TILIKAN

Pasar Film yang Tak Sehat di Balik Marak Film Horor kala Lebaran

CNN Indonesia
Kamis, 20 Apr 2023 21:00 WIB
Pasar Film yang Tak Sehat di Balik Marak Film Horor kala Lebaran
Ilustrasi. Di balik riuh film horor kala libur Lebaran, ada gejala tren pasar yang dinilai tidak sehat. (cocoparisienne/Pixabay)

Para pelaku film Indonesia disebut Hikmat lebih cenderung "bermain aman" dengan berkutat di genre horor, komedi, cinta, religi, dan ikut latah dalam memproduksi sebuah film.

Sehingga, ketika satu tren sedang turun, maka yang lain akan mendominasi yang membuat keberagaman film di Indonesia menjadi minim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Satu laku, semua meniru karena enggak mau berisiko," kata Hikmat Darmawan. "Pasar film Indonesia jelas tidak sehat bukan karena genrenya, tetapi karena single story. Pasarnya tunggal,"

Sebenarnya Hollywood juga mengalami hal serupa saat film superhero berbujet raksasa alias blockbuster menguasai layar. Hal itu pun menuai banyak kritik karena kekayaan cerita film layar lebar menjadi minim.

Padahal Hollywood pernah mengalami fase musim liburan dengan kekayaan film layar lebar dan berasal dari produksi "kelas menengah" di bawah bujet US$100 juta, yakni pada dekade '90-an. Kala itu, ada Ghost, Home Alone, hingga Pretty Woman.

Banyak studio Hollywood menilai bahwa bila mereka mau untung banyak harus memproduksi film superhero. Hal itu karena superhero akan tetap menarik massa meski bujet produksinya di atas US$100 juta. Tren itulah yang ikut berpengaruh ke Indonesia.



"Itu berpengaruh kepada slot, jadi film-film yang menjamin adanya keberagaman harus selalu mengalah sama blockbuster dalam dan luar negeri dalam hal jatah tayang," kata Hikmat soal imbas ke Indonesia.

"Itunya yang enggak sehat, ditambah fakta bahwa kita tidak punya jalur distribusi yang sehat sampai saat ini." kata Hikmat menyinggung slot penayangan kini bergantung pada lobi produser dan bioskop.

Belum lagi soal bioskop yang masih terpusat di kota-kota besar seperti Jabodetabek. Hal ini membuat sebaran penonton menjadi tidak merata. Distribusi lokasi yang tak merata ini pula yang membuat film seringkali 'salah pasar'.

"Problemnya sekarang ini jumlah judul yang tayang mungkin dominannya film horor. Tapi kita lihat, jumlah perolehan penonton yang kuat tahun ini cuma Waktu Maghrib doang, selebihnya di bawah satu juta. Orang sudah mulai keringat dingin nih. Enggak ada tanda-tanda film yang kuat," kata Hikmat.

"Filmnya harus blockbuster, genrenya harus horor. Jadi, kalau blockbuster enggak dapat dan genre yang tersedia cuma itu, begitu genrenya sudah overuse, terus apa targetnya?" lanjutnya.

"Itulah bahayanya kalau pasar tidak majemuk, harusnya kan majemuk. Jadi kalau saya prospek, akan lebih sehat kalau banyak genre yang ditawarkan." kata Hikmat Darmawan.

(frl/end)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bioskop di Indonesia pada masa Lebaran 2023 kembali diramaikan dengan film horor, baik dari produksi lokal maupun impor dari Barat. Namun di balik riuh film horor kala libur Lebaran, ada gejala tren pasar yang dinilai tidak sehat.

Berdasarkan pengamatan CNNIndonesia.com, dua film horor yang baru dirilis pada momen libur lebaran kali ini sudah mencakup separuh atau 50 persen dari film baru yang tayang di bioskop.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua film horor baru tersebut menambah panjang film horor yang masih tayang di bioskop selama beberapa minggu terakhir sampai lebaran nanti. Tercatat, total ada 4 film horor atau 33 persen dari 12 film yang tayang saat ini di bioskop.

Angka itu jauh lebih tinggi dibanding empat genre film lainnya yang tayang selama musim liburan ini, yakni drama, action, komedi, dan animasi.

Untuk film drama, cuma ada 1 judul dari 4 film baru yang tayang, menggenapi jadi 2 judul drama dari 12 film yang tayang di bioskop atau setara dengan 16 persen. Angka ini sama juga terjadi dengan genre komedi.

Sedangkan untuk film action, hanya ada tiga film yang sudah tayang sebelumnya, atau setara dengan 25 persen. Genre animasi lebih sedikit lagi, hanya ada 1 judul dari 12 film yang tayang di bioskop.

[Gambas:Video CNN]





"Film horor sekarang lagi laku dan banyak sebabnya," kata Pengamat Film dan Budaya Populer, Hikmat Darmawan, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

"Pertama, kita lihat di seluruh dunia memang lagi naik. Kedua, ini ada persoalan bahwa market film sering didefinisikan oleh pembuat film atau produser itu secara sangat reduktif," lanjutnya.

Hikmat menilai bahwa pasar film di Indonesia ini hanya dianggap satu jenis oleh para pelaku industri, yakni bila satu tren sedang naik maka dianggap tren itulah yang sedang digemari.

Padahal, kata Hikmat, tren film libur lebaran aslinya dimulai dari genre komedi yang ditandai dengan film Warkop DKI yang hanya rilis pada saat libur Lebaran dan akhir tahun.

"Sebetulnya asumsi awal itu kan mestinya film yang ditonton bersama keluarga itu film keluarga, tapi ternyata enggak. Salah satu tonggak yang menyebabkan adanya pasar film lebaran itu adalah Warkop DKI. Jadi, awalnya itu adalah komedi," kata Hikmat.



"Bermula dari komedi, lama-lama menjadi apa yang dianggap sebagai serapan pasar tertinggi dan lima tahun terakhir kita lihat kan horor," katanya.

"Jadi, itu sangat bisa dipahami sebagai pertimbangan bisnis. Lebaran di sini adalah event marketing, bukan event religius dalam konteks film lebaran," lanjut Hikmat.

Namun seiring dengan perjalanan, rupanya pasar penonton film Indonesia 'dikerdilkan' saat para pelaku industri hanya memilih jenis genre tertentu untuk ditayangkan dengan alasan "main aman".

Lanjut ke sebelah...

'Harusnya Majemuk'

Ilustrasi. Di balik riuh film horor kala libur Lebaran, ada gejala tren pasar yang dinilai tidak sehat. (iStockphoto/EricVega)

Para pelaku film Indonesia disebut Hikmat lebih cenderung "bermain aman" dengan berkutat di genre horor, komedi, cinta, religi, dan ikut latah dalam memproduksi sebuah film.

Sehingga, ketika satu tren sedang turun, maka yang lain akan mendominasi yang membuat keberagaman film di Indonesia menjadi minim.

"Satu laku, semua meniru karena enggak mau berisiko," kata Hikmat Darmawan. "Pasar film Indonesia jelas tidak sehat bukan karena genrenya, tetapi karena single story. Pasarnya tunggal,"

Sebenarnya Hollywood juga mengalami hal serupa saat film superhero berbujet raksasa alias blockbuster menguasai layar. Hal itu pun menuai banyak kritik karena kekayaan cerita film layar lebar menjadi minim.

Padahal Hollywood pernah mengalami fase musim liburan dengan kekayaan film layar lebar dan berasal dari produksi "kelas menengah" di bawah bujet US$100 juta, yakni pada dekade '90-an. Kala itu, ada Ghost, Home Alone, hingga Pretty Woman.

Banyak studio Hollywood menilai bahwa bila mereka mau untung banyak harus memproduksi film superhero. Hal itu karena superhero akan tetap menarik massa meski bujet produksinya di atas US$100 juta. Tren itulah yang ikut berpengaruh ke Indonesia.

[Gambas:Video CNN]



"Itu berpengaruh kepada slot, jadi film-film yang menjamin adanya keberagaman harus selalu mengalah sama blockbuster dalam dan luar negeri dalam hal jatah tayang," kata Hikmat soal imbas ke Indonesia.

"Itunya yang enggak sehat, ditambah fakta bahwa kita tidak punya jalur distribusi yang sehat sampai saat ini." kata Hikmat menyinggung slot penayangan kini bergantung pada lobi produser dan bioskop.

Belum lagi soal bioskop yang masih terpusat di kota-kota besar seperti Jabodetabek. Hal ini membuat sebaran penonton menjadi tidak merata. Distribusi lokasi yang tak merata ini pula yang membuat film seringkali 'salah pasar'.

"Problemnya sekarang ini jumlah judul yang tayang mungkin dominannya film horor. Tapi kita lihat, jumlah perolehan penonton yang kuat tahun ini cuma Waktu Maghrib doang, selebihnya di bawah satu juta. Orang sudah mulai keringat dingin nih. Enggak ada tanda-tanda film yang kuat," kata Hikmat.

"Filmnya harus blockbuster, genrenya harus horor. Jadi, kalau blockbuster enggak dapat dan genre yang tersedia cuma itu, begitu genrenya sudah overuse, terus apa targetnya?" lanjutnya.

"Itulah bahayanya kalau pasar tidak majemuk, harusnya kan majemuk. Jadi kalau saya prospek, akan lebih sehat kalau banyak genre yang ditawarkan." kata Hikmat Darmawan.


HALAMAN:
1 2