Penulis Toeti Heraty Meninggal Dunia pada Usia 87 Tahun

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 13/06/2021 09:50 WIB
Penulis sekaligus guru besar Universitas Indonesia, Toeti Heraty Noerhadi Roosseno, meninggal dunia pada Minggu (13/6) pada usia 87 tahun. Ilustrasi. Penulis sekaligus guru besar Universitas Indonesia, Toeti Heraty Noerhadi Roosseno, meninggal dunia pada Minggu (13/6) pada usia 87 tahun. (iStockphoto/BrankoPhoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penulis sekaligus guru besar Universitas Indonesia, Toeti Heraty Noerhadi Roosseno, meninggal dunia pada Minggu (13/6) pada usia 87 tahun.

"Telah berpulang ke ramatullah dengan tenang Ibunda/Bude/Ibu Mertua/Buyut yang tercinta Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi binti R. Roosseno pada usia 87 tahun di RS MMC Jakarta pada hari Minggu, 13 Juni 2021, pukul 05.10 pagi karena sakit," demikian pernyataan keluarga yang diterima CNNIndonesia.com, Minggu (13/6).

"Almarhumah akan disemayamkan di rumah duka: Jl. Cemara No.6, Menteng, Jakarta Pusat. Insya Allah dimakamkan bada' dzuhur di TPU Karet Bivak. Mohon doa dan dibukakan pintu maaf untuk almarhumah," lanjut pernyataan yang bertanda tangan dari anak-anak serta cucu-cucu Toeti.


Akademisi UI dan dokter Pandu Riono juga mengabarkan hal serupa di media sosialnya, Minggu (13/6).



Toeti merupakan sastrawan sekaligus filsuf kenamaan di Indonesia. Lulus sebagai sarjana muda kedokteran Universitas Indonesia pada 1955, psikologi UI pada 1962, Toeti juga menjadi sarjana filsafat dari Rijk Universiteit Leiden Belanda pada 1974. Pada 1979, ia lulus sebagai doktor filsafat dari Universitas Indonesia.

Selain sebagai akademisi dan mengajar di sejumlah universitas, Toeti juga aktif sebagai penulis. Ia pernah mengikuti sejumlah festival internasional, seperti di Rotterdam pada 1981, Iowa pada 1984. Puisi-puisi karya Toeti juga telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing, seperti Belanda, Inggris, Jerman, Rusia, dan Prancis.

Toeti Heraty bahkan sempat dijuluki sebagai satu-satunya penyair kontemporer perempuan terkemuka di Indonesia, berkat karyanya yang memiliki tingkat metafora yang kompleks.

Ia juga dianggap sebagai salah satu pemikir feminisme generasi pertama dan menghasilkan banyak pemikiran penting soal perempuan. Puisinya merefleksikan bukan hanya feminisme, tetapi juga kecintaan pada seni.

Toeti Heraty tercatat telah melahirkan sejumlah buku, seperti Sajak-sajak 33 (1973), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979), Mimpi dan Pretensi (1982), Aku dalam Budaya (1984), Antologi Puisi Indonesia 1997 (ap, 1977), dan Sembilan Kerlip Cermin (ap, 2000).

Salah satu karya Toeti, Calon Arang: the Story of A Woman Victimized by Patriarchy, adalah lirik yang setebal buku. Karya itu berisi pandangan kritis soal persepsi dari figur tipikal Indonesia, Calon Arang.

Puisi itu disebut menghadirkan gambaran tiga dimensi dari seorang perempuan yang mencoba betahan atas lingkungan patriarki yang represif. Namun ia justru dianggap sebagai penyihir.

(end)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK