukan rasa sakit, anda tidak akan mencapai obatnya. Sampai hidup anda sudah menyerah, anda tidak akan bersatu dengan jiwa tertinggi Sampai anda telah menemukan api dalam diri anda, Seperti teman, anda tidak akan mencapai musim semi kehidupan.

Rumi menafsirkan tawakal bukanlah penerimaan pasif akan tetapi usaha aktif dari seseorang dengan menggunakan daya dan kemampuan yang ia miliki, dan jangan pasrah terhadap nasib.

Rumi membantah pandangan masyarakatnya pada waktu itu yang salah memahami tawkkal sebagai penyerahan total terhadap takdir Tuhan.

Di sisi lain, Rumi menjelaskan bahwa apabila seorang hamba telah lebur dalam cintanya kepada Sang Pencipta, maka ia tidak lagi merasa memiliki kemampuan, baik tangan maupun kaki, dan menggantungkan semua harapannya kepada Sang Pencipta sebagaimana yang dijelaskannya dalam buku Fihi Ma Fihi.

Tawakal menurut Rumi juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda tergantung ilmu dan kemampuan seseorang.

Pemikiran Rumi dalam kitab Masnawi disebut -sebut sebagai karya sastra terbesar dan paling murni yang dimiliki oleh bangsa Persia. Kitab ini telah dicetak berulang kali oleh berbagai penerbit.

Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Bahkan makam Rumi di Konya, Turki, masih dikunjungi para penggemarnya dari berbagai negara, bukan hanya dari umat Islam tetapi juga dari umat-umat agama lain selain Islam.

(nly/bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK