Jalan Isyana Mencapai Titik Kulminasi Seorang Musisi
Lewat LEXICON dan dua single setelah itu Isyana mengusung musik klasik, apa dari dulu memang bermimpi menjadi musisi klasik?
Kalau dari dulu memang aku sudah kepengin banget ya, cita-cita aku dari SD itu pengin jadi maestro, pengin jadi musisi. Seseorang yang memang berkarya menciptakan sebuah komposisi dan perform juga, sebagai performer.
Makanya aku akhirnya ambil sekolah music performance, karena ada dua kalau masuk sekolah musik, ada music performance ada music teaching. Nah itu aku memang ambilnya music performance karena udah tahu akan jadi... pengin jadi seorang performer dan jadi seorang musisi.
Tapi kenapa sejak lulus merilis album bergenre pop?
Mungkin pada saat mau lulus itu memang jati dirinya masih pengin bereksplorasi, jadi pada saat itu makanya judul album Explore, karena ya aku terjun ke sebuah genre yang mungkin bukan genre keseharian tapi aku pun suka. Yuk yaudah deh eksplor, gitu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Album kedua mulailah Paradox, sudah lebih dewasa sudah lebih berevolusi juga. Manusia kan tiap hari evolusi ya, belajar dari sesuatu apa yang udah dilewati. Sampai pada akhirnya dua tahun setelah itu mendewasa juga dan akhirnya jadi LEXICON.
Sulitkah menjadi penyanyi pop dengan latar pendidikan musik klasik?
Yang awal-awal kalau aku nyanyi pop aku merasa kalau dengar lagi.. Jiga kumaha (jadi gimana) ya.. Kayak anak klasik yang maksa nyanyi pop.
Tapi, lama-lama aku bisa beradaptasi dan bisa memilih teknik mana yang digunakan dan sebenarnya enggak usah terlalu pushy dan enggak usah terlalu round suaranya, tapi seru sih belajar.
Apa yang membuat Isyana membuat album dengan nuansa klasik?
Kalau ditanya kenapa ke situ, mungkin fase hidup aku lagi di arah situ dan aku selalu bilang ke pendengar aku ke depannya nanti gimana aku juga enggak tahu ya. Lagi-lagi begitu, musik aku berevolusi bersama dengan kepribadian aku.
Kalau untuk LEXICON ya mungkin fase hidupnya di situ, setelah itu kan halaman baru ternyata muncul Unlock The Key dan Il Sogno.
Isyana Sarasvati di momen peluncuran album Paradox (2017) (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
Apa LEXICON lebih mudah digarap karena latar pendidikan Isyana musik klasik?
Album LEXICON dan seterusnya sampai sekarang betul-betul aku pegang sendiri, enggak ada campur tangan orang lain. Secara proses kreatif betul-betul sendiri di rumah, bener-bener ya gimana gue, bagannya gimana gue, itunya gimana gue.
Pemilihan produser juga gimana aku, itu lebih mudahnya dari sisi komunikasi aja sih.
Dari mana inspirasi rock progresif dalam LEXICON dan dua single terbaru?
Kalau aku sih dari kecil suka banget sama musik rock, rock progresif, metal. Didengarkan Queen, Genesis, yang kayak gitu sama bapak aku juga.
Terus buat Isyanation (penggemar Isyana) yang udah sering dengerin aku live dari album satu sampai dua, itu kebanyakan enggak kaget. Karena aku suka rearrange lagu aku sendiri dengan unsur-unsur tutti (istilah dalam musik) yang agak progresif rock gitu, tapi lagunya album satu dan dua.
Setelah merilis LEXICON ada pertambahan penggemar dari skena rock dan metal?
Bukannya berkurang ya jadi masih disaring? hahahah... Kayak hidup, selalu ada yang datang dan pergi, enggak apalah.
Apa Isyana merasa emosinya tersalurkan lewat karya-karya tersebut?
Beeeuuhh banget sih... Banget, dengan sound distorsi gitar, double pedal drum, itu kayak mewakilkan gejolak perasaan yang ada dalam Isyana yang enggak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Karena ya gitu, lagi-lagi, aku kan orangnya enggak jago ngomong, enggak jadi cerita melalui verbal.
Memang dari mana asal emosi itu? Akumulasi sejak lama?
Yah bisa dibilang betul, itu pasti akumulasi dari berbagai macam pengalaman yang pernah aku alami dan akhirnya bisa ditumpahkan ke sebuah karya itu melewati proses kontemplasi ya pasti.
Segitu kuatnya ya emosi dalam LEXICON sampai dalam beberapa panggung Isyana nangis kalau bawain lagu dari album itu...
Waktu, terutama di LEXICON showcase, tapi itu private banget dan cuma 200 orang. Kalau udah nangis enggak bisa berhenti jadinya baca puisi.
Ya memang LEXICON personal banget ya, dan satu album ini aku enggak ekspektasi apa-apa. Bener-bener pengin cerita tentang apa yang sedang aku alami, karena kan album satu dan dua ada cerita pribadi ada imajinasi.
Kalau bisa dikonversi jadi angka, seberapa puas?
Hmm... Kalau aku sih, ini sulit banget ya pertanyaannya, karena aku sangat menghindari mengkonversi sebuah karya seni dalam penilaian berbentuk angka. Menurut aku setiap orang penilaian berbeda dan ini kayaknya udah permainan rasa sih.
Kembali ke Unlock The Key, itu ada rasa lagu-lagu dari band Nightwish ya?
Nah aku tuh belum pernah dengar. Ternyata pas aku dengar mereka juga progresif rock atau agak sedikit progresif metal yang dicampur dengan sedikit seriosa. Ternyata ada juga yang seperti itu, seru banget.
Bagaimana cara membuat lagu yang emosinya sampai terasa, seperti Unlock The Key?
Nah kalau aku sih lebih ke... jangan... kalau kita sebagai komposer atau pekerja seni jangan memikirkan apa kata orang. Tapi kita mikirin dulu kita sendiri, perasaan kita sendiri. Kalau aku memang prinsipnya adalah karya aku ya cerita tentang hidup aku.
Dan aku percaya dan selalu tahu orang akan selalu ada yang suka dan tidak dalam sebuah karya seni, kan itu selera ya. Jadi itu harus dikesampingkan dulu akan opini dari orang lain karena nanti akan mengganggu proses kreatif dan pad akhirnya kalian enggak bisa jernih dalam berkarya.
Kalau konser LEXICON kapan? Setelah pandemi?
Dari sebelum pandemi juga udah disiapin sebenarnya di tahun 2020 konser LEXICON dibawa tur keliling beberapa kota di Indonesia. Khusus LEXICON, tapi enggak apa demi keselamatan kita semua.
Yaudah akhirnya untuk menggaungkan LEXICON kita bikin konser virtual, dan itu masih awal pandemi banget ya jadi yang sema WFH enggak temu orang, konser virtual kotak-kotak.
Nasib Unlock The Key dan Il Sogno bagaiamana?
Iya, ini rangkaian menuju album. Jadi Unlock The Key single pertama dan Il Sogno single kedua.
Kapan album itu rilis?
Penginnya sih akhir tahun ini, tapi kita kan enggak pernah tahu spontanitas yang terjadi di hidup aku. Apalagi sekarang juga udah label sendiri, kumaha aing hahaha.
[Gambas:Video CNN]
Isyana Sarasvati menjadi sorotan sejak merilis album solo ketiga bertajuk LEXICON 2019 lalu. Sebanyak delapan lagu dalam album itu sangat berbeda dengan karya Isyana sebelum yang bergenre pop.
Isyana hadir dengan nuansa musik yang kental dengan genre klasik dikawinkan dengan rock progresif.
Musisi asal Kota Kembang itu seakan menunjukkan bahwa inilah Isyana yang sesungguhnya. Terlebih kata 'lexicon' yang merupakan bahasa Inggris berarti kamus. Dengan kata lain, album LEXICON adalah kamus seorang Isyana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jati diri Isyana dalam klasik diperkuat dengan perilisan single Unlock The Key dan Il Sogno yang terasa serupa meski ada sedikit berbeda. Unlock The Key mengisahkan gejolak emosi, sementara Il Sogno mengisahkan tentang mimpi yang seakan menjadi pertanda.
Lewat karya terbarunya Isyana seperti mencapai titik kulminasi dari seorang musisi. Namun, ia tetap rendah hati ketika mendapat pujian dan merasa masih banyak musisi yang lebih hebat.
Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Isyana Sarasvati:
Il Sogno gambarkan Mimpi. Sebenarnya mimpi apa yang menjadi landasan utama pembuatan lagu Tersebut?
Sebenarnya akumulasi dari berbagai macam mimpi yang aku alami. Karena terkadang, aku orang yang suka mimpi dan mimpi-mimpi itu bisa sangat vivid (cerah), dan ada juga yang jadi pertanda dan kejadian di dunia nyata. Aku enggak tahu itu de javu atau apa.
Kemudian ada mimpi-mimpi yang membuat aku bertanya-tanya aja, 'Ini mimpi apakah suatu pertanda baik atau buruk?.' Jadi, ini hanya murni cerita tentang pengalaman aku dengan mimpi-mimpi yang aku alami. Jadi ini lagu memang, 'ini yang gue rasain'.
Apa saja yang sempat menjadi kenyataan?
Kalau yang mimpi yang kejadian untungnya bukan suatu yang buruk. Cuma hal-hal minor, hal minor banget lah. Ada beberapa gitu yang, contohnya yang simple banget ya yang enggak terlalu personal.
Aku mimpi ketemu dan teleponan sama orang ini yang udah lama banget enggak kontak. Itu besokannya telepon beneran, padahal enggak pernah kontak sama sekali. Itu salah satu contoh.
Cuma pada akhirnya ada beberapa mimpi-mimpi yang enggak bisa aku lupakan dan akhirnya aku tuangkan ke lagu Il Sogno. Salah satunya pernah mimpi mendaki Himalaya, aku merasa vivid banget ini mimpi, padahal aku pun enggak pernah kesana tapi kerasa real banget.
Mengapa menggunakan bahasa Italia (Il Sogno)?
Untuk lagu Il Sogno ini enggak tahu ya aku tiba-tiba kepikirannya ingin memasukkan bahasa Italia dengan basic knowledge yang aku punya, Kita juga ada kelas IPA, itu International Phonetic Alphabet, jadi di mana kita belajar how to pronounce Italian in the right way.
Sebenarnya kan liriknya tentang... hmm apa namanya...The dream that seems to always be alive. Apakah itu bisa apa enggak? Ternyata bisa-bisa saja, dan sudah cross check juga.
Besar ya pengaruh Italia dalam Il Sogno, dari lirik sampai musik...
Awalnya malah dari musiknya dulu, kalau untuk case Il Sogno ini musiknya jadi dulu baru aku kerjain lirik.
Sulit kah untuk menyesuaikan lirik dengan musik?
Enggak sih kalau aku, enggak tahu ya kalau orang lain. Kayaknya setiap seniman punya caranya masing-masing. Tapi kalau aku pribadi itu memang spontaneous.
Jadi, biar itu mengalir dulu seada-adanya sejujur-jujurnya. Jadi, biasanya aku kerjain dulu tanpa mikir tanpa rumus, dari situ nanti dirapih-rapihin, terus kirim ke produser. Gitu.
Seberapa sulit nyanyi musik klasik opera?
Kalau dibilang sulit, iya sulit, karena kita harus menemukan teknik yang pas untuk diri kita masing-masing. Kalau di dalam musik klasik enggak semua teknik diaplikasikan ke setiap orang karena instrumennya adalah tubuh kita dan tubuh orang beda-beda.
Maka dari itu biasanya kita diajarkan dulu basic, fundamental teknik seperti apa tapi kita selalu dikasih pekerjaan rumah sama dosen dan profesor untuk cari teknik yang paling nyaman sama diri kita. Orang terlahir dengan tipe dan timbre yang berbeda, aku masuknya lirycal soprano.
Cerita Isyana Racik Musik Opera dengan Rock Progresif
Isyana Sarasvati menikmati proses pendewasaan dalam bermusik.(Foto: (ANTARA/INASGOC/Wahyudin))
Lewat LEXICON dan dua single setelah itu Isyana mengusung musik klasik, apa dari dulu memang bermimpi menjadi musisi klasik?
Kalau dari dulu memang aku sudah kepengin banget ya, cita-cita aku dari SD itu pengin jadi maestro, pengin jadi musisi. Seseorang yang memang berkarya menciptakan sebuah komposisi dan perform juga, sebagai performer.
Makanya aku akhirnya ambil sekolah music performance, karena ada dua kalau masuk sekolah musik, ada music performance ada music teaching. Nah itu aku memang ambilnya music performance karena udah tahu akan jadi... pengin jadi seorang performer dan jadi seorang musisi.
Tapi kenapa sejak lulus merilis album bergenre pop?
Mungkin pada saat mau lulus itu memang jati dirinya masih pengin bereksplorasi, jadi pada saat itu makanya judul album Explore, karena ya aku terjun ke sebuah genre yang mungkin bukan genre keseharian tapi aku pun suka. Yuk yaudah deh eksplor, gitu.
Album kedua mulailah Paradox, sudah lebih dewasa sudah lebih berevolusi juga. Manusia kan tiap hari evolusi ya, belajar dari sesuatu apa yang udah dilewati. Sampai pada akhirnya dua tahun setelah itu mendewasa juga dan akhirnya jadi LEXICON.
Sulitkah menjadi penyanyi pop dengan latar pendidikan musik klasik?
Yang awal-awal kalau aku nyanyi pop aku merasa kalau dengar lagi.. Jiga kumaha (jadi gimana) ya.. Kayak anak klasik yang maksa nyanyi pop.
Tapi, lama-lama aku bisa beradaptasi dan bisa memilih teknik mana yang digunakan dan sebenarnya enggak usah terlalu pushy dan enggak usah terlalu round suaranya, tapi seru sih belajar.
Apa yang membuat Isyana membuat album dengan nuansa klasik?
Kalau ditanya kenapa ke situ, mungkin fase hidup aku lagi di arah situ dan aku selalu bilang ke pendengar aku ke depannya nanti gimana aku juga enggak tahu ya. Lagi-lagi begitu, musik aku berevolusi bersama dengan kepribadian aku.
Kalau untuk LEXICON ya mungkin fase hidupnya di situ, setelah itu kan halaman baru ternyata muncul Unlock The Key dan Il Sogno.
Isyana Sarasvati di momen peluncuran album Paradox (2017) (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
Apa LEXICON lebih mudah digarap karena latar pendidikan Isyana musik klasik?
Album LEXICON dan seterusnya sampai sekarang betul-betul aku pegang sendiri, enggak ada campur tangan orang lain. Secara proses kreatif betul-betul sendiri di rumah, bener-bener ya gimana gue, bagannya gimana gue, itunya gimana gue.
Pemilihan produser juga gimana aku, itu lebih mudahnya dari sisi komunikasi aja sih.
Dari mana inspirasi rock progresif dalam LEXICON dan dua single terbaru?
Kalau aku sih dari kecil suka banget sama musik rock, rock progresif, metal. Didengarkan Queen, Genesis, yang kayak gitu sama bapak aku juga.
Terus buat Isyanation (penggemar Isyana) yang udah sering dengerin aku live dari album satu sampai dua, itu kebanyakan enggak kaget. Karena aku suka rearrange lagu aku sendiri dengan unsur-unsur tutti (istilah dalam musik) yang agak progresif rock gitu, tapi lagunya album satu dan dua.
Setelah merilis LEXICON ada pertambahan penggemar dari skena rock dan metal?
Bukannya berkurang ya jadi masih disaring? hahahah... Kayak hidup, selalu ada yang datang dan pergi, enggak apalah.
Apa Isyana merasa emosinya tersalurkan lewat karya-karya tersebut?
Beeeuuhh banget sih... Banget, dengan sound distorsi gitar, double pedal drum, itu kayak mewakilkan gejolak perasaan yang ada dalam Isyana yang enggak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Karena ya gitu, lagi-lagi, aku kan orangnya enggak jago ngomong, enggak jadi cerita melalui verbal.
Memang dari mana asal emosi itu? Akumulasi sejak lama?
Yah bisa dibilang betul, itu pasti akumulasi dari berbagai macam pengalaman yang pernah aku alami dan akhirnya bisa ditumpahkan ke sebuah karya itu melewati proses kontemplasi ya pasti.
Segitu kuatnya ya emosi dalam LEXICON sampai dalam beberapa panggung Isyana nangis kalau bawain lagu dari album itu...
Waktu, terutama di LEXICON showcase, tapi itu private banget dan cuma 200 orang. Kalau udah nangis enggak bisa berhenti jadinya baca puisi.
Ya memang LEXICON personal banget ya, dan satu album ini aku enggak ekspektasi apa-apa. Bener-bener pengin cerita tentang apa yang sedang aku alami, karena kan album satu dan dua ada cerita pribadi ada imajinasi.
Kalau bisa dikonversi jadi angka, seberapa puas?
Hmm... Kalau aku sih, ini sulit banget ya pertanyaannya, karena aku sangat menghindari mengkonversi sebuah karya seni dalam penilaian berbentuk angka. Menurut aku setiap orang penilaian berbeda dan ini kayaknya udah permainan rasa sih.
Kembali ke Unlock The Key, itu ada rasa lagu-lagu dari band Nightwish ya?
Nah aku tuh belum pernah dengar. Ternyata pas aku dengar mereka juga progresif rock atau agak sedikit progresif metal yang dicampur dengan sedikit seriosa. Ternyata ada juga yang seperti itu, seru banget.
Bagaimana cara membuat lagu yang emosinya sampai terasa, seperti Unlock The Key?
Nah kalau aku sih lebih ke... jangan... kalau kita sebagai komposer atau pekerja seni jangan memikirkan apa kata orang. Tapi kita mikirin dulu kita sendiri, perasaan kita sendiri. Kalau aku memang prinsipnya adalah karya aku ya cerita tentang hidup aku.
Dan aku percaya dan selalu tahu orang akan selalu ada yang suka dan tidak dalam sebuah karya seni, kan itu selera ya. Jadi itu harus dikesampingkan dulu akan opini dari orang lain karena nanti akan mengganggu proses kreatif dan pad akhirnya kalian enggak bisa jernih dalam berkarya.
Kalau konser LEXICON kapan? Setelah pandemi?
Dari sebelum pandemi juga udah disiapin sebenarnya di tahun 2020 konser LEXICON dibawa tur keliling beberapa kota di Indonesia. Khusus LEXICON, tapi enggak apa demi keselamatan kita semua.
Yaudah akhirnya untuk menggaungkan LEXICON kita bikin konser virtual, dan itu masih awal pandemi banget ya jadi yang sema WFH enggak temu orang, konser virtual kotak-kotak.
Nasib Unlock The Key dan Il Sogno bagaiamana?
Iya, ini rangkaian menuju album. Jadi Unlock The Key single pertama dan Il Sogno single kedua.
Kapan album itu rilis?
Penginnya sih akhir tahun ini, tapi kita kan enggak pernah tahu spontanitas yang terjadi di hidup aku. Apalagi sekarang juga udah label sendiri, kumaha aing hahaha.
Isyana Sarasvati di momen peluncuran album Paradox (2017) (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Rara Sekar dan Isyana Sarasvati (Foto: CNN Indonesia/M. Andika Putra)