Abu Nawas, Penyair Nyentrik dan Tokoh 1001 Malam

adp, CNN Indonesia | Senin, 26/04/2021 15:30 WIB
Salah satu tokoh sufi legendaris adalah Abu Nawas. Perangainya yang nyentrik dan kecerdikannya membuatnya melegenda dalam sejumlah kisah. Foto ilustrasi Abu Nawas. (CNNIndonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dari sekian banyak tokoh sufi, Abu Nawas merupakan salah satu yang paling terkenal. Bukan hanya karena syair dan puisi yang ia ciptakan, tetapi juga karena berperangai nyentrik, dan pribadinya yang cerdik.

Pria yang memiliki nama asli Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami ini lahir pada tahun 747 masehi di kota Ahvaz, Iran. Ayahnya berdarah Arab, sementara ibunya yang bernama Jullaban berdarah Persia.

Abu Nawas yang tumbuh sebagai anak yatim dibawa ibunya ke kota Basra, Irak. Di sana lah ia mulai mempelajari ilmu agama Islam seperti hadits dan Al-Quran serta sastra yang hingga kini melambungkan namanya.


Kala itu Abu Nawas yang muda terlena dengan kehidupan duniawi. Karyanya lebih banyak bercerita tentang minuman yang memabukkan dan wanita. Terbilang Nyentrik, belum banyak berbicara tentang agama seperti yang diketahui banyak orang.

Seiring berjalannya waktu, ia kembali mempelajari sastra Arab dengan Walibah ibn Habib Al-Asad. Abu Nawas belajar bagaimana menggunakan bahasa yang halus dalam karyanya. Pelajaran itu kemudian ia kombinasikan dengan gaya berpuisi yang nyentrik.

Kemampuannya semakin terasah ketika Waliban mengajak Abu Nawas ke tempat asalnya, Kufah. Pada daerah itu ia bertemu dengan orang Arab dari suku Badus untuk mendalami kesusastraan Arab. Ia seperti pribadi yang tidak pernah bosan belajar.

Seiring berjalannya waktu Abu Nawas semakin dikenal karena karyanya yang bisa dibilang berbeda dari yang lain kala itu. Syair dan puisinya tidak kolot dan terpaku pada satu gaya saja. Ia membuat puisi yang lucu, ada pula pusisi berisikan kritik yang dikemas dengan apik.

Dengan bekal pengetahuan agama dan sastra, ia pindah ke kota Bagdad yang kala itu dipimpin Khalifah Harun ar-Rasyid. Di kota besar itu ia kembali berhasil menelurkan karya-karya menarik, hingga menarik perhatian Harun.

Ia pun membuat puisi berisikan puja-puji terhadap Harun. Pun Abi Nawas dianggap sebagai salah satu orang kepercayaan Harun.

Pada masa kejayaannya, Abu Nawas juga tak lupa membuat karya bernapaskan Islam, tentunya dengan gaya penyampaian yang tidak kaku, salah satunya adalah tentang pertaubatan.

Berkat karyanya dan pamor yang luar biasa, ia diceritakan dalam Seribu Satu Malam. Beberapa di antaranya adalah berpura-pura gila karena tidak ingin hakim pengadilan yang berkaitan dengan Islam dan ditantang oleh Harun serta teman-temannya melakukan hal aneh.

Informasi mengenai kepergiannya masih simpang siur lantaran ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan Abu Nawas meninggal pada tahun 806, ada pula yang mengatakan ia meningal pada 813 dan 814.

Namun yang pasti, nama Abu Nawas masih dikenal hingga saat ini. Seorang penyair sufi nyentrik nan cerdik.

(adp/fjr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK