Melintas Kenangan Rumah Ibu Dibjo di Tepi Cikini Raya

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 03/10/2021 09:34 WIB
Pusat penjualan tiket legendaris Ibu Dibjo memulai bisnisnya dari sebuah rumah di tepi Jalan Cikini Raya. Pusat penjualan tiket legendaris Ibu Dibjo memulai bisnisnya dari sebuah rumah di tepi Jalan Cikini Raya. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah rumah berpagar hitam dengan pintu utama dari seng tersembunyi di balik semak dan pepohonan di tepi Jalan Cikini Raya. Hanya plat "10 A" yang menempel di sisi pagar rumah tersebut yang dilintasi kendaraan tanpa ada yang peduli.

Rumah itu adalah saksi bisu perkembangan kawasan Cikini, dari semula berupa pinggiran pemukiman elit peninggalan era kolonial pasca-Batavia, Menteng, hingga kini menjadi salah satu pusat wisata dan kebudayaan di Jakarta.

Rumah berplat 10 itu adalah milik pebisnis tiket yang dikenal bernama "Ibu Dibjo" atau dibaca "ibu Dibyo". Namanya masyhur di balik sebagian besar tiket acara, konser, pertandingan, hingga pentas-pentas yang digelar di Jabodetabek.


Bernama asli Ida Kurani Soedibjo, kisah Ibu Dibjo dan rumahnya bermula dari keinginan sang ibu membantu suaminya mengumpulkan dana dalam rangka membangun sebuah sekolah di Jalan Sukabumi, Menteng, pada 1963.

Ia kemudian memilih berjualan tiket sebuah pertunjukan film yang kala itu bakal digelar di Hotel Indonesia. Ia pun memilih rumahnya yang berhalaman luas dan megah kala itu sebagai lokasi penjualan tiket.

Tak dinyana, penjualan tiket ala Ibu Dibjo sukses. Kesuksesan Ibu Dibjo menjual tiket pun melirik penyelenggara pemutaran film lainnya. Mereka pun meminta Ibu Dibjo menjual tiket-tiket tersebut.

Semakin berkembang, rumah yang semula adalah salah satu kediaman elit Menteng pun menjelma menjadi pusat penjualan tiket alias ticket box yang belum banyak ada pada era '60-70-an. Lokasinya di Cikini yang strategis pun menjadi pendongkrak bisnis tersebut.

Suasana Pertokoan Jalan Cikini Raya, Jakarta. Kamis, 30 September 2021. CNNIndonesia/Adhi Wicaksono.Rumah Ibu Dibjo adalah saksi bisu perkembangan kawasan Cikini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Lama-lama, bukan hanya film yang menitipkan tiketnya kepada Ibu Dibjo. Konser musik hingga pertandingan bulu tangkis pun mempercayakan Ibu Dibjo sebagai agen penjualan tiketnya. Tak jarang, mobil-mobil berjejer di Cikini tiap menjelang sebuah acara.

Kenangan itu masih terpatri pada Uta, salah seorang warga asli Cikini yang ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu. Sembari memainkan linting rokok dan tersenyum dengan gigi yang nyaris sudah habis, pria kelahiran 1953 itu masih ingat kala ia bujang dan ikut terciprat kemasyhuran bisnis Ibu Dibjo.

"Dulu pada saat ada pertandingan bulu tangkis, mobil berjejer antri sampai TIM [Taman Ismail Marzuki]," kata Uta sambil menunjuk arah TIM, sekitar 200 meter di sebelah selatan.

"Pada parkir sampai situ," lanjutnya.

Padahal, rumah Ibu Dibjo terbilang luas bila membayangkan kondisinya dulu. Menurut salah satu mantan penjaga yang tak mau disebut namanya, rumah yang sudah tak dimiliki oleh keluarga Ibu Dibjo sejak sedekade lalu memiliki luasan sekitar 1.300 meter persegi.

Ukuran luas itupun tidak termasuk dengan lahan di sebelah rumah tersebut. Dulu lahan yang kini menjelma menjadi sebuah gedung yang cukup luas itu disebut masih tergabung dalam lahan rumah Ibu Dobjo.

"Itu dulu lapangan [rumah]," kata Uta menunjuk gedung berarsitektur modern di samping rumah Ibu Dibjo tersebut.

Uta mengenang lebih jauh kala dirinya berusia 20-an, dan membantu kerumunan yang mengantre membeli tiket di rumah Ibu Dibjo.

lanjut ke sebelah...

Perubahan Tak Terelakkan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK