Review Film: Frankenstein (2025)

Christie Stefanie | CNN Indonesia
Rabu, 25 Feb 2026 19:20 WIB
Review film: Frankenstein manifestasi keberhasilan Guillermo del Toro bingkai ulang monster klasik jadi jauh lebih manusiawi dari penciptanya.
Review film: Frankenstein manifestasi keberhasilan Guillermo del Toro bingkai ulang monster klasik jadi jauh lebih manusiawi dari penciptanya. (Netflix/Ken Woroner)
img-title Christie Stefanie
4
Review film: Frankenstein manifestasi keberhasilan Guillermo del Toro bingkai ulang monster klasik jadi jauh lebih manusiawi dari penciptanya.
Jakarta, CNN Indonesia --

Guillermo del Toro kembali mengeksplorasi dunia monster lewat Frankenstein (2025). Alih-alih menyajikan adaptasi harafiah dari novel klasik karya Mary Shelley, ia memilih merombak naskah demi memperdalam dinamika karakter utamanya.

Banyak modifikasi signifikan yang dilakukan del Toro dalam naskah buatannya, termasuk perombakan relasi fundamental antara Victor dan Elizabeth.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui film yang ia sutradarai sekaligus tulis, del Toro memilih menitikberatkan perhatian pada kedalaman sisi humanis ciptaan Frankenstein (The Creature) serta bagaimana aspek kemanusiaan tersebut mengintervensi keseluruhan plot.

Sebagai penulis naskah, Guillermo del Toro menyusun struktur penceritaan yang berlapis secara sistematis seolah mencoba ajak penonton memahami lebih dalam tiap karakternya. 

Lapisan terluarnya adalah konfrontasi Victor dan ciptaannya di masa kini, yang bertindak sebagai bingkai pembuka dan penutup yang mengikat seluruh rangkaian cerita.

Lapisan kedua hadir melalui sudut pandang Victor. Di sini, ia mengurai memori masa kecilnya bersama keluarga, dinamika hubungannya saat dewasa dengan sang adik, William, serta Elizabeth, hingga ambisi profesional yang akhirnya mendikte jalan hidupnya.

Lapis ketiga berfokus pada perspektif The Creature mengenai realitas yang ia hadapi pasca dihidupkan Victor. Bagian ini juga menyoroti bagaimana dunia bereaksi dengan kejam terhadap eksistensi makhluk yang dianggap aneh tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Del Toro juga mengeksplorasi gejolak batin The Creature saat berhadapan dengan dunia yang benar-benar asing, serta berbagai peristiwa yang akhirnya membentuk persepsi dirinya dan cara ia memandang penilaian orang lain.

Sebagai film gothic science fiction horror, Frankenstein karya Guillermo del Toro mengedepankan evolusi karakter dibandingkan elemen horor konvensional.

Meski tetap menyajikan visualisasi pembedahan yang vulgar dan adegan-adegan berdarah, esensi horor yang sebenarnya justru berakar pada beban moral dan penderitaan emosional dalam cerita.

FRANKENSTEIN. Oscar Isaac as Victor Frankenstein in Frankenstein. Cr. Ken Woroner/Netflix © 2025.Review Frankenstein: Horor dalam film ini bukan dari adegan pembedahan atau berdarahnya, melainkan pada penderitaan emosional karakternya. (Netflix/Ken Woroner)

Sutradara peraih Oscar 2018 ini sepertinya sadar audiens sudah sangat akrab dengan mitologi Frankenstein. Melalui deretan adaptasi yang sudah ada, publik berulang kali menyaksikan adegan laboratorium, sambaran petir, hingga pekikan ikonis, "Dia hidup!"

Alih-alih mereproduksi momen-momen klise tersebut, ia menyuguhkan pendekatan yang lebih kontemplatif dengan membedah sisi kemanusiaan melalui ikatan batin antara Victor dan hasil eksperimennya.

Guillermo del Toro menggali nilai-nilai kemanusiaan yang mempersatukan keluarga dan membentuk identitas seseorang, mulai dari fase kanak-kanak, proses pendewasaan, hingga perubahan peran individu di dalam struktur keluarga.

Film ini mencerminkan respons masyarakat terhadap hal yang mereka tidak ketahui, bagaimana penolakan orang tua saat anak-anak mereka tidak mampu memenuhi standar yang diharapkan.

Ia merekonstruksi gagasan di balik plot aslinya, mencakup tema kepedihan, isolasi, ambisi yang merusak, hingga tanggung jawab orang tua.

Guillermo del Toro dengan apik membawa ide-ide tersebut ke dalam kerangka modern dengan memanfaatkan isu-isu sosial klasik dengan cara yang jelas dirancang untuk penonton kontemporer.

Penonton diperlihatkan kisah Victor dan The Creature terjebak dalam pusaran ketakutan belas kasihan, hingga kekerasan. Takdir keduanya saling bertautan dan bercermin satu sama lain, hingga berujung pada konfrontasi final.

Oscar Isaac menerjemahkan dengan baik arogansi dan obsesi Victor Frankenstein. Ia berhasil membuat Victor menjadi karakter yang menyebalkan, baik sebagai ilmuwan dan seorang pria.

Sedangkan The Creature digambarkan sebagai sosok yang rapuh dalam upayanya meraih kasih sayang dan pengakuan sang "ayah," kondisi yang sebenarnya merefleksikan batin Victor sendiri.

Kehadirannya bisa memicu kengerian sekaligus iba dari bagi orang-orang sekitarnya. Ia memiliki kompas moral yang terus berkembang setiap melalui pengalaman baru, sehingga sisi kemanusiaannya menjadi mustahil untuk diabaikan.

FRANKENSTEIN. Jacob Elordi as The Creature in Frankenstein. Cr. Ken Woroner/Netflix © 2025.Review Frankenstein: Akting, gestur dan sorot mata Jacob Elordi bicara lebih dari sekadar dialog dalam memerankan makhluk yang begitu manusiawi dan merindukan afeksi. (Netflix/Ken Woroner)

Hampir tidak ada tindakan The Creature dalam versi del Toro yang murni berasal dari kejahatan atau memerlukan pengampunan. Kekerasan yang ia lakukan sejatinya bersifat defensif. Dia korban sesungguhnya dari kekerasan yang tak terbalaskan.

Jacob Elordi, yang memerankan The Creature, memberikan performa luar biasa hingga memang layak untuk masuk nominasi Best Supporting Actor Piala Oscar 2026.

Bahasa tubuh dan matanya menceritakan kisah sebanyak dialognya, hingga memaksa penonton peduli bahkan berempati pada makhluk yang seharusnya tidak pernah ada itu.

Mia Goth hadir sebagai Elizabeth yang karakter dan hubungannya dengan Victor diubah total oleh del Toro. Dalam film, ia menjadi calon adik ipar Victor, padahal versi novel ia merupakan tunangan peneliti tersebut.

Namun, modifikasi ini justru mempertajam tensi dalam keluarga dan semakin mengisolasi Victor, membuat relasi mereka lebih nampak sebagai obsesi searah ketimbang romansa yang tumbuh secara alami.

Del Toro memfungsikan Elizabeth sebagai simbol estetika dari kehidupan di tengah dunia yang kelabu dan penuh kehancuran.

Ia ditampilkan begitu vokal dan peduli dengan kehidupan segala makhluk yang ada di sekitarnya.

Elizabeth juga jadi individu pertama yang mampu mengenali sisi manusiawi The Creature, perspektif yang kemudian tercermin dalam kisah pria tua buta (David Bradley) yang berteman dengannya setelah ia keluar dari laboratorium Victor.

Lewat belas kasih Elizabeth dan pria tua buta itu, penonton bisa memahami The Creature sebagai manusia, sekaligus merasakan kepedihan mendalam saat ia ditolak oleh sosok yang paling ia harapkan cintanya.

FRANKENSTEIN. (L to R) Mia Goth as Elizabeth and Jacob Elordi as The Creature in Frankenstein. Cr. Ken Woroner/Netflix © 2025.Review Frankenstein: Perubahan dalam karakter Elizabeth (Mia Goth)  mempertajam tensi dengan Victor dan memperdalam sisi kemanusiaan The Creature. (Netflix/Ken Woroner)

Dari aspek sinematografi, kualitas visual karya Guillermo del Toro tak perlu diragukan lagi. Frankenstein begitu menakjubkan.

Frankenstein tampil memesona dengan ketelitian di setiap bingkai yang jelas dibuat dengan begitu teliti. Penataan cahaya, kostum, hingga elemen arsitektur bersinergi membangun keindahan yang kelam.

Walau melakukan banyak perombakan pada materi sumbernya, del Toro sukses mengimplementasikan visi Shelley tentang makhluk indah yang disusun dari bagian-bagian terbaik yang bisa ditemukan Victor.

Salah satu yang disayangkan dari film ini adalah hilangnya kalimat ikonis dari The Creature kepada Victor, padahal versi del Toro ini sudah menggali dimensi kemanusiaan karakter tersebut dengan sangat dalam.

Pada akhirnya, Frankenstein (2025) manifestasi keberhasilan Guillermo del Toro dalam menjaga roh cerita aslinya dengan tetap mempertahankan atmosfer, dilema moral, dan estetika visual era tersebut sembari membingkai ulang temanya agar tetap relevan bagi penonton masa kini.

Versi terbaru tersebut menawarkan pergeseran yang halus namun sangat kuat hingga pada akhirnya membuat The Creature terasa lebih manusiawi daripada penciptanya sendiri.

[Gambas:Youtube]

(chri/chri)