Meretas Batas Seksualitas dalam Arca Indonesia

CNN Indonesia | Minggu, 17/01/2021 08:17 WIB
Kala manusia modern memperkarakan erotisme dalam seni, nenek moyang Indonesia sudah membangun berbagai peninggalan seni dengan unsur seksualitas bermakna dalam. Kala manusia modern memperkarakan erotisme dalam seni, nenek moyang Indonesia sudah membangun berbagai peninggalan seni dengan unsur seksualitas bermakna dalam. (iStockphoto/javarman3)
Jakarta, CNN Indonesia --

"Jika ini sekadar vagina, saya akan membentuk labia dan klitoris juga. Namun, ini juga merupakan lambang luka."

Pernyataan itu terlontar dari mulut seorang seniman dari Brasil, Juliana Notari, kala membela nilai-nilai dalam karyanya yang memicu kontroversi, yaitu patung vagina raksasa setinggi 33 meter dengan lebar 16 meter.

Menurutnya, vagina itu tak hanya melambangkan seksualitas, tapi juga berbagai interpretasi luka yang menganga.


"Ketika muncul, terbukalah interpretasi luas ke berbagai dimensi, termasuk eksploitasi bumi oleh kapitalisme," katanya.

Kala perdebatan ini mengemuka, sejumlah warganet Indonesia turut mengomentari. Sebagian dari mereka malah membahas berbagai peninggalan sejarah di Indonesia yang juga memperlihatkan unsur seksualitas, tapi sebenarnya bermakna luas.

Tak usah jauh-jauh, ambil saja contoh Monumen Nasional. Kala membangun tugu tersebut, Presiden Sukarno berulang kali menggelar sayembara demi mendapatkan desainer yang benar-benar dapat mengakomodasi keinginannya memasukkan unsur lingga dan yoni.

Dalam ajaran Hindu, lingga (phallus) merupakan simbol kejantanan seorang pria. Sementara itu, yoni (vulva) adalah simbol perempuan atau kesuburan.

Saat proses pembangunan Monas, Sukarno disebut-sebut terinspirasi dari Candi Sukuh, satu situs keagamaan Hindu di Karanganyar, Jawa Tengah. Candi tersebut merupakan salah satu situs dengan peninggalan arca lingga dan yoni terbanyak.

Stone sculpture in ancient erotic Candi Sukuh-Hindu Temple on central Java, Indonesia. iStockphoto/flocuSalah satu relief di Candi Sukuh. (iStockphoto/flocu)

Representasi lingga dan yoni dalam peninggalan sejarah Indonesia ternyata tersebar di berbagai pelosok. Tak hanya di situs-situs keagamaan, batu nisan berbentuk phallus juga dapat ditemukan di berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Sumatra Barat hingga Nusa Tenggara Barat.

Di masa modern, simbol phallus juga dapat ditemukan di suvenir berbentuk penis dari Bali, atau yang biasa disebut lolok.

Dosen Antropologi Universitas Gadjah Mada yang berasal dari Bali, Pande Made Kutanegara, pun menyayangkan ketika simbol bermakna tersebut disalahartikan oleh turis luar Pulau Dewata.

Lebih jauh, ia juga menyayangkan ketika banyak pihak memandang miring temuan-temuan peninggalan sejarah yang mengandung unsur lingga dan yoni.

"Ini bukan porno. Lingga-yoni itu kan lambang kesuburan dan orang dulu yang memiliki relasi dengan alam sangat percaya dengan filosofi itu. Penampakan lingga-yoni itu kan pengharapan dan permohonan kesuburan, agar alam semesta gemah ripah loh jinawi," kata Pande.

CNNIndonesia.com akan membahas seluk-seluk seksualitas dan maknanya yang mendalam dalam arca-arca Indonesia dalam fokus bertajuk Seksualitas dalam Arca Indonesia. Selamat menikmati!

(has/bac)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK