Kelindan Sinetron Lorong Waktu dengan Peristiwa Isra Miraj
adp | CNN Indonesia
Minggu, 18 Apr 2021 11:32 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Adegan khas dalam sinetron Lorong Waktu (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pak Haji siap? Zidan siap? Bismillahirrahmanirrahim...
Penggalan kalimat di atas merupakan salah satu dialog ikonis Ustaz Addin dalam sinetron religi Lorong Waktu. Setelah mengucap kalimat tersebut, ia akan menekan tombol enter pada kibor komputer, Haji Husin dan Zidan pun akan masuk ke lorong waktu.
Mereka berdua akan mendarat di waktu dan ruang yang berbeda, bisa masa lalu atau masa depan. Yang pasti, mereka menjalankan misi yang selalu mengandung pesan moral. Sebagian generasi yang tumbuh pada awal dekade 2000-an tidak asing dengan Lorong Waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adalah Deddy Mizwar sosok di balik sinetron legendaris itu. Ia berperan sebagai prosuder, sutradara, sekaligus pemeran Haji Husin dalam sinetron yang mengudara selama enam musim dalam kurun waktu delapan tahun dari 1999 sampai 2006 ini.
Tanpa basa-basi Deddy menjelaskan Lorong Waktu terinspirasi peristiwa sejarah Islam, Isra Miraj. Pada peristiwa itu Nabi Muhammad SAW diberangkatkan oleh Allah SWT untuk melakukan perjalanan dalam satu malam yang sulit dimengerti dengan logika.
Dalam Isra, Nabi Muhammad diberangkatkan dari Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Kemudian dalam Miraj, Nabi Muhammad dinaikkan ke langit Sidratulmuntaha bersama Malaikat Jibril untuk mendapat perintah salat lima waktu dari Allah.
Pak Haji Husin (Deddy Mizwar) dalam Sinetron Lorong Waktu (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
"Beberapa sahabat kala itu tidak percaya Nabi melakukan Isra Miraj. Sekarang sudah terbukti, enggak usah pakai bismillah dari Mekah ke Masjidil Aqsa naik pesawat supersonik enggak sampai lima menit," kata Deddy saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Melihat lebih dalam, Lorong Waktu bukanlah sekadar sinetron religi yang terinspirasi dari Isra Miraj, melainkan juga sinetron fiksi ilmiah. Bagaimana tidak? dalam Lorong Waktu terdapat teknologi yang memungkinkan seseorang melakukan perjalanan ruang dan waktu.
Bahkan, terdapat alat komunikasi yang canggih bak film Star Trek atau film fiksi ilmiah lain. Alat ini sering diperlihatkan ketika Ustaz Addin memberi arahan kepada Haji Husin dan Zidan, mereka berkomunikasi lewat jam tangan.
Perjalanan waktu dan kecanggihan teknologi itulah yang dimanfaatkan oleh Deddy dan penulis naskah Wahyu H. S. untuk membuat cerita yang 'liar', di mana mereka bisa berdakwah secara tidak langsung lewat berbagai adegan.
Misalnya ketika Ustaz Addin mengirim Haji Husin dan Zidan ke masa di mana Malin Kundang hidup.
Malin Kundang sendiri merupakan cerita rakyat dari Sumatra Barat yang sangat terkenal, mengisahkan Malin Kundang yang durhaka pada ibunya ketika ia sudah sukses, alhasil ibunya sangat kesal hingga mengutuk Malin Kundang menjadi batu.
Lewat episode tersebut, Deddy bermaksud menyampaikan pesan bahwa seoran ibu jangan cepat menyumpah anaknya. Di sisi lain, seorang anak jangan durhaka kepada orang tua. Intinya, ia ingin megkritisi cerita rakyat yang sudah dikenal sejak dulu.
"Superman yang sudah tua juga ada. Ia tidak bisa menebak cuaca ketika terbang karena ozon sudah bolong. (Lorong Waktu) Bisa mengkritisi banyak hal. Jadi, sangat luas sesuatu yang ingin kami sampaikan," kata Deddy.
Selain religi dan fiksi ilmiah, unsur komedi juga terasa kental dalam lorong waktu. Mantan wakil gubernur Jawa Barat ini mengaku meramu tiga genre tersebut agar bisa menyampaikan dakwah secara sederhana dan menyenangkan.
Terlebih, terdapat tiga karakter utama yang mewakili berbagai generasi. Zidan mewakili anak kecil yang banyak tanya, Ustaz Addin mewakili orang dewasa hobi meneliti, dan Haji Husin mewakili orang tua yang selalu mengingatkan orang lain berdasarkan pengalamannya.
"Tayangan itu betul-betul untuk keluarga, jadi harus disampaikan dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Film itu kan sebenarnya kodratnya hiburan, tergantung konten apa yang kita sisipkan di sana," kata Deddy.
"Dalam Lorong Waktu ada teknologi dan bertempat di masjid yang merupakan pusat peradaban. Di sana ada lab, pengajian, koperasi, semua ada. Artinya itu pusat peradaban," lanjutnya.
Selama enam musim Deddy merasa ia dan Wahyu tidak pernah merasa kesulitan yang berarti ketika mengarang cerita. Mereka selalu berdiskusi jauh-jauh hari sebelum syuting dan terbuka dengan masukan dari tim produksi.
Deddy Mizwar mendesain konsep cerita Lorong Waktu sebagai sarana dakwah (Foto: CNN Indonesia/ Andika Putra)
Bukan hanya dengan tim produksi, tetapi juga berdiskusi dengan ahli agama seperti ustaz dan ulama. Tujuannya agar dakwah bisa disampaikan dengan baik dan benar. Deddy tidak ingin menyampaikan dakwah dengan asal yang bisa berujung masalah.
Selain itu, ia juga mengklaim bahwa tim produksinya memiliki proses kreatif yang berbeda dengan rumah produksi lain meski tidak menjelaskan secara rinci. Ia hanya menjelaskan Lorong Waktu dikerjakan secara hati-hati dan tentunya tidak instan.
Dengan begitu, hasilnya sangat berbeda dengan sinetron religi lain, baik dari segi konten mau pun teknis.
"Ya walau manusia tidak lepas dari keselahan, tetapi kita harus berhati-hati, ada sesuatu yang mau kita sampaikan ke masyarakat yang bisa berdampak positif dan negatif. Kalau positif jadi pahala buat kita, kalau negatif jadi dosa buat kita," katanya.
Usaha dan kerja Deddy bersama seluruh tim produksi yang terlibat seperti terbayar lunas ketika ada penonton yang memeluk agama Islam semakin taat dan ada penonto yang memutuskan pindah agama Islam.
"Saya senang, artinya sekarang saya ahrus menangis, hidup saya bermanfaat. Karena kalau mereka berbuat baik kita dapat pahala yang mengalir terus. Kan itu sudah, beres itu, mati, semua kita tinggalin. Selesai kan kalau sudah habis waktunya," tutup Deddy.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pak Haji siap? Zidan siap? Bismillahirrahmanirrahim...
Penggalan kalimat di atas merupakan salah satu dialog ikonis Ustaz Addin dalam sinetron religi Lorong Waktu. Setelah mengucap kalimat tersebut, ia akan menekan tombol enter pada kibor komputer, Haji Husin dan Zidan pun akan masuk ke lorong waktu.
Mereka berdua akan mendarat di waktu dan ruang yang berbeda, bisa masa lalu atau masa depan. Yang pasti, mereka menjalankan misi yang selalu mengandung pesan moral. Sebagian generasi yang tumbuh pada awal dekade 2000-an tidak asing dengan Lorong Waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adalah Deddy Mizwar sosok di balik sinetron legendaris itu. Ia berperan sebagai prosuder, sutradara, sekaligus pemeran Haji Husin dalam sinetron yang mengudara selama enam musim dalam kurun waktu delapan tahun dari 1999 sampai 2006 ini.
Tanpa basa-basi Deddy menjelaskan Lorong Waktu terinspirasi peristiwa sejarah Islam, Isra Miraj. Pada peristiwa itu Nabi Muhammad SAW diberangkatkan oleh Allah SWT untuk melakukan perjalanan dalam satu malam yang sulit dimengerti dengan logika.
Dalam Isra, Nabi Muhammad diberangkatkan dari Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Kemudian dalam Miraj, Nabi Muhammad dinaikkan ke langit Sidratulmuntaha bersama Malaikat Jibril untuk mendapat perintah salat lima waktu dari Allah.
Pak Haji Husin (Deddy Mizwar) dalam Sinetron Lorong Waktu (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
"Beberapa sahabat kala itu tidak percaya Nabi melakukan Isra Miraj. Sekarang sudah terbukti, enggak usah pakai bismillah dari Mekah ke Masjidil Aqsa naik pesawat supersonik enggak sampai lima menit," kata Deddy saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Melihat lebih dalam, Lorong Waktu bukanlah sekadar sinetron religi yang terinspirasi dari Isra Miraj, melainkan juga sinetron fiksi ilmiah. Bagaimana tidak? dalam Lorong Waktu terdapat teknologi yang memungkinkan seseorang melakukan perjalanan ruang dan waktu.
Bahkan, terdapat alat komunikasi yang canggih bak film Star Trek atau film fiksi ilmiah lain. Alat ini sering diperlihatkan ketika Ustaz Addin memberi arahan kepada Haji Husin dan Zidan, mereka berkomunikasi lewat jam tangan.
Perjalanan waktu dan kecanggihan teknologi itulah yang dimanfaatkan oleh Deddy dan penulis naskah Wahyu H. S. untuk membuat cerita yang 'liar', di mana mereka bisa berdakwah secara tidak langsung lewat berbagai adegan.
Misalnya ketika Ustaz Addin mengirim Haji Husin dan Zidan ke masa di mana Malin Kundang hidup.
Malin Kundang sendiri merupakan cerita rakyat dari Sumatra Barat yang sangat terkenal, mengisahkan Malin Kundang yang durhaka pada ibunya ketika ia sudah sukses, alhasil ibunya sangat kesal hingga mengutuk Malin Kundang menjadi batu.
Lewat episode tersebut, Deddy bermaksud menyampaikan pesan bahwa seoran ibu jangan cepat menyumpah anaknya. Di sisi lain, seorang anak jangan durhaka kepada orang tua. Intinya, ia ingin megkritisi cerita rakyat yang sudah dikenal sejak dulu.
"Superman yang sudah tua juga ada. Ia tidak bisa menebak cuaca ketika terbang karena ozon sudah bolong. (Lorong Waktu) Bisa mengkritisi banyak hal. Jadi, sangat luas sesuatu yang ingin kami sampaikan," kata Deddy.
Kisah Penonton Mualaf Usai Nonton Lorong Waktu
Zidan dan Pak Haji Husin di sinetron Lorong Waktu (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
Selain religi dan fiksi ilmiah, unsur komedi juga terasa kental dalam lorong waktu. Mantan wakil gubernur Jawa Barat ini mengaku meramu tiga genre tersebut agar bisa menyampaikan dakwah secara sederhana dan menyenangkan.
Terlebih, terdapat tiga karakter utama yang mewakili berbagai generasi. Zidan mewakili anak kecil yang banyak tanya, Ustaz Addin mewakili orang dewasa hobi meneliti, dan Haji Husin mewakili orang tua yang selalu mengingatkan orang lain berdasarkan pengalamannya.
"Tayangan itu betul-betul untuk keluarga, jadi harus disampaikan dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Film itu kan sebenarnya kodratnya hiburan, tergantung konten apa yang kita sisipkan di sana," kata Deddy.
"Dalam Lorong Waktu ada teknologi dan bertempat di masjid yang merupakan pusat peradaban. Di sana ada lab, pengajian, koperasi, semua ada. Artinya itu pusat peradaban," lanjutnya.
Selama enam musim Deddy merasa ia dan Wahyu tidak pernah merasa kesulitan yang berarti ketika mengarang cerita. Mereka selalu berdiskusi jauh-jauh hari sebelum syuting dan terbuka dengan masukan dari tim produksi.
Deddy Mizwar mendesain konsep cerita Lorong Waktu sebagai sarana dakwah (Foto: CNN Indonesia/ Andika Putra)
Bukan hanya dengan tim produksi, tetapi juga berdiskusi dengan ahli agama seperti ustaz dan ulama. Tujuannya agar dakwah bisa disampaikan dengan baik dan benar. Deddy tidak ingin menyampaikan dakwah dengan asal yang bisa berujung masalah.
Selain itu, ia juga mengklaim bahwa tim produksinya memiliki proses kreatif yang berbeda dengan rumah produksi lain meski tidak menjelaskan secara rinci. Ia hanya menjelaskan Lorong Waktu dikerjakan secara hati-hati dan tentunya tidak instan.
Dengan begitu, hasilnya sangat berbeda dengan sinetron religi lain, baik dari segi konten mau pun teknis.
"Ya walau manusia tidak lepas dari keselahan, tetapi kita harus berhati-hati, ada sesuatu yang mau kita sampaikan ke masyarakat yang bisa berdampak positif dan negatif. Kalau positif jadi pahala buat kita, kalau negatif jadi dosa buat kita," katanya.
Usaha dan kerja Deddy bersama seluruh tim produksi yang terlibat seperti terbayar lunas ketika ada penonton yang memeluk agama Islam semakin taat dan ada penonto yang memutuskan pindah agama Islam.
"Saya senang, artinya sekarang saya ahrus menangis, hidup saya bermanfaat. Karena kalau mereka berbuat baik kita dapat pahala yang mengalir terus. Kan itu sudah, beres itu, mati, semua kita tinggalin. Selesai kan kalau sudah habis waktunya," tutup Deddy.