Koplo NDX AKA yang Tanpa Baju Seksi, Wajah Sukses Dangdut Yogyakarta
Prabarini Kartika | CNN Indonesia
Kamis, 09 Mar 2023 13:18 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
NDX AKA yang tampil di festival musik mendapatkan sambutan ribuan penggemar. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Suatu Minggu malam pada Januari 2023 di Yogyakarta. Petikan alat musik dangdut koplo mengalun dari permainan para pemain Orkes Melayu (OM) Marshella di atas panggung sebuah kafe dangdut, Panggung Alpha Bravo.
Suasana ruangan itu temaram. Sorot lampu remang-remang menyinari orkes dengan sepuluh biduannya yang tampil tetap berusaha semangat, meski penontonnya tak sebanyak saat manggung di hajatan.
Malam itu, hanya seorang laki-laki yang asyik joget sendiri di hadapan pasukan OM Marshella. Sementara penonton lainnya cuma bisa dihitung jari, bersembunyi dalam kegelapan ruangan, menikmati hidangan, dan tenggelam dalam pikiran.
Sisanya di kafe itu, hanya ada beberapa penjaga warung yang membuka lapaknya dan beberapa pengelola kafe malam itu, termasuk Iwan.
"Kenapa di sini sepi sekarang, ya karena di luar sudah bebas. Ibaratnya job di luar tuh ramai, dan kafe-kafe sama klub dangdut juga banyak," kata Iwan.
"Walaupun akhir pekan tetap surut [penonton], paling ramai kalau ada bintang," lanjutnya. "Kalau pas special event, ada bintang dari Jawa Timur itu, bisa 1.500-2.000 penonton lebih,"
Keberadaan kafe dangdut seperti PAB adalah simpul lain yang memperpanjang nafas kehidupan banyak OM di Yogyakarta, termasuk OM Marshella.
Meski kafe sepi penonton, OM seperti Marshella tetap tampil karena itu adalah jadwal tetap mereka. Sementara hajatan dan acara lainnya, meski berpenonton ramai, tak pernah bisa diharap datang secara rutin.
"Ya sampai sekarang alhamdulillah grup kami selaku eksis," kata Gandrung, pemain sekaligus pengelola grup OM Marshella.
"Selalu manggung dari panggung ke panggung, bahkan seperti di kafe-kafe. Kemudian di tempat-tempat orang hajatan, orang yang sedang mengadakan khitanan," lanjutnya. "Kemudian, kami bahkan menerobos di acara resepsi manten,"
"Karena di Yogya, khususnya Yogya itu, kalau grup musik dangdut komplit itu jarang sekali grup musik dangdut di Yogya bisa menerobos di event-event seperti resepsi manten," kata Gandrung.
Kata Gandrung, acara hajatan banyak yang cuma bisa menyewa organ tunggal, bukan setim orkes komplet karena keterbatasan bujet. Sementara kebutuhan untuk keberlangsungan setim tetap ada, tak peduli datang dari hajatan atau bukan.
Maka wajar kiranya banyak OM disebut Gandrung bertumbangan. Biaya kebutuhan OM bukan hanya bayaran untuk pemain, tetapi juga perawatan hingga pembelian alat-alat musik. Belum lagi persaingan antar OM.
"Kalau dihitung mungkin bisa 100 lebih yang tumbang. Misalnya dari 2004 sampai hari ini, itu 100 grup lebih yang tumbang. Banyak sekali," kata Gandrung yang kini menyebut grup OM yang berusia lebih dari 10 tahun hanya berkisar 10 grup di Yogyakarta.
Seorang penonton tengah menikmati musik koplo di suatu diskotek di Yogyakarta. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Maka dari itu, ketika sebuah OM dapat jadwal tetap di sebuah kafe dangdut, mereka secara tertib bergantian naik ke atas panggung dan tampil. Entah ada atau tiada penontonnya.
Namun karena jadwal reguler ini pula, banyak OM tidak melangkah lebih jauh mempromosikan orkes mereka dalam bentuk iklan. Mereka lebih banyak hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.
Gaya bertahan hidup OM musik koplo di Yogyakarta ini juga dipaparkan oleh Etnomusikologi ISI Surakarta, Denis Satiaji. Denis menyebut OM yang masih terbilang orkes tradisional cenderung masih bermain di kafe-kafe seperti PAB.
"Di Yogya sendiri, konser-konser yang memunculkan orkes-orkes dangdut seperti itu tidak sebanyak di wilayah Jawa Tengah atau Jawa Timur," kata Denis. "Justru trennya di Yogya itu, format orkes main di model klub-klub,"
Selain daripada perilaku bermain aman dengan jadwal tampil reguler dan minim promosi, penyelenggara festival musik atau pun konser tampak tak tertarik menggandeng orkes-orkes dangdut koplo tradisional ini.
Hal ini berbanding terbalik dengan kelompok musik koplo kontemporer di Yogyakarta seperti NDX AKA ataupun Ndarboy Genk. Mereka justru hidup dari banyak tampil di konser ataupun festival musik.
Tentu saja, kelompok kontemporer ini tampil membawakan lagu karya sendiri yang sudah dikenal luas oleh publik. Sehingga, mereka punya basis massa yang bisa jadi alasan diundang penyelenggara konser.
Di sisi lain, kelompok kontemporer ini juga memiliki perbedaan dari kelompok tradisional dari segi musik meski sama-sama menggunakan bahasa Jawa.
Musik koplo ala NDX AKA ditampilkan di festival-festival musik kekinian. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Bila OM lebih sering membawakan lagu orang yang sedang naik daun, kelompok kontemporer ini berusaha membuat karya sendiri yang bisa disuka publik meski harus mencampur musik koplo dengan musik lainnya.
Selain itu, kelompok tradisional banyak mengandalkan keberadaan biduan perempuan untuk menarik massa. Berbeda dengan kelompok kontemporer yang kini banyak diisi laki-laki.
"Untuk NDX mungkin kenapa enggak pakaian seksi atau gimana, karena kami cowok," kata Nanda, pendiri NDX AKA. "Di sisi lain NDX fokus jual karya. Kami fokus jual karya."
"Kalau saya lihat di Instagram atau Google malah lebih banyak [pendengar] cowoknya. Berarti kami berhasil menjual karya kami, banyak yang terwakilkan," lanjutnya.
Formula itu pun bisa dilihat saat NDX AKA tampil di festival musik seperti Morefantastic di Solo beberapa waktu lalu. Pada malam itu, ribuan anak muda menantikan penampilan NDX AKA, Denny Caknan, dan Guyon Waton.
Ketika NDX AKA tampil di atas pangung, ribuan penonton tak ragu untuk bergoyang dan berdendang mengikuti alunan lagu hip hop dangdut. Apalagi, lagu-lagu yang dibawakan itu berbahasa Jawa.
"Karena lagunya Jawa, jadi lagunya easy listening. Jadi sudah hafal," ujar Vila, salah satu penonton NDX AKA.
"Mungkin musiknya, liriknya. Yang hafal banyak jadi bisa sing along, joget bareng, bikin enak begitu," tambah Devanka, penonton lainnya.
NDX AKA ketika tampil di salah satu festival musik di Indonesia. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Sementara bagi Helarius Daru Indrajaya alias Ndarboy Genk, eksistensi dirinya dan kelompok kontemporer juga terpengaruh fenomena media sosial. Beda halnya dengan orkes yang mengandalkan promosi secara langsung.
Menurut Daru, musik populer seperti yang ia dan NDX AKA mainkan sudah merambah ke segala sudut media sosial. Namun mereka juga masih mengandalkan promosi lewat radio dan televisi untuk menyebarkan karya mereka.
"Semua tuh saling bersinergi, saling menguntungkan. Jadi, kalau bisa ya tidak cuma media sosial saja, tapi juga tetap budaya promo radio, promo ke TV, media massa, media cetak," kata Daru.
Meski begitu, bukan berarti kelompok kontemporer lebih unggul dan orkes jadi 'ketinggalan' zaman. Keduanya hidup dalam sisi yang berbeda. Daru sendiri menganalogikan dua entitas musik koplo di Yogyakarta ini sebagai makanan.
"Musiknya adalah makanan yang harus dinikmati sama orang," kata Daru.
"Ibarat bakso itu koplo, enggak mungkin semua bakso. Ada yang jualan mie ayam, ada yang jualan nasi goreng. Enggak mungkin kalau kita siang makan nasi goreng, kita makannya bakso,"
"Menurutku semuanya itu ada pasarnya sendiri-sendiri," kata Daru. "Cuma masalah tempat dan juga waktu aja yang kita berbeda sekarang."
Jakarta, CNN Indonesia --
Suatu Minggu malam pada Januari 2023 di Yogyakarta. Petikan alat musik dangdut koplo mengalun dari permainan para pemain Orkes Melayu (OM) Marshella di atas panggung sebuah kafe dangdut, Panggung Alpha Bravo.
Suasana ruangan itu temaram. Sorot lampu remang-remang menyinari orkes dengan sepuluh biduannya yang tampil tetap berusaha semangat, meski penontonnya tak sebanyak saat manggung di hajatan.
Malam itu, hanya seorang laki-laki yang asyik joget sendiri di hadapan pasukan OM Marshella. Sementara penonton lainnya cuma bisa dihitung jari, bersembunyi dalam kegelapan ruangan, menikmati hidangan, dan tenggelam dalam pikiran.
Sisanya di kafe itu, hanya ada beberapa penjaga warung yang membuka lapaknya dan beberapa pengelola kafe malam itu, termasuk Iwan.
"Kenapa di sini sepi sekarang, ya karena di luar sudah bebas. Ibaratnya job di luar tuh ramai, dan kafe-kafe sama klub dangdut juga banyak," kata Iwan.
"Walaupun akhir pekan tetap surut [penonton], paling ramai kalau ada bintang," lanjutnya. "Kalau pas special event, ada bintang dari Jawa Timur itu, bisa 1.500-2.000 penonton lebih,"
Keberadaan kafe dangdut seperti PAB adalah simpul lain yang memperpanjang nafas kehidupan banyak OM di Yogyakarta, termasuk OM Marshella.
Meski kafe sepi penonton, OM seperti Marshella tetap tampil karena itu adalah jadwal tetap mereka. Sementara hajatan dan acara lainnya, meski berpenonton ramai, tak pernah bisa diharap datang secara rutin.
"Ya sampai sekarang alhamdulillah grup kami selaku eksis," kata Gandrung, pemain sekaligus pengelola grup OM Marshella.
"Selalu manggung dari panggung ke panggung, bahkan seperti di kafe-kafe. Kemudian di tempat-tempat orang hajatan, orang yang sedang mengadakan khitanan," lanjutnya. "Kemudian, kami bahkan menerobos di acara resepsi manten,"
"Karena di Yogya, khususnya Yogya itu, kalau grup musik dangdut komplit itu jarang sekali grup musik dangdut di Yogya bisa menerobos di event-event seperti resepsi manten," kata Gandrung.
Kata Gandrung, acara hajatan banyak yang cuma bisa menyewa organ tunggal, bukan setim orkes komplet karena keterbatasan bujet. Sementara kebutuhan untuk keberlangsungan setim tetap ada, tak peduli datang dari hajatan atau bukan.
Maka wajar kiranya banyak OM disebut Gandrung bertumbangan. Biaya kebutuhan OM bukan hanya bayaran untuk pemain, tetapi juga perawatan hingga pembelian alat-alat musik. Belum lagi persaingan antar OM.
"Kalau dihitung mungkin bisa 100 lebih yang tumbang. Misalnya dari 2004 sampai hari ini, itu 100 grup lebih yang tumbang. Banyak sekali," kata Gandrung yang kini menyebut grup OM yang berusia lebih dari 10 tahun hanya berkisar 10 grup di Yogyakarta.
Seorang penonton tengah menikmati musik koplo di suatu diskotek di Yogyakarta. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Maka dari itu, ketika sebuah OM dapat jadwal tetap di sebuah kafe dangdut, mereka secara tertib bergantian naik ke atas panggung dan tampil. Entah ada atau tiada penontonnya.
Namun karena jadwal reguler ini pula, banyak OM tidak melangkah lebih jauh mempromosikan orkes mereka dalam bentuk iklan. Mereka lebih banyak hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.
Gaya bertahan hidup OM musik koplo di Yogyakarta ini juga dipaparkan oleh Etnomusikologi ISI Surakarta, Denis Satiaji. Denis menyebut OM yang masih terbilang orkes tradisional cenderung masih bermain di kafe-kafe seperti PAB.
"Di Yogya sendiri, konser-konser yang memunculkan orkes-orkes dangdut seperti itu tidak sebanyak di wilayah Jawa Tengah atau Jawa Timur," kata Denis. "Justru trennya di Yogya itu, format orkes main di model klub-klub,"
Selain daripada perilaku bermain aman dengan jadwal tampil reguler dan minim promosi, penyelenggara festival musik atau pun konser tampak tak tertarik menggandeng orkes-orkes dangdut koplo tradisional ini.
Hal ini berbanding terbalik dengan kelompok musik koplo kontemporer di Yogyakarta seperti NDX AKA ataupun Ndarboy Genk. Mereka justru hidup dari banyak tampil di konser ataupun festival musik.
Tentu saja, kelompok kontemporer ini tampil membawakan lagu karya sendiri yang sudah dikenal luas oleh publik. Sehingga, mereka punya basis massa yang bisa jadi alasan diundang penyelenggara konser.
Di sisi lain, kelompok kontemporer ini juga memiliki perbedaan dari kelompok tradisional dari segi musik meski sama-sama menggunakan bahasa Jawa.
Musik koplo ala NDX AKA ditampilkan di festival-festival musik kekinian. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Bila OM lebih sering membawakan lagu orang yang sedang naik daun, kelompok kontemporer ini berusaha membuat karya sendiri yang bisa disuka publik meski harus mencampur musik koplo dengan musik lainnya.
Selain itu, kelompok tradisional banyak mengandalkan keberadaan biduan perempuan untuk menarik massa. Berbeda dengan kelompok kontemporer yang kini banyak diisi laki-laki.
"Untuk NDX mungkin kenapa enggak pakaian seksi atau gimana, karena kami cowok," kata Nanda, pendiri NDX AKA. "Di sisi lain NDX fokus jual karya. Kami fokus jual karya."
"Kalau saya lihat di Instagram atau Google malah lebih banyak [pendengar] cowoknya. Berarti kami berhasil menjual karya kami, banyak yang terwakilkan," lanjutnya.
Formula itu pun bisa dilihat saat NDX AKA tampil di festival musik seperti Morefantastic di Solo beberapa waktu lalu. Pada malam itu, ribuan anak muda menantikan penampilan NDX AKA, Denny Caknan, dan Guyon Waton.
Ketika NDX AKA tampil di atas pangung, ribuan penonton tak ragu untuk bergoyang dan berdendang mengikuti alunan lagu hip hop dangdut. Apalagi, lagu-lagu yang dibawakan itu berbahasa Jawa.
"Karena lagunya Jawa, jadi lagunya easy listening. Jadi sudah hafal," ujar Vila, salah satu penonton NDX AKA.
"Mungkin musiknya, liriknya. Yang hafal banyak jadi bisa sing along, joget bareng, bikin enak begitu," tambah Devanka, penonton lainnya.
NDX AKA ketika tampil di salah satu festival musik di Indonesia. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Sementara bagi Helarius Daru Indrajaya alias Ndarboy Genk, eksistensi dirinya dan kelompok kontemporer juga terpengaruh fenomena media sosial. Beda halnya dengan orkes yang mengandalkan promosi secara langsung.
Menurut Daru, musik populer seperti yang ia dan NDX AKA mainkan sudah merambah ke segala sudut media sosial. Namun mereka juga masih mengandalkan promosi lewat radio dan televisi untuk menyebarkan karya mereka.
"Semua tuh saling bersinergi, saling menguntungkan. Jadi, kalau bisa ya tidak cuma media sosial saja, tapi juga tetap budaya promo radio, promo ke TV, media massa, media cetak," kata Daru.
Meski begitu, bukan berarti kelompok kontemporer lebih unggul dan orkes jadi 'ketinggalan' zaman. Keduanya hidup dalam sisi yang berbeda. Daru sendiri menganalogikan dua entitas musik koplo di Yogyakarta ini sebagai makanan.
"Musiknya adalah makanan yang harus dinikmati sama orang," kata Daru.
"Ibarat bakso itu koplo, enggak mungkin semua bakso. Ada yang jualan mie ayam, ada yang jualan nasi goreng. Enggak mungkin kalau kita siang makan nasi goreng, kita makannya bakso,"
"Menurutku semuanya itu ada pasarnya sendiri-sendiri," kata Daru. "Cuma masalah tempat dan juga waktu aja yang kita berbeda sekarang."