Kisah Nicholas Saputra yang Mencoba Bertani di Sumatera

nly, CNN Indonesia | Senin, 21/06/2021 14:30 WIB
Pandemi Covid-19 memicu Nicolas Saputra untuk terjun langsung di industri pertanian, dan menilai hal tersebut bisa jadi ajang meditasi. Nicholas Saputra (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia --

21 Juni dirayakan sebagai hari Krida Pertanian Indonesia, bertepatan pula dengan ulang tahun ke-60 Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Di dunia hiburan dalam rangka hari Krida Pertanian, sejumlah artis dan selebritas ada pula yang mencoba bergelut dalam dunia pertanian. Salah satunya adalah aktor Nicolas Saputra.

Selain banyak menyerap pengetahuan baru sebagai aktor yang belajar bertani, Nicolas mengaku aktivitas itu menjadi sarana meditasi bagi dirinya.


Dalam wawancara bersama startup peracik rempah yang mendukung petani lokal Rahsa Nusantara pada Januari, Nicolas Saputra mengaku tengah bercocok tanam di kawasan sekitar vila miliknya, Terrario, yang berada di Tangkahan, Pulau Sumatera.

"Waktu pandemi itu saya sempat tinggal di tempat saya, ada vila di Sumatera, selama dua bulan dan mulai bercocok tanam," ujar Nico.

Di kebun miliknya itu, pemeran Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) ini banyak belajar tentang cara menanam jenis tanaman yang tepat dengan kondisi tanah di sana.

"Jadi mengumpulkan, mengecek apa yang bisa ditanam di sana, terus mengenali kembali tanah yang ada di sana, bagaimana cara menyuburkan tanaman-tanaman tertentu. Gitu lah, jadi petani kemarin," tuturnya.

Tak hanya sebagai media untuk belajar tentang tanaman, Nico juga mengatakan kegiatan bertani yang dilakukan sangat membantunya untuk merelaksasi diri.

"Sebenarnya sangat meditatif dan di saat bersamaan kagum dan dari situ bisa belajar bagaimana alam ini bekerja. Unsur-unsurnya lalu treatment kita ke alam itu seperti apa, kecocokannya, temperatur udara, semuanya kan jadi satu kesatuan," jelasnya.

"Dan kagum lah melihat apa yang kita tanam tumbuh walaupun butuh kesabaran," tambah Nico.

Nico yang awalnya menanam tanaman untuk konsumsi sehari-hari, tak menyangka hasil kegiatan bercocok tanam yang dilakukannya membuahkan hasil yang menguntungkan.

Ia pun mengaku senang lantaran bisa barter hasil tani miliknya dengan petani yang lain.

"Kemarin pas lagi panen durian saya bisa barter terong, gambas, dan kacang panjang sama yang baru panen durian," ujar Nico.

Tak hanya bercocok tanam untuk dirinya sendiri, Nico juga aktif berpartisipasi dalam memberdayakan petani dan perempuan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengolah hasil pertanian.

"Waktu itu yang membuat saya merasa impresif dan melihat potensi untuk berusaha tapi juga bisa berbuat kebaikan terhadap sekitar ketika bilang rahsa nusantara bekerja sama dengan petani dan ibu-ibu yang termarjinalkan diajak kerjasama untuk terlibat mendapatkan keuntungan dan saling sejahtera bersama," ujar Nico.

Nico menyebut bahwa petani memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan ekosistem keanekaragaman hayati. Ia pun menegaskan bahwa tugas tersebut bukan hanya tanggung jawab petani melainkan semua orang.

"Dan kalau berbicara tentang nature diversity (Keanekaragaman hayati), menjaga keanekaragaman dan memanfaatkan keanekaragaman itu penting. Saya rasa penting sekali kalau orang-orang mencari tahu bahwa nature diversity tu penting tentu alam kita akan di-treat sebagaimana mestinya seperti menghindari monokultur dan lainnya," ujar Nico.

Tak hanya itu, Nico juga ikut mendukung pemenuhan hak-hak perempuan dalam sektor pertanian. Ia menilai perempuan-perempuan merupakan sumber daya manusia yang penting dalam menjaga kegiatan usaha pertanian.

"Tidak bisa dipisahkan kalau kita ngomongin alam dan masyarakat di pedesaan tentu petani dan perempuan jadi satu kesatuan, dan itu masalah yang harus kita selesaikan bersama, memastikan perempuan mendapatkan haknya dan petani juga mendapatkan haknya yang sesuai dengan usahanya," ujar Nico.

Dalam berkontribusi terhadap membantu petani dan perempuan, Nicholas rupanya sering berdiskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat mulai dari perkotaan, petani di pedesaan, hingga kelompok adat.

Dari perjalanan tersebut, Nico mengaku ikut merasakan masalah yang beragam yang mendorongnya untuk ikut mencari jalan keluar. Salah satu kontribusi yang bisa ia berikan adalah melalui pengetahuan yang dimilikinya.

"Jangan lupa sekarang semuanya sedang kejar-kejaran dengan teknologi, digitalisasi dan kemajuan yang kita hadapi, mungkin sekarang semuanya harus menyatukan pikiran agar damage-nya nggak semakin besar, karena ini ekosistemnya sudah ada, kendaraannya sudah ada," ujar Nico,

Nicholas Saputra merupakan artis yang terkenal lewat perannya di beberapa produksi layar lebar seperti Janji Joni (2005), Ada Apa Dengan Cinta (2006), Tiga Doa Tiga Cinta (2008), Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016), dan Aruna dan Lidahnya (2018).

(nly/fjr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK