Asal Usul Ngabuburit, Budaya Khas Ramadan di Indonesia

CNN Indonesia | Minggu, 02/05/2021 13:32 WIB
Meski telah diserap jadi bahasa Indonesia dan dijalani masyarakat lokal ketika Ramadan tiba, nyatanya Meski telah diserap jadi bahasa Indonesia dan dijalani masyarakat lokal ketika Ramadan tiba, nyatanya "ngabuburit" tidak mutlak lahir dari tanah Nusantara. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jalan-jalan santai di waktu sore, nongkrong di tempat favorit sembari menikmati semilir angin bersama teman atau kerabat, atau sibuk menyusuri pasar kaget mencari menu berbuka puasa alias iftar menjadi gambaran ngabuburit yang terjadi di berbagai penjuru Indonesia kala Ramadan.

Namun tradisi itu agak sulit dilakukan dalam dua Ramadan terakhir akibat pandemi yang memaksa semua orang untuk saling menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan. Sehingga bagi sebagian orang, tradisi ngabuburit menjadi sesuatu yang dirindukan.

Bertahun-tahun 'menjalani' tradisi ngabuburit, tak banyak yang menyadari bahwasanya kata "ngabuburit" sendiri berasal dari bahasa Sunda. Kata "ngabuburit" diyakini berasal dari "ngalantung ngadagoan burit" yang berarti "bersantai sambil menunggu waktu sore".


Kamus Sunda-Indonesia terbitan Kemendikbud pada 1985 mencatat kata "burit" yang bermakna "senja", dan kata "ngabuburit" sebagai "jalan-jalan menunggu waktu sore, biasanya pada bulan puasa".

Kata dari bahasa daerah itu kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia dan dicatat secara resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

KBBI V (2016) mencatat kata "burit" sebagai kata dasar yang bermakna "sore", kemudian turunannya yaitu "mengabuburit" sebagai "menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan".

Sejumlah warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di pelataran Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Rabu (23/5). Sejumlah warga pada bulan Ramadan memanfaatkan Stadion Pakansari untuk ngabuburit menunggu waktu berbuka sambil menikmati wahana penyewaan anak yang tersedia. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama/18.Ilustrasi. Sejumlah warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di pelataran Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama/18.)

Meski telah diserap jadi bahasa Indonesia dan dijalani sebagai kebiasaan dalam budaya masyarakat lokal ketika Ramadan tiba, nyatanya "ngabuburit" tidak mutlak lahir dari tanah Nusantara.

Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan ngabuburit pada dasarnya respons umum dari umat muslim jelang buka puasa. Sehingga, ngabuburit tak hanya terjadi di Indonesia.

"Itu bisa kita lihat pada hampir semua masyarakat di mana mayoritas orang Islam dan bulan puasa. Itu kan tujuannya untuk menunggu berbuka puasa kan. Jadi, kalau seperti itu bukan hanya Indonesia saja," kata Heddy kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

"Kalau kita lihat ke Arab, di Mesir juga ada karena mereka kan juga menyambut buka puasa. Itu di Makkah juga sangat terasa ngabuburitnya. Jadi menurut saya itu sangat umum, hanya saja memang istilahnya di sana bukan ngabuburit," lanjutnya.

Dari Alun-alun ke Islamisasi Kampus

Tak pernah ada catatan resmi kapan kebiasaan masyarakat di waktu senja ini dilakukan, hanya saja ngabuburit diyakini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Sejumlah catatan kecil yang mendokumentasikan ngabuburit, di antaranya keterangan bahwa masyarakat Bandung, Jawa Barat, sudah terbiasa ngabuburit di kawasan Alun-alun Bandung sejak dekade 1950-an.

Hal itu tercatat pada kajian Tradisi Keagamaan Masyarakat Kota Bandung di Bulan Ramadan Tahun 1990-2000 karya M Fajar, Sulasman, Usman Supendi dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang terbit di jurnal Historia Madania Volume 2 Nomor 2 tahun 2018.

"Warga Bandung masa lalu ngabuburit dengan cara beramai-ramai main ke taman atau lapang olahraga, berenang, dan menangkap ikan di Cikapundung, atau mandi di pemandian umum, sumur bor dekat Alun-alun," tulis mereka.

"Sampai akhir tahun 1950-an, orang masih bisa ngabuburit naik perahu di Situ Aksan atau Situ Bunjali." tulis ketiganya menyebut danau di Bandung yang hilang pada dekade 1980-an.

Ngabuburit jadi tren juga karena Islamisasi kampus, di halaman berikutnya..

Islamisasi Kampus Dongkrak Ngabuburit

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK