Review Film: The Conjuring, The Devil Made Me Do It

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 04/06/2021 19:45 WIB
Review The Conjuring The Devil Made Me Do It menilai film ini berbeda daripada dua film sebelumnya. Review The Conjuring The Devil Made Me Do It menilai film ini berbeda daripada dua film sebelumnya. (dok. Warner Bros Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia --

Butuh lima tahun untuk menantikan apa yang akan disajikan James Wan melalui saga The Conjuring, setelah terakhir kali meneror penonton horor dengan Valak. Kini, pasangan Ed dan Lorraine Warren kembali dalam saga ke-3 The Conjuring: The Devil Made Me Do It.

Saga ini semestinya dirilis pada 2020 lalu. Namun situasi pandemi terjadi dan memaksa semua film box office batal pamer di layar lebar, termasuk The Conjuring. Apalagi, Warner Bros amat menyayangi saga horor ini sebagai pengeruk pundi-pundi setelah Tenet tak bisa sesuai harapan.

Namun sajian kisah The Conjuring yang masih diambil dari fail kasus nyata dari demonolog mendiang Ed dan Lorraine Warren ini sedikit berbeda daripada dua film sebelumnya.


James Wan membuktikan ucapannya pada Oktober 2020 lalu --melalui sebuah video Faith & Fear: The Conjuring Universe Behind the Scene-- bahwa selaku kreator semesta The Conjuring, ia akan melakukan pendekatan berbeda pada babak teranyar.

Kala itu ia hanya menjelaskan gambaran umum film ini, yaitu diangkat dari sebuah kasus pembunuhan yang untuk pertama kalinya dalam sejarah hukum Amerika Serikat, klaim kerasukan dijadikan sebuah pembelaan.

Gagasan ide yang dikemukakan James Wan, dan Vera Farmiga juga Patrick Wilson sebagai pemain Lorraine dan Ed Warren, sebenarnya menjanjikan. Namun apakah gagasan itu akan semenarik dua saga sebelumnya saat dituang dalam gambar bergerak?

Jawabannya kembali ke penonton. Saya sendiri sulit memutuskan apakah film ini lebih menarik atau tidak, bila dibanding dua kisah sebelumnya.

Jelas James Wan bersama sutradara Michael Chaves (The Curse of La Llorona, 2019) dan David Leslie Johnson-McGoldrick (The Conjuring 2, 2016) selaku penulis naskah menampilkan kisah dengan pola berbeda dari yang sudah tayang. Hal baru itu tak buruk, hanya terasa berbeda tapi juga tidak bisa disebut mengagumkan.

The Conjuring 3: The Devil Made Me Do ItReview The Conjuring The Devil Made Me Do It menilai film ini berbeda daripada dua film sebelumnya.: (dok. Warner Bros Pictures)

Sederhananya, The Conjuring 3 lebih mirip film kriminal-thriller dengan bumbu horor ala semesta yang sudah dikenal pada dua film sebelumnya. Dengan kata lain pula, film ini lebih rasional dibanding saga pertama dan kedua.

Hal ini berbeda dibanding The Conjuring 1 dan 2 yang lebih fokus dengan segala kehororan supranatural dalam sebuah rumah, yang kadang tak bisa dijelaskan secara nalar tapi mampu membuat penonton menjerit-jerit.

Kini racikan itu tak banyak ditampilkan. Memang pada akhirnya pola narasi macam adaptasi folklor Amityville masih jadi andalan, namun sebagian besar film ini mengambil latar di banyak lokasi dan tidak menjadikan rumah berhantu sebagai sajian utama.

Sementara itu, gaya penuturan investigatif yang sudah disajikan sejak saga pertama dan kedua kini terasa lebih kental. Bumbu jumpscare film ini pun lebih halus bila dibanding teror Valak pada The Conjuring 2.

Padahal, kekuatan iblis yang dinarasikan pada film ini sebenarnya lebih kuat dibanding Valak atau pun Batsheba yang menghantui di film pertama. Saya pun yakin iblis dalam The Conjuring 3 lebih kuat dibanding Annabelle.

Tampaknya tim kreator memang sengaja menahan diri tidak mengekspos besar-besaran kengerian dalam The Conjuring 3, dan hanya bermain-main dengan gaya baru ala kisah kriminal, lelucon yang lebih renyah, dan okultisme yang lebih gelap.

Satu lagi. James Wan kini lebih berani memperluas cakupan horor dalam The Conjuring 3, seperti kehadiran mayat hidup, okultisme, hingga sedikit bumbu slasher yang mungkin membuat sebagian penonton merasa terganggu.

Dengan segala kebaruan itu, jelas The Conjuring 3 sebenarnya memiliki konsep yang menjanjikan. Namun saya merasa konsep itu tak membuat saya terpuaskan, seperti dengan teror saga pertama, kedua, ataupun seri teror Annabelle.

The Conjuring 3: The Devil Made Me Do ItReview The Conjuring 3: The Devil Made Me Do It menilai film ini lebih mirip film kriminal-thriller dengan bumbu horor ala semesta yang sudah dikenal pada dua film sebelumnya. (dok. Warner Bros Pictures)

Tapi apakah film ini buruk? Tidak sama sekali. Saya justru menilai film ini memiliki persiapan yang matang, mulai dari cerita, set, efek visual, hingga aksi para pemainnya. Hanya saja, rasa rindu keluar dari bioskop berupa syok akibat dikejar setan semesta The Conjuring tak terjadi kali ini.

Harapan menemukan jawaban --yang harus saya akui-- rasa kurang puas ini pun pupus ketika adegan post-credit yang dihapus.

Menurut pengakuan Chaves, adegan tersebut merupakan gambaran perluasan semesta The Conjuring berikutnya. Chaves menilai dengan menghapus bagian tersebut, The Conjuring 3 akan menjadi penutup trilogi awal yang solid.

Mohon maaf Chaves, saya justru tidak merasa film ini sebagai penutup yang solid. Film ini bahkan tak menggambarkan adanya keterkaitan yang jelas dari kisah-kisah sebelumnya. Sehingga, jangan repot-repot menghubungkan film ini dengan lini masa semesta The Conjuring yang sudah ada.

Namun bila ucapan Chaves lainnya yang menyebut bahwa ada peluang film ini menjadi landasan baru bagi pengembangan semesta The Conjuring berikutnya, itu bisa saja terjadi mengingat sejumlah perubahan yang tampak pada film ini.

Pada akhirnya, segala kritikan dan ulasan yang pedas tak akan membuat James Wan dan kawan-kawan gentar atau mengubah ide. James Wan, didukung dengan ucapan Michael Chaves, sudah punya setumpuk kasus Ed dan Lorraine Warren dan segudang ide usil untuk menakuti penonton The Conjuring Universe.

Toh karya The Conjuring apapun bentuknya nanti agaknya akan selalu mampu menarik penonton ke bioskop, terutama mereka yang berasal dari Asia.

[Gambas:Youtube]



(end)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK