Semua yang berkaitan dengan Bali memang identik indah dan romantis. Mulai dari bentang alamnya, adat istiadatnya, dan tak ketinggalan orang Bali yang cantik dan tampan.
Semua hal tersebut berpadu dengan harmonis seakan saling melengkapi dalam film A Perfect Fit yang kini telah tayang di Netflix.
Sesuai keterangan di kolom deskripsi, film bergenre romantis A Perfect Fit ini seolah ingin membawa semua hal romantis di Bali lewat 'ke-uwu-an' pasangan muda-mudi Saski (Nadya Arina) dan Rio (Refal Hady).
Sudah tak terhitung ada berapa banyak momen dan adegan romantis di film ini yang membuat hati saya ikut berbunga-bunga.
Dimulai dari momen ketika Saski menginjakkan kakinya di toko sepatu milik Rio setelah terpaksa mengikuti keinginan temannya, Andra (Laura Theux) yang mempercayai ramalan bahwa Saski akan bertemu pasangan sejatinya setelah berputar sebanyak tiga kali.
Kehadiran Saski yang tidak direncanakan itu mengagetkan Rio yang masih berbenah untuk menyelesaikan toko sepatunya. Namun, ia tak kuasa terpesona kecantikan Saski dan mengijinkan gadis itu untuk memilih sepatu di tokonya.
Tak hanya sekadar membantu Saski menemukan sepatu yang pas, Rio yang berjiwa bebas dan suka tantangan bahkan mendorong Saski untuk melihat dunia dari sudut pandang berbeda.
Hingga, mereka pun akhirnya terlibat dalam petualangan seru di Bali dan bertemu berbagai kejadian yang membuka hati.
Momen seperti ini sangat familiar di banyak film-film dan drama romantis lain yang bercerita tentang orang-orang yang saling jatuh cinta karena 'keajaiban'.
Salah satunya di film The Notting Hill (1999) yang bercerita tentang Will Thacker (Hugh Grant) seorang pemilik toko buku The Travel Book Co. di film Notting Hill yang jatuh cinta pada Anna Scott (Julia Roberts) yang secara tiba-tiba datang ke tokonya.
Tak perlu jauh-jauh, cerita tentang cinta yang datang tiba-tiba ini juga sudah pernah hadir di film besutan Netflix lain yakni Sobat Ambyar yang tayang pada Januari lalu.
Film A Perfect Fit (Foto: dok. Netflix)
Film dengan iringan lagu-lagu khas maestro Didi Kempot itu juga menggambarkan kisah cinta yang berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, lalu berubah menjadi cinta.
Tak hanya menghadirkan adegan romantis, di film A Perfect Fit, sutradara Hadrah Daeng Ratu yang juga mengarahkan film Aku Tahu Kapan Kamu Mati (2020), Makmum (2019) dan Jaga Pocong (2018) ini, juga lebih berani untuk menghadirkan adegan ciuman, mulai dari yang romantis hingga yang 'panas'.
Mau tahu? Siap-siap untuk tersenyum saat menyaksikan Saski dan Rio akhirnya saling mengakui perasaan mereka dan berciuman mesra di bawah pelepah daun pisang di bawah guyuran hujan.
Momen ciuman di bawah gerimis tipis-tipis ini sangat mirip dalam drama-drama korea yang belakangan saya tonton untuk mengusir kebosanan.
Adegan pun sukses membuat saya tersenyum sambil sesekali memegang pipi yang ikutan hangat melihat kemesraan mereka.
Lanjutan review dapat dibaca di halaman berikutnya..
'Ke-uwu-an' Saski dan Rio di film ini hadir dalam takaran yang pas untuk membuat saya dan mungkin penonton lainnya kembali bisa merasakan momen indah di masa-masa suram seperti saat ini.
Sayangnya, momen-momen romantis seperti itu harus diganggu dengan nilai-nilai adat yang dipaksa untuk masuk menjadi bagian dari film ini. Memang sih, tidak ada salahnya mencampur adat untuk menjadi bagian dalam film yang berlatar kehidupan modern.
Film A Perfect Fit (Foto: dok. Netflix)
Hanya saja pilihan sutradara untuk menentukan adat dalam film ini terlalu banyak bahkan bisa dibilang mengambil alih kehidupan dua tokoh utama dalam film ini. Seperti ketika Saksi dipaksa untuk mengikuti ritual-ritual agar pernikahannya dengan Deni (Giorgino Abraham) bisa berjalan tanpa hambatan.
Syarat ritualnya pun tidak main-main anehnya, seperti mengumpulkan air "kelembutan" apalah itu yang diambil dari 118 mata air. Nasib sama juga dialami tunangan Rio, Tiara (Anggika Bolsterli) yang diwajibkan membawa banyak persyaratan di proses jelang pernikahan mereka.
Untungnya, adat yang rumit tersebut rupanya menjadi jalan agar dua tokoh utama dalam film ini yakni Rio dan Saksi bisa kembali bersatu seperti yang seharusnya.
Metode mencampur adat dalam cerita modern ini rupanya sengaja dipilih Garin Nugroho sebagai penulis naskah yang meyakini bahwa adat yang dianggap sebagai kemunduran justru bisa menyelesaikan masalah.
"Penonton global bisa melihat budaya sebagai hal yang menarik dan tidak memundurkan modernitas. Keunikan budaya dalam film ini akan menimbulkan dilema. Tetapi budaya juga menyelesaikan masalah. Jadi, budaya itu bukan hanya merawat tetapi juga bisa menyelesaikan masalah. Itu yang akan paling menarik bagi penonton global," ujar Garin Nugroho dalam jumpa media virtual Kamis (15/7).
Untungnya, setelah melalui lika-liku adat istiadat yang rumit dan membuat saya harus menyalakan menu terjemahan untuk bisa memahaminya karena menggunakan bahasa Bali, film ini ditutup dengan akhir bahagia bak akhir cerita dongeng.
Saya pun ikut senang melihat Saski dan Rio akhirnya bersama setelah mengalahkan belenggu adat yang menyiksa.
Hal menarik lain dari film ini adalah kehadiran bintang papan atas Christine Hakim, Ayu Laksmi, Mathias Muchus, Karina Suwandi hingga Jajang C. Noer membuat film A Perfect Fit menjadi kombinasi yang pas antara generasi tua dan generasi muda.
Tak hanya unggul dari segi pemainnya, film A Perfect Fit juga menjadi sebuah perpaduan yang apik antara visual yang berisi bentang alam Bali yang sudah tidak perlu diragukan lagi keindahannya dengan lagu-lagu beralunan merdu yang terstruktur dan tidak tumpang tindih.
Film A Perfect Fit telah tayang di Netflix perdana pada 15 Juli 2021.
Jakarta, CNN Indonesia --
Semua yang berkaitan dengan Bali memang identik indah dan romantis. Mulai dari bentang alamnya, adat istiadatnya, dan tak ketinggalan orang Bali yang cantik dan tampan.
Semua hal tersebut berpadu dengan harmonis seakan saling melengkapi dalam film A Perfect Fit yang kini telah tayang di Netflix.
Sesuai keterangan di kolom deskripsi, film bergenre romantis A Perfect Fit ini seolah ingin membawa semua hal romantis di Bali lewat 'ke-uwu-an' pasangan muda-mudi Saski (Nadya Arina) dan Rio (Refal Hady).
Sudah tak terhitung ada berapa banyak momen dan adegan romantis di film ini yang membuat hati saya ikut berbunga-bunga.
Dimulai dari momen ketika Saski menginjakkan kakinya di toko sepatu milik Rio setelah terpaksa mengikuti keinginan temannya, Andra (Laura Theux) yang mempercayai ramalan bahwa Saski akan bertemu pasangan sejatinya setelah berputar sebanyak tiga kali.
Kehadiran Saski yang tidak direncanakan itu mengagetkan Rio yang masih berbenah untuk menyelesaikan toko sepatunya. Namun, ia tak kuasa terpesona kecantikan Saski dan mengijinkan gadis itu untuk memilih sepatu di tokonya.
Tak hanya sekadar membantu Saski menemukan sepatu yang pas, Rio yang berjiwa bebas dan suka tantangan bahkan mendorong Saski untuk melihat dunia dari sudut pandang berbeda.
Hingga, mereka pun akhirnya terlibat dalam petualangan seru di Bali dan bertemu berbagai kejadian yang membuka hati.
Momen seperti ini sangat familiar di banyak film-film dan drama romantis lain yang bercerita tentang orang-orang yang saling jatuh cinta karena 'keajaiban'.
Salah satunya di film The Notting Hill (1999) yang bercerita tentang Will Thacker (Hugh Grant) seorang pemilik toko buku The Travel Book Co. di film Notting Hill yang jatuh cinta pada Anna Scott (Julia Roberts) yang secara tiba-tiba datang ke tokonya.
Tak perlu jauh-jauh, cerita tentang cinta yang datang tiba-tiba ini juga sudah pernah hadir di film besutan Netflix lain yakni Sobat Ambyar yang tayang pada Januari lalu.
Film A Perfect Fit (Foto: dok. Netflix)
Film dengan iringan lagu-lagu khas maestro Didi Kempot itu juga menggambarkan kisah cinta yang berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, lalu berubah menjadi cinta.
Tak hanya menghadirkan adegan romantis, di film A Perfect Fit, sutradara Hadrah Daeng Ratu yang juga mengarahkan film Aku Tahu Kapan Kamu Mati (2020), Makmum (2019) dan Jaga Pocong (2018) ini, juga lebih berani untuk menghadirkan adegan ciuman, mulai dari yang romantis hingga yang 'panas'.
Mau tahu? Siap-siap untuk tersenyum saat menyaksikan Saski dan Rio akhirnya saling mengakui perasaan mereka dan berciuman mesra di bawah pelepah daun pisang di bawah guyuran hujan.
Momen ciuman di bawah gerimis tipis-tipis ini sangat mirip dalam drama-drama korea yang belakangan saya tonton untuk mengusir kebosanan.
Adegan pun sukses membuat saya tersenyum sambil sesekali memegang pipi yang ikutan hangat melihat kemesraan mereka.
Lanjutan review dapat dibaca di halaman berikutnya..
Perpaduan Manisnya Cinta dan Indahnya Bali
Film A Perfect Fit (Foto: Netflix)
'Ke-uwu-an' Saski dan Rio di film ini hadir dalam takaran yang pas untuk membuat saya dan mungkin penonton lainnya kembali bisa merasakan momen indah di masa-masa suram seperti saat ini.
Sayangnya, momen-momen romantis seperti itu harus diganggu dengan nilai-nilai adat yang dipaksa untuk masuk menjadi bagian dari film ini. Memang sih, tidak ada salahnya mencampur adat untuk menjadi bagian dalam film yang berlatar kehidupan modern.
Film A Perfect Fit (Foto: dok. Netflix)
Hanya saja pilihan sutradara untuk menentukan adat dalam film ini terlalu banyak bahkan bisa dibilang mengambil alih kehidupan dua tokoh utama dalam film ini. Seperti ketika Saksi dipaksa untuk mengikuti ritual-ritual agar pernikahannya dengan Deni (Giorgino Abraham) bisa berjalan tanpa hambatan.
Syarat ritualnya pun tidak main-main anehnya, seperti mengumpulkan air "kelembutan" apalah itu yang diambil dari 118 mata air. Nasib sama juga dialami tunangan Rio, Tiara (Anggika Bolsterli) yang diwajibkan membawa banyak persyaratan di proses jelang pernikahan mereka.
Untungnya, adat yang rumit tersebut rupanya menjadi jalan agar dua tokoh utama dalam film ini yakni Rio dan Saksi bisa kembali bersatu seperti yang seharusnya.
Metode mencampur adat dalam cerita modern ini rupanya sengaja dipilih Garin Nugroho sebagai penulis naskah yang meyakini bahwa adat yang dianggap sebagai kemunduran justru bisa menyelesaikan masalah.
"Penonton global bisa melihat budaya sebagai hal yang menarik dan tidak memundurkan modernitas. Keunikan budaya dalam film ini akan menimbulkan dilema. Tetapi budaya juga menyelesaikan masalah. Jadi, budaya itu bukan hanya merawat tetapi juga bisa menyelesaikan masalah. Itu yang akan paling menarik bagi penonton global," ujar Garin Nugroho dalam jumpa media virtual Kamis (15/7).
Untungnya, setelah melalui lika-liku adat istiadat yang rumit dan membuat saya harus menyalakan menu terjemahan untuk bisa memahaminya karena menggunakan bahasa Bali, film ini ditutup dengan akhir bahagia bak akhir cerita dongeng.
Saya pun ikut senang melihat Saski dan Rio akhirnya bersama setelah mengalahkan belenggu adat yang menyiksa.
Hal menarik lain dari film ini adalah kehadiran bintang papan atas Christine Hakim, Ayu Laksmi, Mathias Muchus, Karina Suwandi hingga Jajang C. Noer membuat film A Perfect Fit menjadi kombinasi yang pas antara generasi tua dan generasi muda.
Tak hanya unggul dari segi pemainnya, film A Perfect Fit juga menjadi sebuah perpaduan yang apik antara visual yang berisi bentang alam Bali yang sudah tidak perlu diragukan lagi keindahannya dengan lagu-lagu beralunan merdu yang terstruktur dan tidak tumpang tindih.
Film A Perfect Fit telah tayang di Netflix perdana pada 15 Juli 2021.