Aduh, Aduh, Aduh Tessa Morena dan Sisa Gemerlap Koplo Surabaya
Mohammad Farras Fauzi | CNN Indonesia
Kamis, 09 Mar 2023 16:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tumbuh dengan budaya dansa dan pesta pora, Tessa Morena menjadi nafas baru koplo dengan musik funkot di Surabaya. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Selain itu, Weintraub lewat buku Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music (2010) menjabarkan bahwa kepopuleran funkot ini terjadi karena gelombang musik elektronik dan disko a la Barat merangsek ke Indonesia.
"Diskotek-diskotek kota besar seperti di Jakarta memulai musik disko untuk para pengunjungnya, berbarengan dengan musik dangdut yang mencapai popularitas tertinggi di era 1990-an saat musik dangdut ini ditahbiskan sebagai musik nasional oleh rezim Soeharto," tulis Weintraub.
Tak ayal, funkot yang tadinya populer di kalangan pencinta pesta, kemudian menjadi "suri tauladan" bagi para artis koplo.
Kini, kakak beradik koplo dan funkot ini masih hidup berdampingan. Tak terkecuali di Surabaya. Di tangan Tessa Morena, kedua saudara sub-genre dangdut ini kini bersanding akrab sebagai pemantik orang untuk berdansa.
Untuk menyiapkan remix lagu, Tessa bertugas untuk memilih lagu populer lalu menyerahkan sisanya kepada seorang remixer yang mengubah lagu tersebut menjadi funkot. Tugas itu diemban oleh seorang pria bernama Jipank yang ternyata merupakan pemain kibor Orkes Melayu (OM) New Monata besutan Cak Sodiq.
"Iya! Itu sama Jipank itu, anak buahnya Cak Sodiq," ujar Tessa penuh antusiasme.
Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim Tessa Morena, Biduan Koplo di Diskotik. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Menurut Tessa, pembagian tugas ini merupakan bentuk simbiosis mutualisme. Kedua belah pihak bisa sama-sama mendapatkan untung dengan cara tersebut.
"Remixer kalau sama DJ itu take and give. Mutualismelah, sama-sama butuh," kata Tessa. "Remixer enggak bisa garap lagu kalau enggak ada DJ. DJ pun butuh remixer."
Dalam menyiapkan set-nya, Tessa menyisipkan lagu-lagu koplo populer demi memuaskan para penonton agar lebih menggila. Katanya, agar penonton "lebih asik dan enjoy".
Namun, Tessa bukan satu-satunya DJ funkot yang melakukan ramuan tersebut. DJ dan klab malam lain di Surabaya pun meramu hal yang serupa.
Satu alasannya. Koplo merupakan senjata utama untuk meramaikan suasana.
"Kebetulan di Surabaya ini banyak yang funkot. Funkotnya itu macam-macam. Ada koplo, ada lagu-lagu band juga," kata Tessa. "Cuma, memang banyak ke koplo gitu. Terus ada lagi breakbeat. Kadang breakbeat juga ada koplonya."
Ramuan itu pun terbukti. Di diskotek tempat Tessa memimpin pesta, para pengunjung yang didominasi oleh komunitas keturunan Madura di Surabaya itu "menggila" berkat lagu-lagu koplo yang populer.
Di antara gedung-gedung tua bekas peninggalan Belanda di kota Surabaya, beberapa remaja tampak berkumpul di tempat parkir motor, pada suatu malam di pertengahan Januari 2023. Mereka menunggu sebuah diskotek tersembunyi untuk dibuka. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota .
Mereka, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama menantikan satu sosok: Tessa Morena. Seorang disjoki perempuan yang meroket berkat persona unik yang ia hadirkan lewat dunia maya.
Tessa tumbuh besar di gang sempit padat penduduk yang tak jauh dari Gang Dolly, bekas pusat lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Di gang itu pula diyakini sebagai tempat kelahiran dangdut koplo.
Tumbuh besar tidak jauh dari pusat kota, Tessa remaja saat itu begitu dekat dengan kultur dansa dan pesta pora. Itu yang membuatnya memilih untuk menggeluti pekerjaan sebagai DJ yang memainkan aliran funky kota (funkot) di meja disjokinya.
'Awalnya, sih, itu kan dari hobi ya, suka dulu sama musiknya. Terus, (ada) support dari teman-teman. Yang awalnya aku kayak enggak pede, sama teman-teman di-support," kata Tessa Morena ketika ditemui rumahnya di kawasan Banyu Urip, Surabaya.
Sebagaimana koplo, funkot merupakan generasi baru dari dangdut. Ia lahir dengan versi lebih gemerlap,seakan mengulang masa lalu saat koplo baru lahir di kafe-kafe dangdut di Gang Dolly.
Di kala musik koplo tradisional mulai meredup di kota kelahirannya, funkot kini masih dapat ditemukan di sisi lain kota Surabaya.
Dalam tulisan bertajuk Funkot: Music Dance Rasa Dangdut yang Mengudara Hingga Jepang (2017), Meka Medina mendeskripsikan funkot sebagai turunan dangdut yang lahir di wilayah kota lama Jakarta, seperti Mangga besar, Glodok, Harmoni.
Turunan dari dangdut ini bermula dari kebiasaan yang dilakukan oleh DJ di ibu kota yang menjahit dan melakukan remix lagu bergaya house dan disko. Kemudian, mereka menyisipkan hentakan berbunyi "tung" sebagai pengganti suara kendang atau ketipung.
Selain itu, sejak awal kelahirannya, funkot juga lekat dengan suara dari MC maupun penyanyi yang kental dengan cengkok khas dangdut.
"Dalam rekaman, koplo juga mengacu pada gaya remiks elektronik, yang biasanya bertempo cepat dan dicirikan oleh bagian-bagian perkusi yang aktif," jelas Andrew N. Weintraub dalam buku Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia (2012).
Lanjut ke sebelah...
Gemerlap Funkot, Sisa Riak Koplo di Surabaya
Tessa Morena bersama anak tersayang. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Selain itu, Weintraub lewat buku Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music (2010) menjabarkan bahwa kepopuleran funkot ini terjadi karena gelombang musik elektronik dan disko a la Barat merangsek ke Indonesia.
"Diskotek-diskotek kota besar seperti di Jakarta memulai musik disko untuk para pengunjungnya, berbarengan dengan musik dangdut yang mencapai popularitas tertinggi di era 1990-an saat musik dangdut ini ditahbiskan sebagai musik nasional oleh rezim Soeharto," tulis Weintraub.
Tak ayal, funkot yang tadinya populer di kalangan pencinta pesta, kemudian menjadi "suri tauladan" bagi para artis koplo.
Kini, kakak beradik koplo dan funkot ini masih hidup berdampingan. Tak terkecuali di Surabaya. Di tangan Tessa Morena, kedua saudara sub-genre dangdut ini kini bersanding akrab sebagai pemantik orang untuk berdansa.
Untuk menyiapkan remix lagu, Tessa bertugas untuk memilih lagu populer lalu menyerahkan sisanya kepada seorang remixer yang mengubah lagu tersebut menjadi funkot. Tugas itu diemban oleh seorang pria bernama Jipank yang ternyata merupakan pemain kibor Orkes Melayu (OM) New Monata besutan Cak Sodiq.
"Iya! Itu sama Jipank itu, anak buahnya Cak Sodiq," ujar Tessa penuh antusiasme.
Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim Tessa Morena, Biduan Koplo di Diskotik. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Menurut Tessa, pembagian tugas ini merupakan bentuk simbiosis mutualisme. Kedua belah pihak bisa sama-sama mendapatkan untung dengan cara tersebut.
"Remixer kalau sama DJ itu take and give. Mutualismelah, sama-sama butuh," kata Tessa. "Remixer enggak bisa garap lagu kalau enggak ada DJ. DJ pun butuh remixer."
Dalam menyiapkan set-nya, Tessa menyisipkan lagu-lagu koplo populer demi memuaskan para penonton agar lebih menggila. Katanya, agar penonton "lebih asik dan enjoy".
Namun, Tessa bukan satu-satunya DJ funkot yang melakukan ramuan tersebut. DJ dan klab malam lain di Surabaya pun meramu hal yang serupa.
Satu alasannya. Koplo merupakan senjata utama untuk meramaikan suasana.
"Kebetulan di Surabaya ini banyak yang funkot. Funkotnya itu macam-macam. Ada koplo, ada lagu-lagu band juga," kata Tessa. "Cuma, memang banyak ke koplo gitu. Terus ada lagi breakbeat. Kadang breakbeat juga ada koplonya."
Ramuan itu pun terbukti. Di diskotek tempat Tessa memimpin pesta, para pengunjung yang didominasi oleh komunitas keturunan Madura di Surabaya itu "menggila" berkat lagu-lagu koplo yang populer.