Review Film: The Next 365 Days

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Sabtu, 10 Sep 2022 20:19 WIB
Review film: The Next 365 Days adalah akhir dari trilogi film yang tak jelas juntrungannya. Review film: The Next 365 Days adalah akhir dari trilogi film yang tak jelas juntrungannya. (Netflix via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebenarnya, saya juga bingung apa lagi yang harus dibahas dari saga 365 Days ketika mereka merilis babak terakhir dari trilogi film tersebut, The Next 365 Days, hanya beberapa bulan setelah saga keduanya.

Pada awalnya, saya memulai tombol play dengan malas. Namun seiring dengan cerita dan gambar berjalan, saya merasa penutup saga film Fifty-Shades-wannabe ini ada sedikit perbaikan. Sedikit.

Mengejutkan? Memang. Dari segi cerita sebenarnya tak ada yang banyak berubah, tapi bila dibanding dengan saga kedua, babak ketiga ini lebih terasa sebagai "film". Drama dalam ceritanya terasa lebih ada dibanding babak-babak sebelumnya.

Secara garis besar, The Next 365 Days lebih mengeksplorasi emosi dari Laura (Anna-Maria Sieklucka) dan Massimo (Michele Morrone), yang memang harusnya sudah dilakukan sejak awal.

Eksplorasi emosi ini lebih terasa dibanding dua film sebelumnya, yang mana ketika di film pertama lebih terasa seperti fantasi-halusinasi erotis, sementara pada film kedua tak lebih dari sekadar film yang menjaja adegan panas tanpa cerita berarti.

Pada babak ketiga ini, kehadiran Mojca Tirs menggantikan Tomasz Klimala dalam tim penulis agaknya cukup berfaedah. Meski hanya berganti satu pemain penulis naskah, perbedaan ceritanya nyatanya cukup terasa.

Film The Next 365 Days (2022)Review Film The Next 365 Days (2022): Dari segi cerita sebenarnya tak ada yang banyak berubah, tapi bila dibanding dengan saga kedua, babak ketiga ini lebih terasa sebagai "film". Foto: (Arsip Netflix)

Pada film pertama dan kedua, naskah digarap oleh tim yang terdiri Tomasz Klimala, Barbara Białowąs, Tomasz Mandes, dan sang empunya cerita, Blanka Lipińska. Namun kali ini, tim penulis hanya terdiri dari Lipinska, Mandes, dan Tirs.

Selain dari aspek emosi, eksplorasi dari ranah seksualitas juga menjadi area bermain baru dalam The Next 365 Days. Meskipun saya harus mengakui bahwa saya cukup terkejut saat adegan eksplorasi orientasi itu muncul.

Keputusan itu tak bisa disebut "salah" dari sudut pandang kreativitas. Walaupun rasanya agak ekstrem, mengingat cerita saga 365 Days yang dibangun sejak awal sudah kadung kental pada spektrum orientasi seksual tertentu.

Di sisi lain, saya cukup menghargai upaya tim penulis untuk menjadikan adegan erotis sebagai simbol dari gejolak emosi karakternya, baik dari sisi Laura maupun Masimo, dan bukan hanya sekadar pelampiasan nafsu belaka.

Hal itu terlihat dari berbagai kegalauan yang terlihat saat Massimo datang ke klub, atau ketika Laura memimpikan dua pria yang hadir dalam hidupnya.

Lanjut ke sebelah...

[Gambas:Youtube]



Review Film: The Next 365 Days

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER