Review Film: Pesantren
Endro Priherdityo
Belum lagi Shalahuddin juga lebih memilih menampilkan perjuangan seorang staf perempuan yang berjuang untuk bisa lanjut studi magister di sebuah universitas negeri dengan kemampuan ekonomi yang amat terbatas.
Namun bukan berarti Shalahuddin hanya menyoroti soal kedigdayaan perempuan dalam pesantren ini. Ia juga mengisahkan beban lain yang dirasakan oleh laki-laki selain daripada urusan "menjadi pemimpin" atau hal-hal maskulin lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, ketika seorang pengajar ikhwan pun juga bisa curcol di hadapan santrinya soal ditinggal menikah oleh perempuan pujaan hatinya, atau saat seorang santri ikhwan berusaha setegar mungkin di hadapan orang tuanya untuk bisa betah di pesantren.
Gambaran-gambaran bahwa laki-laki juga bisa menjadi orang yang penuh perasaan, atau perempuan juga bisa menjadi pemimpin dan pengejar mimpi yang tangguh, membuat film ini menampilkan pesantren pada definisi yang lebih luas.
Pesantren bukan hanya sebuah lembaga pendidikan berbasis agama, ia juga secuil dari masyarakat dengan karakter dan latar belakang penghuninya yang beragam, serta memiliki masalah sosial yang beragam pula.
Review film Pesantren: Gambaran-gambaran bahwa laki-laki juga bisa menjadi orang yang penuh perasaan, atau perempuan juga bisa menjadi pemimpin dan pengejar mimpi yang tangguh, membuat film ini menampilkan pesantren pada definisi yang lebih luas. (dok. Lola Amaria Productions/Negeri Films) |
Meski begitu, Shalahuddin Siregar agaknya memang perlu memberikan konteks atau konflik yang lebih, atau mungkin memadatkan film ini karena pada sebagian adegan terasa tanpa makna yang berarti dan terkesan memanjangkan durasi.
Apalagi bagi mereka yang tidak biasa dengan dokumenter atau mereka yang bukan penggemar dokumenter tanpa wawancara dan pemandu/narator, maka menjalani 95 menit film ini akan terasa harus hafalan saat mata ingin terpejam.
Namun itulah keberagaman dokumenter. Seringkali dokumenter disajikan tanpa pengarah ataupun kesaksian dan hanya memotret sebagian dari kehidupan nyata, tanpa harus memberikan embel-embel fantasi hanya demi komisi dari durasi.
Dan tentu saja, penggambaran dan kehidupan Pondok Kebon Jambu Al-Islamy memang tidak bisa disamaratakan dengan seluruh pondok pesantren di Indonesia. Namun setidaknya ini memberikan gambaran lain di luar stigma awam soal institusi pendidikan berbasis agama terbesar di Indonesia itu.
Kalau saya ditanya film soal pesantren apa yang saya ingat, mungkin jawabannya akan sangat terbatas dan hanya terbayang narasi cinta sepasang muda-mudi di pesantren atau kisah perjuangan seorang anak di pesantren untuk menggapai mimpi.
Namun film dokumenter Pesantren (2022) yang digarap oleh Shalahuddin Siregar ini terasa berbeda dan mungkin akan menjadi top of my mind saat ditanya soal film tentang pesantren.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang, film dokumenter ini masih menggambarkan kehidupan tradisional pesantren. Sebagai orang yang pernah mengalami kehidupan itu walau cuma sesaat, tentu gambaran kehidupan pesantren di film ini jadi sesuatu yang amat relate bagi saya.
Misalnya saja, tidur bersarung dan beralas ubin, menggosok pakaian sendiri, pusing dan sibuk mengangkat jemuran jelang hujan, mengantuk dan tertidur saat hafalan, setumpuk kitab yang harus dibaca, hingga makan bersama dengan alas nampan.
Namun hal yang tidak saya alami sekaligus menjadi yang paling menarik dalam film ini adalah bagaimana sebuah institusi pesantren justru memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang begitu nyata.
Review film: Pesantren menampilkan adalah bagaimana sebuah institusi pesantren justru memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang begitu nyata. (Lola Amaria Productions) |
Saya cukup kaget saat melihat bagaimana nilai kesetaraan gender dan emansipasi perempuan begitu terasa dalam kehidupan Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon yang menjadi latar film ini.
Saya familiar dengan konsep dan ajaran "laki-laki adalah pemimpin" --yang seringkali oleh sebagian orang diterjemahkan "laki-laki mesti jadi pemimpin"--, atau ketika laki-laki sudah pasti mendapatkan privilege dalam posisi tertentu, atau saat perempuan hanya diberi kesempatan menempati posisi sekretaris atau bendahara dalam sebuah panitia.
Namun dalam film ini, perempuan jelas memiliki peran yang jauh lebih terasa dan berdampak. Misal, fakta ketika pondok ini dipimpin oleh seorang ulama perempuan, Nyai Masriah Amva, atau saat ulama laki-laki di pondok ini justru mempertanyakan konsep "laki-laki adalah pemimpin".
Terlepas dari permasalahan fikih yang ada soal itu, jelas film Pesantren memberikan gambaran lain bahwasanya tidak semua institusi yang berkenaan dengan pendidikan berbasis Islam itu patriarki, apalagi mengajarkan hal seperti terorisme seperti yang ditakuti sebagian pihak.
Shalahuddin dengan cukup baik menangkap berbagai percakapan hingga momen-momen kehidupan di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy terkait hal tersebut.
Apalagi, Shalahuddin juga mengisahkan hal itu melalui adegan-adegan simbolis yang sejatinya ini hal biasa di pesantren, salah satunya saat santri ikhwan (laki-laki) harus memasak dan mencuci dalam sebuah acara sementara santri akhwat (perempuan) memimpin pelaksanaan acara.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Pesantren
Review film: Pesantren menampilkan adalah bagaimana sebuah institusi pesantren justru memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang begitu nyata. (dok. Lola Amaria Productions/Negeri Films)
Belum lagi Shalahuddin juga lebih memilih menampilkan perjuangan seorang staf perempuan yang berjuang untuk bisa lanjut studi magister di sebuah universitas negeri dengan kemampuan ekonomi yang amat terbatas.
Namun bukan berarti Shalahuddin hanya menyoroti soal kedigdayaan perempuan dalam pesantren ini. Ia juga mengisahkan beban lain yang dirasakan oleh laki-laki selain daripada urusan "menjadi pemimpin" atau hal-hal maskulin lainnya.
Misalnya, ketika seorang pengajar ikhwan pun juga bisa curcol di hadapan santrinya soal ditinggal menikah oleh perempuan pujaan hatinya, atau saat seorang santri ikhwan berusaha setegar mungkin di hadapan orang tuanya untuk bisa betah di pesantren.
Gambaran-gambaran bahwa laki-laki juga bisa menjadi orang yang penuh perasaan, atau perempuan juga bisa menjadi pemimpin dan pengejar mimpi yang tangguh, membuat film ini menampilkan pesantren pada definisi yang lebih luas.
Pesantren bukan hanya sebuah lembaga pendidikan berbasis agama, ia juga secuil dari masyarakat dengan karakter dan latar belakang penghuninya yang beragam, serta memiliki masalah sosial yang beragam pula.
Review film Pesantren: Gambaran-gambaran bahwa laki-laki juga bisa menjadi orang yang penuh perasaan, atau perempuan juga bisa menjadi pemimpin dan pengejar mimpi yang tangguh, membuat film ini menampilkan pesantren pada definisi yang lebih luas. (dok. Lola Amaria Productions/Negeri Films) |
Meski begitu, Shalahuddin Siregar agaknya memang perlu memberikan konteks atau konflik yang lebih, atau mungkin memadatkan film ini karena pada sebagian adegan terasa tanpa makna yang berarti dan terkesan memanjangkan durasi.
Apalagi bagi mereka yang tidak biasa dengan dokumenter atau mereka yang bukan penggemar dokumenter tanpa wawancara dan pemandu/narator, maka menjalani 95 menit film ini akan terasa harus hafalan saat mata ingin terpejam.
Namun itulah keberagaman dokumenter. Seringkali dokumenter disajikan tanpa pengarah ataupun kesaksian dan hanya memotret sebagian dari kehidupan nyata, tanpa harus memberikan embel-embel fantasi hanya demi komisi dari durasi.
Dan tentu saja, penggambaran dan kehidupan Pondok Kebon Jambu Al-Islamy memang tidak bisa disamaratakan dengan seluruh pondok pesantren di Indonesia. Namun setidaknya ini memberikan gambaran lain di luar stigma awam soal institusi pendidikan berbasis agama terbesar di Indonesia itu.

Review film Pesantren: Gambaran-gambaran bahwa laki-laki juga bisa menjadi orang yang penuh perasaan, atau perempuan juga bisa menjadi pemimpin dan pengejar mimpi yang tangguh, membuat film ini menampilkan pesantren pada definisi yang lebih luas. (dok. Lola Amaria Productions/Negeri Films)
Review film: Pesantren menampilkan adalah bagaimana sebuah institusi pesantren justru memiliki nilai-nilai kesetaraan gender yang begitu nyata. (Lola Amaria Productions)