Elizabeth Inandiak: Serat Centhini, Cinta, Spiritual dan Seks
CNN Indonesia
Minggu, 06 Jun 2021 19:24 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Elizabeth Inandiak (Foto: Arsip Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Serat Centhini menjadi gerbang bagi Elizabeth D. Inandiak, budayawan dan peneliti asal Perancis untuk mendalami budaya Jawa. Sejak awal ia menilai Serat Centhini sebagai karya sastra luar biasa.
Didukung banyak pihak, ia menyelesaikan misi 'menulis ulang' Serat Centhini ke dalam bahasa Indonesia. Proses yang panjang, karena Serat Centhini mulanya ditulis dalam aksara Jawa.
Dari bahasa Jawa yang amat halus, Serat Centhini sempat dialihbahasakan ke bahasa Perancis, sebelum akhirnya di tangan Elizabeth, terbitlah buku berjudul Centhini: Kekasih yang Tersembunyi (2008).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada CNNIndonesia.com, Elizabeth berbagi kisah di balik perjalanannya memaknai Serat Centhini. Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan sang budayawan dan penulis ulang Serat Centhini:
Apa yang membawa Anda hingga tertarik menulis tentang Serat Centhini?
Saya menemukan ringkasan Serat Centhini dalam bahasa Perancis pada tahun 1991 di Indonesia dan saya kaget sekali membaca ringkasan itu.
Sepertinya itu adalah karya sastra yang luar biasa yang waktu itu belum diterjemahkan dalam bahasa apapun, bahkan bahasa Indonesia juga tidak. Saya merasa langsung (tertarik) walaupun dari dua halaman dan itu judulnya pengembaraan orang-orang yang tidak puas dan saya merasa keakraban langsung seperti jodoh dalam karya sastra.
Beberapa tahun setelah itu saya bertemu dubes (Duta Besar) Prancis di Jakarta. Saya bercerita Serat Centhini ini seperti Borobudur tapi dalam karya sastra, dan bahasa Jawa sangat sedikit yang menguasai bahasa sastra Jawa. Kalau bahasa sehari-hari tidak masalah bahasa Jawa di Serat Centhini sangat halus, tinggi, dan rumit. Kalau tidak diterjemahkan akan hilang seperti Borobudur.
Makin lama saya menerjemahkan makin saya kaget dan sangat mengagumi teks itu karena tidak cuma isinya yang indah, bahasanya, tetapi unsur cerita, alur ceritanya sempurna.
Alur cerita memang indah sekali bukunya panjang sekali dari cerita teman-teman saya buku ini juga dibaca oleh orang-orang terdahulu nenek moyang mereka waktu itu mereka hanya baca di beberapa bagian.
Di 12 jilid pengembaraan itu?
Ya, dan saya tertarik karena itu sangat universal. Jadi dalam Serat Centhini semua karakter punya sifat universal meskipun khas Jawa pembaca yang tidak tahu tentang budaya Jawa bisa tertarik dan itu yang memuat Serat Centhini luar biasa.
Ini lah tanda karya besar sastra seperti kitab Ogive dalam Yunani kuno atau Mahabarata atau Shakespeare ini juga karya yang bisa hidup berabad-abad dan bisa lintas waktu dan lintas kebudayaan. Serat Centhini adalah karya seperti itu yang harus dihargai.
Kenapa orang-orang menyebut Serat Centhini sebagai kitab seksualitas orang Jawa?
Ya karena mereka terobsesi seks, ya ini kalau kita punya obsesi tentu itu yang akan kita cari memang dalam kitab Centhini. Ada mungkin sekitar 10-20 persen dari seluruh karya yang bercerita tentang senggama. Jadi ada macam-macam sifatnya ada yang seperti binatang, seperti budak, Jadi kita jadi budak nafsu kita, ada juga yang Ilahi.
Jadi seks atau senggama itu tentu tidak sama, dan di Serat Centhini digambarkan semua supaya nanti pembaca bisa memilih, bisa membandingkan. Wah kalau ya lain sekali tapi mungkin orang yang punya nafsu mereka akan tertarik dan membaca bagian itu dan tidak membaca bagian lain.
Potret isi buku Serat Centhini (Foto: Langgar.co / Irfan Afifi)
Jadi mereka tidak memahami bahwa senggama di Serat Centhini, bukan itu. Yang empat puluh malam yang hubungan senggama Amongraga dan Tembangraras tokoh perempuan dan laki-laki itu indah sekali dan itu digambarkan 2 jilid.
Memang ada bagian yang sangat liar dan makanya banyak orang yang malu menerjemahkan bagian itu karena merasa ini tidak boleh atau dinamakan porno. Tapi yang porno itu pandangan kita, mata kita. Pandangan kita yang kotor. Yang ini (Serat Centhini) digambarkan sebagai ajaran (pendidikan seks).
Bahasan senggama di Serat Centhini seperti apa?
Bagian Amongraga dan Tambangraras, mereka itu menikah. Amongraga mengatakan kepada Tambangraras kalau kita bersenggama, saya harus pergi untuk mencari adik-adik saya.
Jadi dari awal mereka tahu bahwa mereka akan lepas di situ juga dijelaskan meski mereka sudah menikah waktu malam pertama selama 40 malam mereka tidak bersenggama, mereka saling membagi ajaran dan belajar bagaimana menjadi biasa dengan ketelanjangan mereka tentang tubuh mereka, dan bagaimana mereka belajar mengendalikan nafsu mereka agar tidak lagi nafsu seks tapi betul-betul cinta yang dalam sekali dan cinta kepada Ilahi. Kalau nafsunya sudah tenang dan tidak saling takut, mereka pada malam terakhir akhirnya bisa bersenggama dengan keindahan.
Tidak seperti binatang, dan mereka bisa merasakan kehadiran Ilahi dalam senggama mereka. Ini sangat spiritual. Tapi sesudah itu Amongraga meninggalkan istrinya untuk mencari adik-adiknya. Jadi ada keindahan, ada kesedihan jadi luar biasa. Saya tidak tahu di karya mana ada hubungan senggama seindah itu, tapi orang fokus pada yang lain-lain itu terserah mereka.
Apakah pembahasan terbilang vulgar?
Oh iya lebih mungkin.. Tapi jangan lupa Centhini dulu ditembangkan, jadi ada keseimbangan antara kata-kata ada yang sangat vulgar. Tapi karena ditembangkan secara halus dan indah, jadi kalau kita menerjemahkan kata-kata itu tanpa melihat bahwa ini adalah tembang yang ada cuma kevulgaran separuh, yang indah akan hilang.
Makanya, saya berusaha menciptakan walau pakai kata-kata yang vulgar tapi irama dan gaya menulis harus indah.
Dulu bisa dibayangkan perempuan Jawa yang duduk rapi sebagai sinden dan menyanyi dengan sangat halus tapi menyanyinya pakai kata-kata vulgar. Itu lain sekali kalau mereka membaca. Makanya harus hati- hati, justru dengan ditembangkan jadi ada pertemuan antara kevulgaran yang halus dalam hal seksualitas.
Vulgar ini dalam arti yang sangat nyata mereka tidak menggunakan metafora. Jadi betul-betul mereka mendeskripsikan itu. Saya tidak terlalu tertarik berbicara tentang seksualitas, nanti orang berpikir 'wah ini Serat Centhini hanya soal seksualitas'.
Bahkan ada yang bilang ini seperti kitab Kamasutra orang Jawa? memang ada hubungannya ya?
Wah jauh banget kitab Kamasutra, kitab Kamasutra tidak vulgar ya. Itu buku ajaran tentang bagaimana suami istri bersenggama jadi soal teknik-tekniknya, jadi pertama ini orang-orang sudah salah persepsi.
Oh jadi ini banyak yang salah kaprah ya?
Iya, jadi semua orang salah kaprah, dan saya nggak tahu ini kenapa ya? Mungkin orang punya obsesi memimpin dunia dari zaman dahulu dengan seksualitas, nafsu jadi makanya mereka bilang Serat Centhini itu Kamasutra.
Pernah ada yang ingin mengambil bagian dari Serat Centhini untuk jadi film?
Seperti Garin Nugroho tertarik dulu dan Nicolas Saputra. Dia tertarik sekali tapi mungkin, nanti tanya dia apakah itu 40 malam tapi bagian lain, tapi mereka merasa karya itu kontemporer isinya dan bisa jadi satu karya. Hanya saja, mereka belum menemukan caranya, karena memang susah. Harus pintar dan halus supaya kompleksitas Serat Centhini bisa digambarkan dalam satu film.
Kapan?
Sudah lama, beberapa tahun lalu dia tertarik. Tapi belum sampai karena mungkin tertarik pada karya Jawa lain nanti coba tanya dia (Garin) sendiri.
Jakarta, CNN Indonesia --
Serat Centhini menjadi gerbang bagi Elizabeth D. Inandiak, budayawan dan peneliti asal Perancis untuk mendalami budaya Jawa. Sejak awal ia menilai Serat Centhini sebagai karya sastra luar biasa.
Didukung banyak pihak, ia menyelesaikan misi 'menulis ulang' Serat Centhini ke dalam bahasa Indonesia. Proses yang panjang, karena Serat Centhini mulanya ditulis dalam aksara Jawa.
Dari bahasa Jawa yang amat halus, Serat Centhini sempat dialihbahasakan ke bahasa Perancis, sebelum akhirnya di tangan Elizabeth, terbitlah buku berjudul Centhini: Kekasih yang Tersembunyi (2008).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada CNNIndonesia.com, Elizabeth berbagi kisah di balik perjalanannya memaknai Serat Centhini. Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan sang budayawan dan penulis ulang Serat Centhini:
Apa yang membawa Anda hingga tertarik menulis tentang Serat Centhini?
Saya menemukan ringkasan Serat Centhini dalam bahasa Perancis pada tahun 1991 di Indonesia dan saya kaget sekali membaca ringkasan itu.
Sepertinya itu adalah karya sastra yang luar biasa yang waktu itu belum diterjemahkan dalam bahasa apapun, bahkan bahasa Indonesia juga tidak. Saya merasa langsung (tertarik) walaupun dari dua halaman dan itu judulnya pengembaraan orang-orang yang tidak puas dan saya merasa keakraban langsung seperti jodoh dalam karya sastra.
Beberapa tahun setelah itu saya bertemu dubes (Duta Besar) Prancis di Jakarta. Saya bercerita Serat Centhini ini seperti Borobudur tapi dalam karya sastra, dan bahasa Jawa sangat sedikit yang menguasai bahasa sastra Jawa. Kalau bahasa sehari-hari tidak masalah bahasa Jawa di Serat Centhini sangat halus, tinggi, dan rumit. Kalau tidak diterjemahkan akan hilang seperti Borobudur.
Makin lama saya menerjemahkan makin saya kaget dan sangat mengagumi teks itu karena tidak cuma isinya yang indah, bahasanya, tetapi unsur cerita, alur ceritanya sempurna.
Alur cerita memang indah sekali bukunya panjang sekali dari cerita teman-teman saya buku ini juga dibaca oleh orang-orang terdahulu nenek moyang mereka waktu itu mereka hanya baca di beberapa bagian.
Di 12 jilid pengembaraan itu?
Ya, dan saya tertarik karena itu sangat universal. Jadi dalam Serat Centhini semua karakter punya sifat universal meskipun khas Jawa pembaca yang tidak tahu tentang budaya Jawa bisa tertarik dan itu yang memuat Serat Centhini luar biasa.
Ini lah tanda karya besar sastra seperti kitab Ogive dalam Yunani kuno atau Mahabarata atau Shakespeare ini juga karya yang bisa hidup berabad-abad dan bisa lintas waktu dan lintas kebudayaan. Serat Centhini adalah karya seperti itu yang harus dihargai.
Kenapa orang-orang menyebut Serat Centhini sebagai kitab seksualitas orang Jawa?
Ya karena mereka terobsesi seks, ya ini kalau kita punya obsesi tentu itu yang akan kita cari memang dalam kitab Centhini. Ada mungkin sekitar 10-20 persen dari seluruh karya yang bercerita tentang senggama. Jadi ada macam-macam sifatnya ada yang seperti binatang, seperti budak, Jadi kita jadi budak nafsu kita, ada juga yang Ilahi.
Jadi seks atau senggama itu tentu tidak sama, dan di Serat Centhini digambarkan semua supaya nanti pembaca bisa memilih, bisa membandingkan. Wah kalau ya lain sekali tapi mungkin orang yang punya nafsu mereka akan tertarik dan membaca bagian itu dan tidak membaca bagian lain.
Potret isi buku Serat Centhini (Foto: Langgar.co / Irfan Afifi)
Jadi mereka tidak memahami bahwa senggama di Serat Centhini, bukan itu. Yang empat puluh malam yang hubungan senggama Amongraga dan Tembangraras tokoh perempuan dan laki-laki itu indah sekali dan itu digambarkan 2 jilid.
Memang ada bagian yang sangat liar dan makanya banyak orang yang malu menerjemahkan bagian itu karena merasa ini tidak boleh atau dinamakan porno. Tapi yang porno itu pandangan kita, mata kita. Pandangan kita yang kotor. Yang ini (Serat Centhini) digambarkan sebagai ajaran (pendidikan seks).
Teks Vulgar Serat Centhini, Senggama dan Keilahian
Elizabeth Inandiak (Foto: Arsip Pribadi)
Bahasan senggama di Serat Centhini seperti apa?
Bagian Amongraga dan Tambangraras, mereka itu menikah. Amongraga mengatakan kepada Tambangraras kalau kita bersenggama, saya harus pergi untuk mencari adik-adik saya.
Jadi dari awal mereka tahu bahwa mereka akan lepas di situ juga dijelaskan meski mereka sudah menikah waktu malam pertama selama 40 malam mereka tidak bersenggama, mereka saling membagi ajaran dan belajar bagaimana menjadi biasa dengan ketelanjangan mereka tentang tubuh mereka, dan bagaimana mereka belajar mengendalikan nafsu mereka agar tidak lagi nafsu seks tapi betul-betul cinta yang dalam sekali dan cinta kepada Ilahi. Kalau nafsunya sudah tenang dan tidak saling takut, mereka pada malam terakhir akhirnya bisa bersenggama dengan keindahan.
Tidak seperti binatang, dan mereka bisa merasakan kehadiran Ilahi dalam senggama mereka. Ini sangat spiritual. Tapi sesudah itu Amongraga meninggalkan istrinya untuk mencari adik-adiknya. Jadi ada keindahan, ada kesedihan jadi luar biasa. Saya tidak tahu di karya mana ada hubungan senggama seindah itu, tapi orang fokus pada yang lain-lain itu terserah mereka.
Apakah pembahasan terbilang vulgar?
Oh iya lebih mungkin.. Tapi jangan lupa Centhini dulu ditembangkan, jadi ada keseimbangan antara kata-kata ada yang sangat vulgar. Tapi karena ditembangkan secara halus dan indah, jadi kalau kita menerjemahkan kata-kata itu tanpa melihat bahwa ini adalah tembang yang ada cuma kevulgaran separuh, yang indah akan hilang.
Makanya, saya berusaha menciptakan walau pakai kata-kata yang vulgar tapi irama dan gaya menulis harus indah.
Dulu bisa dibayangkan perempuan Jawa yang duduk rapi sebagai sinden dan menyanyi dengan sangat halus tapi menyanyinya pakai kata-kata vulgar. Itu lain sekali kalau mereka membaca. Makanya harus hati- hati, justru dengan ditembangkan jadi ada pertemuan antara kevulgaran yang halus dalam hal seksualitas.
Vulgar ini dalam arti yang sangat nyata mereka tidak menggunakan metafora. Jadi betul-betul mereka mendeskripsikan itu. Saya tidak terlalu tertarik berbicara tentang seksualitas, nanti orang berpikir 'wah ini Serat Centhini hanya soal seksualitas'.
Bahkan ada yang bilang ini seperti kitab Kamasutra orang Jawa? memang ada hubungannya ya?
Wah jauh banget kitab Kamasutra, kitab Kamasutra tidak vulgar ya. Itu buku ajaran tentang bagaimana suami istri bersenggama jadi soal teknik-tekniknya, jadi pertama ini orang-orang sudah salah persepsi.
Oh jadi ini banyak yang salah kaprah ya?
Iya, jadi semua orang salah kaprah, dan saya nggak tahu ini kenapa ya? Mungkin orang punya obsesi memimpin dunia dari zaman dahulu dengan seksualitas, nafsu jadi makanya mereka bilang Serat Centhini itu Kamasutra.
Pernah ada yang ingin mengambil bagian dari Serat Centhini untuk jadi film?
Seperti Garin Nugroho tertarik dulu dan Nicolas Saputra. Dia tertarik sekali tapi mungkin, nanti tanya dia apakah itu 40 malam tapi bagian lain, tapi mereka merasa karya itu kontemporer isinya dan bisa jadi satu karya. Hanya saja, mereka belum menemukan caranya, karena memang susah. Harus pintar dan halus supaya kompleksitas Serat Centhini bisa digambarkan dalam satu film.
Kapan?
Sudah lama, beberapa tahun lalu dia tertarik. Tapi belum sampai karena mungkin tertarik pada karya Jawa lain nanti coba tanya dia (Garin) sendiri.