Review Film: Haseen Dillruba

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 09/07/2021 19:30 WIB
Review Haseen Dillruba menyebut film ini terlepas dari cerita penuh dramatisasi, adalah hiburan yang menyenangkan. Review Haseen Dillruba menyebut film ini terlepas dari cerita penuh dramatisasi, adalah hiburan yang menyenangkan. (Singh Tejinder/NETFLIX)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menyaksikan Haseen Dillruba rasanya bagai melihat sinetron dengan tambahan bumbu cerita kriminal ala-ala Detective Conan atau Kindaichi dan dibuat lebih berkelas tanpa menghilangkan ciri khas Bollywood: musik dan backsound di banyak adegan.

Belum lagi dengan segala dramatisasi cerita yang sesekali terasa di luar nalar. Namun anehnya, segala hal itu membuat saya yang semula tertawa meledek melihat film ini menjadi hanyut dalam segala drama yang ada.

Sehingga saya bisa menyebut bahwa segala drama ala opera sabun dengan level sinematografi sekelas film laga ini membuat Haseen Dillruba, bagi saya, sebagai pelarian singkat yang menyenangkan dari kenyataan pahit gelombang dua Covid-19 di Indonesia. Saya tak peduli bila ada banyak kritikan atas film ini di negeri asalnya, mulai dari cerita irasional, hingga performa pemainnya yang dianggap "biasa saja".


Justru, dalam benak saya yang mulai lelah melihat kurva Covid-19 Indonesia kini seperti di India beberapa waktu lalu, film ini dan segala isinya yang dianggap 'receh' mampu membuat saya tertawa, tegang, hingga tak bisa memikirkan hal lain selain menikmati durasi film yang mencapai dua jam 16 menit.

Saya akui cerita yang ditulis oleh Kanika Dhillon ini sebenarnya memiliki gagasan dasar yang cerdas: drama kriminal dengan gaya narasi ala kilas balik dan banyak sudut pandang serta trik memainkan pikiran penonton.

Namun dramatisasi yang diberikan sebagai bumbu dalam film ini membuat alur cerita di sejumlah bagian menjadi tidak logis, bahkan cenderung berlebihan. Belum lagi dengan segala backsound serta lagu yang disertakan dalam film ini.

Saya mengerti bahwasanya musik adalah bagian dari budaya film serta ciri khas Bollywood. Namun ini film yang diniatkan sebagai thriller dan kriminal, keberadaan musik penuh cinta apalagi yang mendayu-dayu rasanya kurang pas.

Bukan hanya itu, gaya penyutradaraan dan efek CGI di sejumlah adegan juga terasa terlalu banyak bumbu. Sehingga saya beberapa kali tertawa saat melihat itu karena teringat beragam meme kocak soal adegan dramatis film-film Bollywood.

Haseen DillrubaReview Haseen Dillruba menyebut cerita yang ditulis oleh Kanika Dhillon ini sebenarnya memiliki gagasan dasar yang cerdas: drama kriminal dengan gaya narasi ala kilas balik dan banyak sudut pandang serta trik memainkan pikiran penonton. (Sardar Singh Virk/Netflix)

Mungkin, Dhillon dan sutradara Vinil Mathew secara totalitas menerapkan kutipan dari 'penulis' Dinesh Pandit yang terus disebut dalam film ini: "cinta abadi akan selalu dinodai beberapa tetes darah," atau "jika cinta tidak membuatmu hampir gila, itu bukan cinta sejati". Maka, wajarlah tingkah karakter film ini hampir gila karena jadi budak cinta.

Meski begitu, bagian dramatisasi itu terasa berguna ketika memasuki cerita yang intens. Misalnya ketika kejar-kejaran di jalanan, atau saat adegan bercumbu. Ditambah dengan aktor dan aktris yang memiliki paras aduhai, film ini jelas memanjakan mata.

Terlepas dari segala ke-lebay-an film ini, Haseen Dillruba sebenarnya menggambarkan banyak masalah sosial yang terjadi di masyarakat India. Sedikit banyak sejumlah isu sosial itu juga ada di tengah masyarakat Indonesia.

Hal paling kental yang digambarkan dalam film ini adalah masalah perkawinan, terutama aspek penting dari komunikasi antar pasangan. Mulai dari keinginan masing-masing individu, hingga masalah urusan ranjang.

Rishu (Vikrant Massey), yang digambarkan sebagai sosok kikuk di hadapan perempuan, nyatanya mengalami masalah akan kepercayaan diri. Dirinya terlalu mengandalkan ramuan kimia untuk bisa menjadi 'lelaki sejati'. Aspek rapuh yang dirasakan banyak lelaki di mana pun namun enggan untuk diakui karena 'gengsi'.

Karena rasa insecure itu, Rishu pun sering kali mengambil tindakan hanya berdasarkan asumsinya sendiri dengan tujuan memenangkan hati Rani (Taapsee Pannu). Padahal, Rani sudah berusaha untuk memancing Rishu untuk lebih terbuka seperti selayaknya kebanyakan perempuan yang senang untuk membicarakan banyak hal dengan pasangannya.

Hingga kemudian, Rani pun jenuh dengan sikap aneh Rishu dan merasa pernikahannya amat membosankan. Ia lalu mencari pelampiasan kepada Neel (Harshvardhan Rane) padahal perkawinannya baru jalan sebentar. Di sini, Rani menggambarkan ketidakdewasaan dan ketidaksiapan individu akan perkawinan yang memang membutuhkan komitmen serta perjuangan untuk bisa bertahan.

Haseen DillrubaRani (Taapsee Pannu) pun jenuh dengan sikap aneh Rishu dan merasa pernikahannya amat membosankan dan mencari pelampiasan kepada Neel (Harshvardhan Rane). (Singh Tejinder/NETFLIX)

Kondisi Rani itu berkaitan dengan isu kedua yang jelas digambarkan dalam film ini, yaitu tuntutan sosial kepada setiap individu untuk menikah dan memiliki perkawinan juga jodoh yang 'sempurna'. Padahal, tak ada hubungan dan pasangan yang benar-benar sempurna.

Banyak hal dilakukan para orang tua demi mewujudkan ambisi mereka mendapatkan menantu atau pasangan untuk anak mereka sesempurna mungkin. Mulai dari mencocokkan dengan astrologi (atau dalam budaya Jawa dikenal sebagai penanggalan alias weton), hingga melebih-lebihkan profil anak mereka.

Akhirnya, dua insan yang menikah dengan segala banyak bumbu-bumbu di luar cinta dan kejujuran itulah yang membuat perkawinan terasa 'plot twist', seperti kehidupan Rani dan Rishu.

Dari sudut pandang kesetaraan, Haseen Dillruba juga menggambarkan posisi perempuan yang masih dianggap oleh masyarakat sebagai manusia dengan tujuan hidup 'hanya' mengurus suami dan keluarga. Pemahaman yang sebenarnya masih banyak dianut di Asia, termasuk Indonesia, dan banyak pula yang sebenarnya tak masalah dengan hal ini.

Namun menariknya, Kanika Dhillon secara perlahan mengubah posisi Rani yang sebelumnya sebagai objek oleh keluarga mertua serta kepolisian, menjadi pemegang kunci dalam cerita Haseen Dillruba.

Belum lagi ketika Dhillon dengan sengaja berusaha membuat penggiringan opini melalui karakter Inspektur Kishore Rawat (Aditya Srivastava) sehingga membuat cerita menjadi tidak terduga. Saya hanya bisa terperangah melihat akhir dari film ini. Ha-ha-ha.

Hingga akhirnya, saya tak bisa seutuhnya menggerutu akan cerita film ini yang di luar nalar dan lebay. Toh saya menikmatinya dan cukup terhibur atas bagaimana Kanika Dhillon dan Vinil Mathew mengakhiri kisah film 'ajaib' ini.

[Gambas:Youtube]



(end)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK