Siapa Salman Rushdie yang Diserang karena Ayat Ayat Setan?
CNN Indonesia
Senin, 15 Agu 2022 10:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Salman Rushdie pernah mendapatkan gelar bangsawan dari Ratu Inggris, Sir, karena karya-karyanya. (REUTERS/Luke MacGregor)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sastrawan kontroversial penulis The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan, Salman Rushdie, diserang di atas panggung saat hendak memberikan kuliah di salah satu acara di New York, Amerika Serikat.
Salman Rushdie merupakan penulis kelahiran Mumbai, India, pada 19 Juni 1947 dan bernama asli Ahmed Salman Rushdie. Rushdie dikenal sering membuat kontroversi akibat sikapnya terhadap subjek agama dan politik.
Penulis yang mendapatkan gelar bangsawan "Sir" ini merupakan penulis novel alegoris yang kerap menulis soal sejarah dan filosofi sesuatu melalui karakter surealis dengan gaya prosa melodramatis.
Sebelum menjadi penulis, pria lulusan Rugby School dan University of Cambridge ini sebelumnya berkarier sebagai copywriter iklan pada 1970-an di London.
Novel pertama Rushdie, Grimus, pertama kali diterbitkan pada 1975. Novel berikutnya, Midnight's Children, terbit pada 1981 dan menjadi awal mula kesuksesan Rushdie hingga dirinya diakui di dunia internasional.
Novel yang mengisahkan dongeng tentang India modern itu juga diadaptasi menjadi film yang tayang pada 2012. Saat itu, Rushdie turun langsung menjadi penulis skenario film tersebut.
Pada Juni 2007, Rushdie pernah dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Elizabeth II atas jasanya di bidang sastra. Lalu pada 2008, ia ditempatkan di urutan ke-13 oleh The Times dalam daftar 50 penulis Inggris terbesar sejak 1945.
Ia juga dinobatkan sebagai Distinguished Writer in Residence di Arthur L. Carter Journalism Institute of New York University pada 2015.
Lebih dari itu, 13 bukunya pun pernah memenangkan berbagai penghargaan, salah satunya Booker Prize untuk bukunya Midnight's Children dan Booker of Bookers untuk novelnya yang rilis pada 1993.
Profil Salman Rushdie lanjut ke sebelah...
Pada 1988, Rushdie menerbitkan novel The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan yang sebagiannya terinspirasi dari kehidupan Nabi Muhammad. Novel itu mendapat pujian kritikus di Inggris dan memenangkan penghargaan Whitbread pada tahun tersebut.
Namun, novel itu juga menyulut kontroversi besar. Banyak umat muslim menuding Rushdie melakukan penistaan dan menghina Islam.
Berbagai protes pun meledak di berbagai negara, seperti India, Pakistan, Arab Saudi, hingga Afrika Selatan. Ribuan muslim di Inggris juga turun ke jalan, mengecam novel tersebut. Pada 14 Januari 1989, demonstran muslim di Bradford, Inggris, bahkan membakar novel itu di jalanan.
Setahun berselang, mendiang pemimpin Iran, Ayatollah Khomeini melarang buku Rushdie itu berseliweran di Iran. Khomeini bahkan mengeluarkan fatwa pada 14 Februari 1989 yang menyerukan kematian Rushdie.
Setelah fatwa itu dikeluarkan, muncul sayembara yang meminta siapapun untuk membunuh Rushdie. Sayembara itu menawarkan US$3 juta bagi siapapun yang berhasil membunuh Rushdie.
Akibat sayembara itu, anak pebisnis Muslim India itu pun terpaksa bersembunyi di bawah perlindungan polisi selama sekitar sembilan tahun. Kala itu, ia juga berkilah bahwa tak ada yang tertarik dengan hadiah sayembara tersebut.
Kecaman terhadap Rushdie nyatanya tak hanya menyasar sang penulis itu sendiri. Sejumlah serangan bahkan turut menyasar orang yang menerjemahkan buku Rushdie.
Pada 1991, seorang penerjemah Hitoshi Igarashi ditikam hingga tewas di kantornya di Universitas Tsukuba oleh orang tak dikenal karena telah menerjemahkan The Satanic Verses ke dalam bahasa Jepang. Sementara penerjemah novel ke bahasa Italia terluka parah usai mendapatkan penusukan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sastrawan kontroversial penulis The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan, Salman Rushdie, diserang di atas panggung saat hendak memberikan kuliah di salah satu acara di New York, Amerika Serikat.
Salman Rushdie merupakan penulis kelahiran Mumbai, India, pada 19 Juni 1947 dan bernama asli Ahmed Salman Rushdie. Rushdie dikenal sering membuat kontroversi akibat sikapnya terhadap subjek agama dan politik.
Penulis yang mendapatkan gelar bangsawan "Sir" ini merupakan penulis novel alegoris yang kerap menulis soal sejarah dan filosofi sesuatu melalui karakter surealis dengan gaya prosa melodramatis.
Sebelum menjadi penulis, pria lulusan Rugby School dan University of Cambridge ini sebelumnya berkarier sebagai copywriter iklan pada 1970-an di London.
Novel pertama Rushdie, Grimus, pertama kali diterbitkan pada 1975. Novel berikutnya, Midnight's Children, terbit pada 1981 dan menjadi awal mula kesuksesan Rushdie hingga dirinya diakui di dunia internasional.
Novel yang mengisahkan dongeng tentang India modern itu juga diadaptasi menjadi film yang tayang pada 2012. Saat itu, Rushdie turun langsung menjadi penulis skenario film tersebut.
Pada Juni 2007, Rushdie pernah dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Elizabeth II atas jasanya di bidang sastra. Lalu pada 2008, ia ditempatkan di urutan ke-13 oleh The Times dalam daftar 50 penulis Inggris terbesar sejak 1945.
Ia juga dinobatkan sebagai Distinguished Writer in Residence di Arthur L. Carter Journalism Institute of New York University pada 2015.
Lebih dari itu, 13 bukunya pun pernah memenangkan berbagai penghargaan, salah satunya Booker Prize untuk bukunya Midnight's Children dan Booker of Bookers untuk novelnya yang rilis pada 1993.
Profil Salman Rushdie lanjut ke sebelah...
Profil Salman Rushdie, Fatwa Pembunuhan
Salman Rushdie pernah mendapatkan gelar bangsawan dari Ratu Inggris, Sir, karena karya-karyanya. (REUTERS/Eloy Alonso)
Pada 1988, Rushdie menerbitkan novel The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan yang sebagiannya terinspirasi dari kehidupan Nabi Muhammad. Novel itu mendapat pujian kritikus di Inggris dan memenangkan penghargaan Whitbread pada tahun tersebut.
Namun, novel itu juga menyulut kontroversi besar. Banyak umat muslim menuding Rushdie melakukan penistaan dan menghina Islam.
Berbagai protes pun meledak di berbagai negara, seperti India, Pakistan, Arab Saudi, hingga Afrika Selatan. Ribuan muslim di Inggris juga turun ke jalan, mengecam novel tersebut. Pada 14 Januari 1989, demonstran muslim di Bradford, Inggris, bahkan membakar novel itu di jalanan.
Setahun berselang, mendiang pemimpin Iran, Ayatollah Khomeini melarang buku Rushdie itu berseliweran di Iran. Khomeini bahkan mengeluarkan fatwa pada 14 Februari 1989 yang menyerukan kematian Rushdie.
Setelah fatwa itu dikeluarkan, muncul sayembara yang meminta siapapun untuk membunuh Rushdie. Sayembara itu menawarkan US$3 juta bagi siapapun yang berhasil membunuh Rushdie.
Akibat sayembara itu, anak pebisnis Muslim India itu pun terpaksa bersembunyi di bawah perlindungan polisi selama sekitar sembilan tahun. Kala itu, ia juga berkilah bahwa tak ada yang tertarik dengan hadiah sayembara tersebut.
Kecaman terhadap Rushdie nyatanya tak hanya menyasar sang penulis itu sendiri. Sejumlah serangan bahkan turut menyasar orang yang menerjemahkan buku Rushdie.
Pada 1991, seorang penerjemah Hitoshi Igarashi ditikam hingga tewas di kantornya di Universitas Tsukuba oleh orang tak dikenal karena telah menerjemahkan The Satanic Verses ke dalam bahasa Jepang. Sementara penerjemah novel ke bahasa Italia terluka parah usai mendapatkan penusukan.