Kritikus Film Terbelah Nilai The Marvels, Soroti Ide Segar Cerita
CNN Indonesia
Minggu, 12 Nov 2023 03:04 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Review kritikus terhadap The Marvels terbelah. Film yang tampilkan trio baru semesta MCU itu raih skor 59 persen dari 131 ulasan. (Marvel/Laura Radford)
Jakarta, CNN Indonesia --
The Marvels melanjutkan saga Marvel Cinematic Universe (MCU) sebagai film ke-33 dan rilisan terbaru Fase Kelima The Multiverse Saga. Film ini merupakan sekuel Captain Marvel (2019) dan kelanjutan dari serial Ms. Marvel (2022).
Selain itu, film ini juga menjadi debut trio baru semesta MCU beranggotakan Captain Marvel, Monica Rambeau, dan Ms. Marvel. Mereka bekerja sama karena kekuatan supernya saling berkaitan satu sama lain.
Perilisan The Marvels masih disambut antusias sebagian penggemar, meski ada pula yang mulai bosan dan lelah menonton MCU karena mengalami superhero fatigue.
Perbedaan mencolok terlihat dari ulasan kritikus film yang terbelah usai menyaksikan The Marvels. Sebagian besar mengaku lagi-lagi kecewa dengan rilisan terbaru MCU, tetapi banyak juga yang terkesan dengan karya Nia DaCosta tersebut.
Komentar yang beragam terlihat dari laman agregator Rotten Tomatoes. Per Kamis (9/11), The Marvels mendapatkan skor kritikus rendah karena hanya mencetak 59 persen dari 131 ulasan.
Capaian itu terbilang buruk bagi film dari waralaba sekaliber MCU. Bahkan, The Marvels nyaris menjadi juru kunci karena berada di peringkat 30 dari total 33 film MCU versi Rotten Tomatoes.
Beberapa ulasan kritikus menilai The Marvels tak memiliki arah dan esensi yang jelas. Hoai-Tran Bui, kritikus dari Inverse, bahkan mengibaratkan pesan film ini seperti surel dalam dunia korporasi.
Kritikus lainnya, seperti Tim Grierson dari Screen Internasional, mengungkapkan kritik dengan sorotan berbeda. Ia merasa MCU kini semakin kekurangan ide segar sehingga hanya dapat merilis film "semacam The Marvels."
Grierson dalam ulasannya juga menyebut The Marvels menjadi bukti bahwa MCU kehilangan kemampuan membuat film yang dapat memicu kekaguman.
"Sebagai tontonan kelas atas, rasanya ini tak penting, meski cukup menghibur. Dalam bahasa korporat, ini bisa dikirim lewat email saja," tulis Hoai-Tran Bui dari Inverse, Rabu (8/11).
"Setelah 33 bab, MCU tampaknya kekurangan ide-ide segar atau kemampuan untuk membuat kagum, kebanyakan mengulangi kekuatan lama dengan hasil yang semakin berkurang," ujar Grierson.
Di samping itu, beberapa kritikus bahkan tak segan menuliskan komentar pedas untuk karya debut MCU Nia DaCosta. Kritikus film New York Post, Johnny Oleksinski, menilai The Marvels tak lebih dari kesengsaraan yang menyedihkan.
Ia bahkan menilai film ini lebih payah dari Eternals (2021) atau Ant-Man and the Wasp: Quantumania (2023), dua film yang kerap disebut sebagai titik terendah MCU.
"Jika Anda mengira Eternals dan Quantumania adalah titik terendah MCU yang sedang pincang, bersiaplah untuk menyaksikan kesengsaraan yang menyedihkan lewat The Marvels," ujar Johnny Oleksinski.
Lanjut ke sebelah...
Namun, film ini tetap mendapat apresiasi dari kritikus lain. Ulasan Emily Zemler di Observer memuji The Marvels sebagai film yang sanggup memberikan nuansa ringan dan penuh kesenangan.
The Marvels, kata Zemler, juga berbeda dari beberapa rilisan MCU sebelumnya yang kerap mengecewakan.
Hal senada juga diungkapkan Valerie Complex, kritikus Deadline. Ia menganggap The Marvels sebagai angin segar di tengah industri film superhero yang lesu dan pola MCU yang penuh konsep multisemesta.
"Berdurasi kurang dari dua jam, nuansa ringan, dan tidak muluk-muluk demi kesenangan, The Marvels sangat berbeda dari kebanyakan film MCU baru-baru ini," tulis Zemler.
"Di era MCU yang sering mengusung petualangan multisemesta atau konflik antarplanet, The Marvels muncul sebagai angin segar," tulis Complex dalam ulasannya di Deadline.
Sementara itu, Clarisse Loughrey dari media Inggris Independent memuji kepiawaian DaCosta dalam mengemas cerita trio The Marvels. Sang sutradara disebut mampu menawarkan ide dan cerita khas MCU, yakni keberadaan superhero yang layak didukung penonton.
Dalam ulasan lengkapnya, Loughrey juga memuji The Marvels sebagai film yang manis dan lucu, tetapi tidak terlihat bodoh.
"DaCosta menawarkan kepada kita satu hal yang membuat waralaba ini berhasil--pahlawan yang benar-benar ingin kita dukung," ujar Clarisse Loughrey dari Independent.
The Marvels digarap Nia DaCosta yang dikenal sebagai sutradara Little Woods (2018) dan Candyman (2021). DaCosta juga menjadi penulis skenario bersama Megan McDonnell dan Elissa Karasik.
Film ini menggabungkan tiga superhero wanita MCU, yakni Brie Larson sebagai Carol Danvers alias Captain Marvel, Teyonah Parris sebagai Monica Rambeau, dan Iman Vellani sebagai Ms. Marvel.
Selain itu, The Marvels kembali menampilkan Samuel L. Jackson sebagai Nick Fury. Film ini juga menjadi debut Zawe Ashton sebagai Dar-Benn dan Park Seo-joon sebagai Prince Yan di MCU.
The Marvels tayang sejak 8 November di bioskop.
Jakarta, CNN Indonesia --
The Marvels melanjutkan saga Marvel Cinematic Universe (MCU) sebagai film ke-33 dan rilisan terbaru Fase Kelima The Multiverse Saga. Film ini merupakan sekuel Captain Marvel (2019) dan kelanjutan dari serial Ms. Marvel (2022).
Selain itu, film ini juga menjadi debut trio baru semesta MCU beranggotakan Captain Marvel, Monica Rambeau, dan Ms. Marvel. Mereka bekerja sama karena kekuatan supernya saling berkaitan satu sama lain.
Perilisan The Marvels masih disambut antusias sebagian penggemar, meski ada pula yang mulai bosan dan lelah menonton MCU karena mengalami superhero fatigue.
Perbedaan mencolok terlihat dari ulasan kritikus film yang terbelah usai menyaksikan The Marvels. Sebagian besar mengaku lagi-lagi kecewa dengan rilisan terbaru MCU, tetapi banyak juga yang terkesan dengan karya Nia DaCosta tersebut.
Komentar yang beragam terlihat dari laman agregator Rotten Tomatoes. Per Kamis (9/11), The Marvels mendapatkan skor kritikus rendah karena hanya mencetak 59 persen dari 131 ulasan.
Capaian itu terbilang buruk bagi film dari waralaba sekaliber MCU. Bahkan, The Marvels nyaris menjadi juru kunci karena berada di peringkat 30 dari total 33 film MCU versi Rotten Tomatoes.
Beberapa ulasan kritikus menilai The Marvels tak memiliki arah dan esensi yang jelas. Hoai-Tran Bui, kritikus dari Inverse, bahkan mengibaratkan pesan film ini seperti surel dalam dunia korporasi.
Kritikus lainnya, seperti Tim Grierson dari Screen Internasional, mengungkapkan kritik dengan sorotan berbeda. Ia merasa MCU kini semakin kekurangan ide segar sehingga hanya dapat merilis film "semacam The Marvels."
Grierson dalam ulasannya juga menyebut The Marvels menjadi bukti bahwa MCU kehilangan kemampuan membuat film yang dapat memicu kekaguman.
"Sebagai tontonan kelas atas, rasanya ini tak penting, meski cukup menghibur. Dalam bahasa korporat, ini bisa dikirim lewat email saja," tulis Hoai-Tran Bui dari Inverse, Rabu (8/11).
"Setelah 33 bab, MCU tampaknya kekurangan ide-ide segar atau kemampuan untuk membuat kagum, kebanyakan mengulangi kekuatan lama dengan hasil yang semakin berkurang," ujar Grierson.
Di samping itu, beberapa kritikus bahkan tak segan menuliskan komentar pedas untuk karya debut MCU Nia DaCosta. Kritikus film New York Post, Johnny Oleksinski, menilai The Marvels tak lebih dari kesengsaraan yang menyedihkan.
Ia bahkan menilai film ini lebih payah dari Eternals (2021) atau Ant-Man and the Wasp: Quantumania (2023), dua film yang kerap disebut sebagai titik terendah MCU.
"Jika Anda mengira Eternals dan Quantumania adalah titik terendah MCU yang sedang pincang, bersiaplah untuk menyaksikan kesengsaraan yang menyedihkan lewat The Marvels," ujar Johnny Oleksinski.
Lanjut ke sebelah...
Ulasan Kritikus: The Marvels Beri Angin Segar
Review kritikus terhadap The Marvels terbelah. Film yang tampilkan trio baru semesta MCU itu raih skor 59 persen dari 131 ulasan. (Marvel Studios)
Namun, film ini tetap mendapat apresiasi dari kritikus lain. Ulasan Emily Zemler di Observer memuji The Marvels sebagai film yang sanggup memberikan nuansa ringan dan penuh kesenangan.
The Marvels, kata Zemler, juga berbeda dari beberapa rilisan MCU sebelumnya yang kerap mengecewakan.
Hal senada juga diungkapkan Valerie Complex, kritikus Deadline. Ia menganggap The Marvels sebagai angin segar di tengah industri film superhero yang lesu dan pola MCU yang penuh konsep multisemesta.
"Berdurasi kurang dari dua jam, nuansa ringan, dan tidak muluk-muluk demi kesenangan, The Marvels sangat berbeda dari kebanyakan film MCU baru-baru ini," tulis Zemler.
"Di era MCU yang sering mengusung petualangan multisemesta atau konflik antarplanet, The Marvels muncul sebagai angin segar," tulis Complex dalam ulasannya di Deadline.
Sementara itu, Clarisse Loughrey dari media Inggris Independent memuji kepiawaian DaCosta dalam mengemas cerita trio The Marvels. Sang sutradara disebut mampu menawarkan ide dan cerita khas MCU, yakni keberadaan superhero yang layak didukung penonton.
Dalam ulasan lengkapnya, Loughrey juga memuji The Marvels sebagai film yang manis dan lucu, tetapi tidak terlihat bodoh.
"DaCosta menawarkan kepada kita satu hal yang membuat waralaba ini berhasil--pahlawan yang benar-benar ingin kita dukung," ujar Clarisse Loughrey dari Independent.
The Marvels digarap Nia DaCosta yang dikenal sebagai sutradara Little Woods (2018) dan Candyman (2021). DaCosta juga menjadi penulis skenario bersama Megan McDonnell dan Elissa Karasik.
Film ini menggabungkan tiga superhero wanita MCU, yakni Brie Larson sebagai Carol Danvers alias Captain Marvel, Teyonah Parris sebagai Monica Rambeau, dan Iman Vellani sebagai Ms. Marvel.
Selain itu, The Marvels kembali menampilkan Samuel L. Jackson sebagai Nick Fury. Film ini juga menjadi debut Zawe Ashton sebagai Dar-Benn dan Park Seo-joon sebagai Prince Yan di MCU.