Review Film: Pesantren

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Rabu, 23 Nov 2022 21:10 WIB
Review film: Pesantren menampilkan adalah bagaimana sebuah institusi pesantren justru memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang begitu nyata. Review film: Pesantren menampilkan adalah bagaimana sebuah institusi pesantren justru memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang begitu nyata. (dok. Lola Amaria Productions/Negeri Films)
Endro Priherdityo
4
0
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau saya ditanya film soal pesantren apa yang saya ingat, mungkin jawabannya akan sangat terbatas dan hanya terbayang narasi cinta sepasang muda-mudi di pesantren atau kisah perjuangan seorang anak di pesantren untuk menggapai mimpi.

Namun film dokumenter Pesantren (2022) yang digarap oleh Shalahuddin Siregar ini terasa berbeda dan mungkin akan menjadi top of my mind saat ditanya soal film tentang pesantren.

Memang, film dokumenter ini masih menggambarkan kehidupan tradisional pesantren. Sebagai orang yang pernah mengalami kehidupan itu walau cuma sesaat, tentu gambaran kehidupan pesantren di film ini jadi sesuatu yang amat relate bagi saya.

Misalnya saja, tidur bersarung dan beralas ubin, menggosok pakaian sendiri, pusing dan sibuk mengangkat jemuran jelang hujan, mengantuk dan tertidur saat hafalan, setumpuk kitab yang harus dibaca, hingga makan bersama dengan alas nampan.

Namun hal yang tidak saya alami sekaligus menjadi yang paling menarik dalam film ini adalah bagaimana sebuah institusi pesantren justru memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang begitu nyata.

Film Dokumenter Pesantren (2022)Review film: Pesantren menampilkan adalah bagaimana sebuah institusi pesantren justru memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang begitu nyata. (Lola Amaria Productions)

Saya cukup kaget saat melihat bagaimana nilai kesetaraan gender dan emansipasi perempuan begitu terasa dalam kehidupan Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon yang menjadi latar film ini.

Saya familiar dengan konsep dan ajaran "laki-laki adalah pemimpin" --yang seringkali oleh sebagian orang diterjemahkan "laki-laki mesti jadi pemimpin"--, atau ketika laki-laki sudah pasti mendapatkan privilege dalam posisi tertentu, atau saat perempuan hanya diberi kesempatan menempati posisi sekretaris atau bendahara dalam sebuah panitia.

Namun dalam film ini, perempuan jelas memiliki peran yang jauh lebih terasa dan berdampak. Misal, fakta ketika pondok ini dipimpin oleh seorang ulama perempuan, Nyai Masriah Amva, atau saat ulama laki-laki di pondok ini justru mempertanyakan konsep "laki-laki adalah pemimpin".

Terlepas dari permasalahan fikih yang ada soal itu, jelas film Pesantren memberikan gambaran lain bahwasanya tidak semua institusi yang berkenaan dengan pendidikan berbasis Islam itu patriarki, apalagi mengajarkan hal seperti terorisme seperti yang ditakuti sebagian pihak.

Shalahuddin dengan cukup baik menangkap berbagai percakapan hingga momen-momen kehidupan di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy terkait hal tersebut.

Apalagi, Shalahuddin juga mengisahkan hal itu melalui adegan-adegan simbolis yang sejatinya ini hal biasa di pesantren, salah satunya saat santri ikhwan (laki-laki) harus memasak dan mencuci dalam sebuah acara sementara santri akhwat (perempuan) memimpin pelaksanaan acara.

Lanjut ke sebelah...

Review Film: Pesantren

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER