Nizami Ganjavi, Pujangga Romantis di Balik Layla dan Majnun

CNN Indonesia | Senin, 03/05/2021 15:30 WIB
Nizami Ganjavi adalah pujangga di balik kisah Layla dan Manjun yang amat terkenal dalam sejarah kesastraan Islam. Foto ilustrasi Nezami Ganjavi. (CNNIndonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kisah romantis dua sejoli Layla dan Manjun sepertinya lebih terkenal ketimbang penulisnya. Kisah yang muncul pada abad ke-12 ini seakan tidak pernah putus diadaptasi hingga akhirnya tak lekang oleh waktu. Bahkan bersaing dengan Romeo and Juliet.

Nizami Ganjavi. Ya, ia adalah pujangga di balik kisah Layla dan Manjun yang amat terkenal dalam sejarah Islam. Nizami hanyalah nama pena, ia terlahir dengan nama Jamal ad-Din Abu Muḥammad Ilyas ibn-Yusuf ibn-Zakki.

Ia lahir pada tahun 1141 di kota Ganja yang merupakan bagian dari Kesultanan Seljuk, kini dikenal sebagai negara Azerbaijan. Sejak kecil ia sudah menjadi anak yatim piatu sehingga dibesarkan oleh pamannya, Khwaja Umar.


Umar tidak sembarang membesarkan Nizami, sejak kecil ia memberikan pendidikan yang berkualitas pada keponakannya. Hal itulah yang membuat wawasan Nizami sangat luas, mulai dari psikologi, astronomi, astrologi, matematika, sampai musik.

Sering berjalannya waktu, Nizami yang menghabiskan masa hidupnya di Ganja menekuni bidang sastra. Ia belajar dan terinspirari dari sastrawan muslim pendahulu asal Persia, seperti Sanai (1080-1131/1141) dan Ferdowsi (935/940-1019-1026).

Pada saat yang sama, pria yang kala itu dikenal sebagai Ilyas mulai mencari nama pena ketika hendak menerbitkan karya. Ia kemudian memutuskan Nizami sebagai nama pena yang bila ditulis nama lengkap menjadi Nizami Ganjavi.

Ia membuat karya pertama bertajuk Makhzan-ol-Asrâr atau Gudang Rahasia yang diterbitkan pada 1163. Karya ini disebut terinspirasi dari Hadiqat al Haqiqt, karya sastra milik Sanai, karena sama-sama mengandung cerita yang filosofis.

Nizami kemudian membuat karya kedua bertajuk Khosrow o Shirin (1177) atau Khosrow dan Shirin. Disusul dengan Leyli o Majnun (1192) atau Layna dan Majnun, Eskandar-Nâmeh (1194) atau Kitab Alexander, dan Haft Peykar (1197) atau Tujuh Bidadari.

Keeempat karya bergenre romantis berbeda dengan karya pertama. Tiga karya selain Layla dan Majnun terinspirasi dari Shahnameh, karya sastra milik Ferdowsi. Sementara, Layla dan Majnun terinspirasi dari banyak karya yang Nizami baca.

Salah satunya adalah novel kuno Yunani bertajuk Metiochus and Parthenope. Pada abad ke-11 novel ini diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan tajuk Vamiq u Adhra sehingga dikenal sebagai novel romantis Persia.

Layla dan Majnun memiliki inti cerita yang sama dengan Vamiq u Adhra, yaitu sepasang kekasih yang sangat jatuh cinta satu sama lain. Namun, ada sedikit perbedaan pada alur dan detail cerita, seperti keputusan keluarga Layla yang ingin menjodohkannya dengan laki-laki lain.

Biar bagaimanapun, Nizami tetap berhasil membuat karya yang luar biasa. Buktinya kisah Layla dan Majnun yang dibuat 829 tahun lalu masih dikenal sampai sekarang, bahkan layanan streaming Netflix merilis film Layla Majnun pada Februari lalu.

Tepat 12 tahun setelah menerbitkan karya terakhir, Nizami meninggal dunia. Ia seperti menjadi sosok yang abadi, dikenal sebagai pujangga romantis lewat karya-karyanya yang tidak lekang oleh waktu.

(adp/bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK