ANALISIS

One Piece di Bawah Bayang-bayang Live-Action Manga yang Gagal

Aulia Bintang Pratama | CNN Indonesia
Kamis, 11 Nov 2021 18:43 WIB
One Piece di Bawah Bayang-bayang Live-Action Manga yang Gagal
Ada satu kunci yang rasanya bisa menyelamatkan One Piece dari bayang-bayang kegagalan live-action adaptasi manga. (dok. Netflix Jepang via Twitter)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengumuman Netflix terkait jajaran aktor yang akan bermain dalam One Piece versi live-action, Rabu (10/11) pagi waktu Indonesia, jelas menjadi kejutan besar bagi penggemar kisah petualangan kelompok Bajak Laut Topi Jerami tersebut.

Kabar itu kemudian membagi penggemar menjadi dua kubu, pro dan kontra. Bagi mereka yang mendukung, kisah petualangan itu berpeluang hadir dalam visual yang lebih riil dan menjadi penyemangat tersendiri.

Namun di sisi lain, munculnya respons penolakan pun bisa dipahami. Bagaimana tidak, dari sekian banyak manga/anime/kartun yang digarap menjadi versi live-action, hanya sedikit yang berhasil memikat hati para penonton.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ambil contoh Dragon Ball karya Akira Toriyama yang dianggap salah satu legenda animasi di Jepang. Saking melegendanya, sejumlah komikus saat ini menjadikan Dragon Ball sebagai acuan dalam berkarya.

Namun citra dan kegemilangan Dragon Ball rusak saat Hollywood ikut campur dengan menggarap versi live-action dari Son Goku cs. Dragon Ball Evolution (2009) merupakan kegagalan besar sehingga proyek sekuel film itu tidak pernah dilanjutkan. Padahal film itu menggaet sutradara kenamaan James Wong dan diproduseri oleh Stephen Chow, serta didistribusikan oleh 20th Century Fox. 

Contoh lainnya adalah Attack On Titan. Anime Attack On Titan begitu sukses dan populer kala rilis di Netflix. Namun kegemilangan kisah manusia berhadapan dengan para raksasa itu tak bisa diikuti oleh versi live action pada 2015. Bahkan film dua bagian itu layak disebut flop.

Satu lagi bukti kegagalan live-action dalam mengikuti anime: Death Note.

Sama seperti One Piece, Death Note live-action digarap Netflix dan tayang pada 2017. Sayang, popularitas Death Note versi manga dan anime tak mampu diikuti oleh versi live-action dan membuat Netflix dicibir banyak orang.

Tiga contoh karya populer di atas punya kesamaan dengan One Piece. Mereka adalah genre fantasi yang sudah pasti tidak mungkin terjadi di dunia nyata.

Pada kasus Dragon Ball, sosok Son Goku yang berasal dari planet lain terasa ganjil dalam versi live-action mengingat bukti nyata keberadaan alien belumlah ada. Belum lagi sosok raksasa Titan di dunia Attack On Titan.

Sementara Death Note, apakah di dunia ini benar-benar ada sebuah buku yang bila nama seseorang ditulis di buku itu maka orang itu akan mati? Rasanya tidak.

Berkaca dari itu semua, apakah One Piece akan menemui kegagalan yang sama? Jawabannya bisa ya, bisa tidak.

Live-action One Piece akan gagal jika mereka tak bisa memenuhi ekspektasi para penggemar One Piece yang sudah pasti memiliki standar penilaian tinggi. Terutama soal visualisasi pertarungan yang jadi salah satu nilai jual One Piece.

Pada versi manga, adegan bertarung para karakter sering digambar sangat megah dan membuat banyak orang berdecak kagum. Kemegahan di versi manga pun sukses ditelurkan menjadi versi anime yang tidak kalah memukau.

Toei Animation sebagai pemegang hak anime One Piece sukses memvisualisasikan apa yang digambar Eiichiro Oda dalam versi manga, dan membuat popularitas anime One Piece tak kalah dengan versi manga.

Hal itulah yang mesti dijawab dan disadari oleh Netflix kala mereka memutuskan menggarap One Piece dalam bentuk live-action.

Bila Netflix begitu sembrono dan gagal memenuhi ekspektasi dari para penggemar One Piece yang setia, maka live-action itu hanya akan menambah daftar kegagalan film live-action menghidupkan karya manga fantasi dalam bentuk lebih riil.

Namun ada satu kunci yang rasanya bisa menyelamatkan One Piece dari bayang-bayang kegagalan live-action adaptasi manga, yaitu keterlibatan sang kreator, Eiichiro Oda.

lanjut ke sebelah...

Kunci di Eiichiro Oda

Ada satu kunci yang rasanya bisa menyelamatkan One Piece dari bayang-bayang kegagalan live-action adaptasi manga. (dok. IMDB)

Netflix setidaknya menyadari bahwa mereka perlu dan butuh Oda untuk membuat proyek ini. Hal itu terlihat dari daftar pemain live action One Piece yang disebut dipilih langsung oleh sang mangaka.

Inaki Godoy akan berperan sebagai sang tokoh utama, Monkey D. Luffy, Mackenyu didapuk memerankan Roronoa Zoro, Emely Rudd akan jadi sang navigator Nami, Jacob Romero Gibson berperan sebagai Usopp, dan Taz Skylar akan menjadi sang koki Sanji.

Menurut Oda, lima orang itu dianggap mewakili karakter-karakter yang akan mereka perankan. Hal ini pun seperti bentuk nyata dari jawaban Oda di sebuah forum internet beberapa tahun lalu.

Kala itu, Oda menerima pertanyaan di forum SBS, "jika karakter One Piece ada di dunia nyata maka mereka akan berasal dari mana?"

Oda lalu menjawab bahwa Luffy berasal dari Brazil, Zoro dari Jepang, Nami dari Swedia, Usopp dari Afrika, dan Sanji dari Prancis.

Menilik latar belakang para pemeran One Piece, Inaki diketahui berasal dari Meksiko yang memiliki darah Amerika Latin yang dibayangkan oleh Oda. Kemudian Mackenyu merupakan aktor keturunan Jepang, sehingga cocok sebagai Zoro.

Lalu Jacob Romero Gibson adalah aktor keturunan Afrika yang cocok dengan referensi sebagai Usopp, dan Taz yang berasal dari Eropa sehingga dianggap pantas sebagai Sanji.

Dari lima aktor yang sudah diumumkan, hanya Emily Rudd yang tidak sesuai dari kriteria Oda yang dibayangkan berasal dari Swedia. Pasalnya, Rudd diketahui berasal dari Amerika Serikat.

Meski begitu dari sisi paras, Emily sangat mirip dengan Nami dan membuat dia dianggap layak memerankan sang navigator.

Jangan Terlalu Berharap

Dengan berbagai fakta itu, live-action One Piece tampaknya cukup layak diberi kesempatan untuk bersinar dan jangan dulu divonis bakal gagal.

Namun satu saran yang untuk para penggemar One Piece adalah jangan berharap banyak. Berkaca pada beberapa live-action yang sudah ada, sudah seharusnya penggemar One Piece tidak berekspektasi film ini akan segemilang versi anime atau manga.

Hal itu dikarenakan One Piece adalah serial penuh dengan fantasi yang cukup sulit divisualisasikan dalam bentuk live-action.

Ilustrasi Komik One Piece One Piece adalah serial penuh dengan fantasi yang cukup sulit divisualisasikan dalam bentuk live-action. (CNN Indonesia/Hanna Azarya)

One Piece bukan Samurai X yang berfokus pada samurai yang memang ada di dunia nyata, sehingga membuat versi live action dari kisah Kenshin Himura menjadi lebih mudah divisualisasikan dan akhirnya sukses besar.

One Piece bukan Samurai X yang fokus ceritanya adalah samurai yang memang benar-benar ada di dunia nyata dan membuat versi live-action dari kisah Kenshin Himura itu lebih mudah divisualisasikan dan akhirnya sukses besar.

Mengutip ucapan Luffy saat dia dan teman-temannya punya kesempatan mendapat cerita lengkap soal One Piece dari Silver Rayleigh,

"Aku tak mau menjalani petualangan yang membosankan semacam itu, kalau kita bertanya soal itu (One Piece) ke Pak Tua (Rayleigh) maka aku akan berhenti jadi bajak laut."

Perkataan Luffy itu mungkin bisa jadi nasihat bagi para penggemar One Piece untuk menanti yang nanti ditampilkan versi live-action, dan jangan dulu pesimis sebelum melihat hasil akhir dari proyek tersebut.

LIHAT SELENGKAPNYA