WAWANCARA EKSKLUSIF

Ahmad Dhani: Band is Dead

CNN Indonesia | Minggu, 19/09/2021 14:05 WIB
Dalam sebuah kesempatan wawancara, Ahmad Dhani berucap 'band is dead' untuk menggambarkan industri musik saat ini. Ahmad Dhani menyebut saat ini tidak ada band yang betul-betul bagus.
Jakarta, CNN Indonesia --

"Sekarang kan sudah enggak ada. Kayak semacam band is dead kalau enggak bisa dibilang rock is dead. Band sudah enggak ada gitu," kata Ahmad Dhani lantang dalam kesempatan wawancara beberapa waktu lalu.

Bukan tanpa alasan Ahmad Dhani berucap seperti itu. Ia merasa selera pendengar musik Indonesia saat ini lebih baik ketimbang sebelumnya, tetapi tidak ada band yang memfasilitasi kebutuhan pendengar.

Atas dasar itulah Ahmad Dhani melihat akhirnya pendengar lagi-lagi melirik Dewa 19 karena tidak ada band lain.


"Enggak ada (band baru yang bagus). Di dunia pun juga enggak ada, band rock yang bagus kan udah enggak ada. Tidak seperti dulu," kata Ahmad Dhani sembari berusaha mengingat band yang menurutnya bagus.

Bukan hanya di Indonesia, Dhani merasa ketidakhadiran band bagus juga terjadi di penjuru dunia. Ia mencontohkan dengan band Linkin Park sebagai band bagus terakhir yang sangat hit pada awal dekade 2000-an.

"Ya ada beberapa yang masih survive kan, Coldplay masih survive. Ya Pearl Jam berusaha untuk eksis. Tapi kan ya orang tetap mau mendengarkan lagu-lagu yang zaman dulu, udah enggak dengerin lagu-lagu zaman sekarang," kata Dhani.

Pengamat musik Idhar Resmadi menilai pendapat Dhani soal "band is dead" terlalu naif. Pendengar yang kembali melirik Dewa 19 tidak berbanding lurus dengan peningkatan selera serta kualitas band itu sendiri.

Dewa 19 dalam konser 20 Tahun Bintang Lima Tour 2020 di Bandung, Sabtu (16/2)Ahmad Dhani merasa selera pendengar musik Indonesia saat ini lebih baik ketimbang sebelumnya, tetapi tidak ada band yang memfasilitasi kebutuhan pendengar. (CNN Indonesia/Huyogo)

Di era digital hari ini, kata Idhar, band yang dilirik adalah band yang bisa merebut atensi dan bukan berarti band tersebut pasti berkualitas. Dewa 19 sendiri juga berusaha mendapatkan atensi dengan kolaborasi bersama musisi lintas usia dan genre belakangan ini

Dari kolaborasi tersebut, penulis buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2019) ini melihat Dewa 19 hanya mampu menjual romansa nostalgia untuk mempertahankan eksistensi. Mereka hanya mengandalkan lagu lama dengan aransemen berbeda.

"Di era sekarang ketika genre dan major indie label sudah enggak relevan, yang paling penting itu merebut atensi. Lewat kolaborasi itu kan Dewa berhasil merebut atensi. Mereka juga bikin konser reuni kemudian konten," kata Idhar.

Ia pun melihat saat ini masih banyak band-band baru yang berkualitas baik di dalam negeri, seperti .feast dan The Panturas. Namun memang pendengar mereka tidak sebesar dan tidak bisa disamakan dengan Dewa 19 karena tidak bisa dibandingkan.

Pada masa Dewa 19 berjaya, industri musik dikuasai major label dan akses sangat terbatas. Sementara, kini akses sangat terbuka dan sudah tidak ada lagi satu bagian yang benar-benar menguasai industri musik Indonesia.

"Ketertarikan orang juga semakin beragam, satu orang bisa suka musik dengan berbagai macam genre. Banyak pendengar yang suka musik rock, tapi mereka mendengar pop juga. Kalau dulu enggak banyak, jadinya satu band bisa banyak banget penggemarnya," katanya.

Di industri musik internasional pun, kata Idhar, masih banyak band-band baru berkualitas. Namun, band yang paling bisa membuat atensi yang mendapat banyak pendengar. Ia mencontohkan dengan BTS sebagai boyband K-Pop yang berhasil menyita perhatian dunia.

"Di zaman sekarang ini band tergantung bagaimana merebut atensi saja. Juga kemampuan untuk membuat musik yang customer centric dan kemudian membuat konten. Sekarang selera pendengar itu majemuk," tutup Idhar.

(adp/end)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK