Seksualitas dan Kalimat Vulgar dalam Naskah Serat Centhini

nly | CNN Indonesia
Minggu, 06 Jun 2021 07:42 WIB
Hampir semua penerjemah dan pengulas Serat Centhini sepakat bahwa memang terdapat deskripsi seksual dan kata-kata vulgar dalam naskah Serat Centhini. Hampir semua penerjemah dan pengulas Serat Centhini sepakat bahwa memang terdapat deskripsi seksual dan kata-kata vulgar dalam naskah Serat Centhini. Foto: (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serat Centhini merupakan buku kesusastraan Jawa yang aslinya bernama Suluk Tembangraras. Buku ini ditulis dalam bahasa dan tulisan Jawa dalam bentuk tembang Macapat oleh tiga punjangga dari Kerajaan Surakarta yakni Ranggasutrasna, Yasadipura II, dan R. Ng. Sastradipura.

Buku yang selesai ditulis pada 1823 ini terdiri dari 4.000 halaman, disusun dalam 12 jilid. Halaman-halaman dalam Serat Centhini berisi hampir semua tata-cara, adat istiadat, legenda, cerita, ilmu-ilmu kebatinan dan pengetahuan lain yang hidup di kalangan masyarakat Jawa pada abad 16-17.

Sastra tersebut juga membahas hubungan seksual yang berlaku di masa itu.


Menurut Elizabeth Inandiak, yang pernah menerjemahkan beberapa pethilan Serat Centhini dalam bahasa Prancis mengatakan bahasan tentang seks dalam Serat Centhini sekitar 10 sampai 20 persen dari keseluruhan isi buku tersebut.

"Memang dalam kitab Centhini ada sekitar 10 persen atau 20 persen dari seluruh karya yang bercerita tentang senggama, jadi ada macam-macam sifatnya, ada yang seperti binatang, seperti budak nafsu, ada juga yang [melakukan seks] karena Ilahi," ujar Elizabeth kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/5).

Hal ini juga diamini oleh Pakar kajian Jawa, Dewi Sundari yang melihat bahwa bahasan seks di Serat Centhini memiliki porsi yang cukup banyak disamping topik-topik lain tentang kehidupan orang Jawa. Hal ini karena seks menjadi bagian penting dalam rutinitas orang Jawa sehingga perlu ditulis dalam Serat Centhini.

"Kalau soal pandangan orang Jawa terhadap seksualitas dalam Serat Centhini, ya pada masanya orang Jawa menganggap seksualitas tersebut sebagai bagian dari keseharian dan hidup. Bahwasannya wawasan itu perlu dan pasangan suami istri juga butuh bahan pembelajaran," ujar Dewi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/6).

Buku Serat Centhini karangan Agus Wahyudi, Jakarta, 5 Juni 2021. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)Cuplikan Isi Buku Serat Centhini karangan Agus Wahyudi (Foto: (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono))

Hal ini pula yang mendorong para pujangga Serat Centhini dalam menulis tentang topik atau pengetahuan seputar seks dibuat sangat vulgar dan apa adanya.

Bahasa Vulgar dalam Serat Centhini

Elizabeth Inandiak mengatakan topik tentang seks atau senggama dalam Serat Centhini meliputi berbagai hal yang ditunjukkan lewat cerita beberapa tokoh di dalamnya. Penggambaran seks tersebut juga tergolong vulgar dan tanpa menggunakan metafora atau perumpamaan.

Hal ini pernah ia sampaikan dalam sebuah makalahnya yang berjudul Dari Erotika ke Sir Centhini (2012). Dalam makalah tersebut Elizabeth mengatakan bahwa Serat Centhini sering kali dijuluki sebagai karya sastra adiluhung yang erotis dan mistik.

Erotis ini digambarkan lewat adegan-adegan seksual yang 'liar' seperti yang dilakukan Cebolang yakni salah satu tokoh dalam Serat Centhini. Ia adalah seorang remaja yang bertubuh luwes dan berparas elok.

Cebolang sering menyulut nafsu wanita maupun pria yang tersentuh olehnya, walau tak sengaja. Ia pun menyadari dosa-dosanya dan memutuskan untuk menceburkan diri dalam kelakuan-kelakuan yang lebih hina lagi.

Cebolang pun berkelana bersama empat kawannya yang mengisi empat jilid Serat Centhini. Di salah satu bagian dalam jilid tersebut, Cebolang bertemu dengan Adipati Daha saat singgah di Ponorogo.

Sang Adipati terbawa nafsu melihat keelokan paras Cebolang dan memintanya untuk berhubungan seks.

"Suatu malam, Adipati bertanya, 'Mana yang lebih nikmat, menunggangi atau ditunggangi? Bedanya bagaimana?'"

"'Lebih nikmat ditunggangi, tiada bandingnya,' ujar Cebolang sembari menjelaskan kenikmatan saat direngkuh. Dan mereka pun bertukar posisi."

Tak hanya itu, topik mengenai hubungan badan juga sangat gamblang ditulis oleh ketiga pujangga pengarang Serat Centhini seperti yang terdapat Tembang 42.

"Cebolang berkata, 'Bagaimana pendapatmu, saudaraku? Bisa-bisa kita jatuh cinta, tapi itu apa benar-benar bahaya? Ayo, kita masuki mereka pelan-pelan dalam tidurnya, gadis berbuah dada kuning itu untukmu, aku ambil yang berperigi hitam legam. Nanti kita tukaran.'"

Simak naskah seksual dalam Serat Centhini lainnya di halaman berikutnya..

Cara Memuaskan Wanita dalam Serat Centhini

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER