Jejak Lingga-Yoni, Simbol Kejantanan dan Kesuburan dalam Seni

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 17/01/2021 11:44 WIB
Jejak lingga dan yoni sebagai simbol kesuburan terpatri di berbagai arca Indonesia, mulai dari peninggalan zaman Kerajaan Majapahit sampai Monumen Nasional. Jejak lingga dan yoni sebagai simbol kesuburan terpatri di berbagai arca Indonesia, termasuk di Candi Sukuh. (iStockphoto/javarman3)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jejak lingga dan yoni terpatri di berbagai arca Indonesia, mulai dari Candi Sukuh yang dibangun pada zaman Kerajaan Majapahit sampai tugu hasil inisiasi Presiden Sukarno, Monumen Nasional.

Dua kata ini sangat sakral dan memiliki filosofi mendalam bagi sebagian orang, terutama pemeluk agama Hindu. Ya, konsep lingga dan yoni diajarkan dalam agama Hindu yang berasal dari India.

Sebagaimana dilansir dalam situs Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lingga adalah pilar cahaya, simbol benih dari segala sesuatu yang ada di alam semesta.


Dewa Siwa kerap digambarkan sebagai sosok lingga yang mengandung energi penciptaan dan simbol organ maskulin. Namun, energi tersebut akan berfungsi apabila disatukan dengan shakti yang disimbolkan dalam wujud yoni, simbol organ feminin.

"Dengan demikian, penyatuan antara lingga sebagai organ maskulin denganyoni yang merupakan simbol organ feminin akan menghasilkan energi penciptaan, yang merupakan dasar dari semua penciptaan," demikian penjelasan situs tersebut.

Penjelasan lain terdapat dalam jurnal bertajuk Makna dan Fungsi Simbol Seks dalam Ritus Kesuburan Masa Majapahit karya M. Dwi Cahyo di situs Ristekdikti.go.id. Energi shakti yang merupakan simbol yoni bernama Uma atau Parwati. Penyatuan lingga dan yoni akan menghasilkan kekuatan tertinggi.

Pun beberapa pemeluk agama Hindu melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa dengan media berbentuk phallus atau kelamin laki-laki. Pemujaan seperti itu mungkin sudah jarang ditemui di Indonesia, tapi masih berlangsung di India sampai sekarang.

Meski demikian, pemuja Siwa di India tidak selalu mengamini mereka berhadapan dengan simbol seksual. Pasalnya, mayoritas lingga-yoni tidak digambarkan secara natural sebagai organ seks, melainkan energi penciptaan alam semesta.

Penggambaran lingga-yoni sebagai simbol seks kerap dikaitkan dengan sekte Saiwa ketimbang aliran lain dalam agama Hindu, atau bahkan Budha. Sekte Saiwa merupakan pengikut/pemuja Dewa Siwa yang menganut paham Siwaisme.

Candi Sukuh yang berada di Karanganyar, Jawa Tengah, merupakan salah satu pertapaan dengan unsur lingga-yoni sebagai simbol seks vulgar. Pada salah satu lantai bahkan terdapat relief penis dan vagina yang hampir bersentuhan.

Sukuh is a Hindu temple located on the slopes of Mt. Lawu at an altitude of 1186m above sea level. This temple is considered controversial because of its unusual shape and because of the explicit depiction of human genitals on some of its reliefs. iStockphoto/benito_anuCandi Sukuh. (iStockphoto/benito_anu)

Ada pula arca berbentuk manusia yang sedang memegang penis berukuran besar, tidak proporsional dengan ukuran tubuh. Kemudian ada arca berbentuk penis dengan empat aksesoris berbentuk bulat dekat kepala penis.

Candi Sukuh sendiri telah beberapa kali diteliti sejak ditemukan pertama kali dalam keadaan runtuh pada 1815. Berdasarkan catatan Perpustakaan Nasional, penelitian oleh Van der Vlis terhadap Candi Sukuh memunculkan berbagai tafsir.

Situs Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menuliskan salah satu tafsiran yang muncul mengenai Candi Sukuh. Menurut tafsiran itu, candi pertapa ini erat dengan tokoh Bhima sebagai penghubung manusia dengan Dewa Siwa.

Simbol seks di Candi Sukuh biasa terdapat pada sejumlah arca dan relief yang menampilkan Bhima, seperti relief Sudamala.

Penjelasan dalam jurnal di atas selaras dengan tafsiran usai penelitian Van der Vlis, bahwa Candi Sukuh adalah pertapaan yang dekat dengan Bhima.

Dosen Antropologi Universitas Gadjah Mada, Pande Made Kutanegara, menganggap wajar penampakan simbol seks pada Candi Sukuh.

Menurutnya, setiap sekte dalam agama Hindu memiliki interpretasi yang berbeda terhadap lingga-yoni. Dengan demikian, bentuk candi juga berbeda.

"Ini bukan porno. Lingga-yoni itu kan lambang kesuburan dan orang dulu yang memiliki relasi dengan alam sangat percaya dengan filosofi itu. Penampakan lingga-yoni itu kan pengharapan dan permohonan kesuburan, agar alam semesta gemah ripah loh jinawi," kataPande.

Stone sculpture in ancient erotic Candi Sukuh-Hindu Temple on central Java, Indonesia. iStockphoto/flocuRelief di Candi Sukuh. (iStockphoto/flocu)

Pande kemudian menjelaskan bahwa kehadiran lingga-yoni di Candi Sukuh lebih terang-terangan karena letaknya jauh dari pusat pemerintahan.

Berbeda dengan Candi Sukuh, arca lingga-yoni lebih simbolik dan 'halus' ditemukan di Tanjungtirta, Prambanan. Berdasarkan situs Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, arca tersebut berbentuk tabung sebagai lingga dengan penampang segi empat sebagai yoni.

Saat ditemukan, arca lingga-yoni itu tidak berada di dalam Candi Prambanan. Namun, ada kemungkinan besar bahwa arca tersebut berasal dari dalam, terlebih saat penemuan terdapat beberapa bebatuan candi di sekitar arca.

"Penampakan lingga-yoni yang 'halus' cenderung berada di dekat pusat pemerintahan suatu kerajaan, seperti Candi Prambanan. Semakin dekat dengan kerajaan akan semakin halus dan sebaliknya," kata Pande.

Selain di Pulau Jawa, situs dengan relief lingga-yoni terdapat di Situs Wadu Pa'a, Bima, Nusa Tenggara Barat. Sebagaimana dilansir situs Pusat Penelitian Arkeolog Nasional, situs ini terletak di tepian Teluk Bima sehingga dikenal dengan nama Candi Tebing.

Sama seperti yang ditemukan di kawasan Candi Prambanan, arca dan relief lingga-yoni di Candi Tebing tergolong simbolik dan "halus". Terdapat beberapa relief berbentuk tabung sebagai lingga dengan penampang penopang sebagai yoni.

The largest Hindu temple of ancient Java, and the first building was completed in the mid-9th century. The temple compound, a UNESCO World Heritage Site, is the largest Hindu temple site in Indonesia, and one of the biggest in Southeast Asia.Candi Prambanan. (iStockphoto/Valens Hascaryo)

Bangunan lain yang paling modern dengan unsur lingga-yoni adalah Monas di DKI Jakarta. Presiden Sukarno yang menginisiasi pembangunan itu menginginkan unsur lingga-yoni dalam Monas setelah terinspirasi Candi Sukuh.

Berbicara mengenai lingga-yoni pada Monas Pande menegaskan bahwa simbol itu tidak serta merta berarti Monas merupakan simbol seksual. Lingga-yoni di Monas merupakan simbol semangat yang kuat, bekerja keras, kesuburan, dan membangun bangsa.

"Bung Karno yang filosofis paham sekali bagaimana filosofi dan spirit dari simbol lingga-yoni. Bukan berarti beliau mengartikan itu pada ajaran agama tertentu, tetapi diartikan secara esensi, kemudian divisualisasikan dalam bentuk Monas," kata Pande.

(has/bac)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK