Konser 'Hijau' Bukan Cuma Gimik Bebas Plastik

CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 09:00 WIB
Konser musik sejatinya bukan hanya menikmati musik dan merasakan pengalaman konser untuk dikenang. (Photo by OSCAR SIAGIAN / AFP)
Konser musik sejatinya bukan hanya menikmati musik dan merasakan pengalaman konser untuk dikenang. (AFP/OSCAR SIAGIAN)

Apalagi, kebutuhan akan konser ramah lingkungan bukan hanya muncul dari dampak kerusakan lingkungan, tetapi juga kesadaran yang muncul dari pengguna atau penonton. Seperti yang disebut oleh Guerreschi, pengunjung bersedia untuk lebih berpartisipasi dalam festival yang menghasilkan polusi lebih sedikit.

Sejumlah penelitian mendukung pernyataan Guerreschi. Salah satunya adalah dari Hak Jun-song dkk pada 2012 yang menyebut pengunjung yang sadar akan lingkungan lebih terdorong untuk memilih atau membeli produk dan layanan yang relevan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun konser atau event yang menerapkan kebijakan ramah lingkungan juga bisa mendorong pengunjungnya untuk bertindak serupa, seperti yang ditulis Kim Woo-hyuk dan Kim Kyung-sook pada 2018.

Kim Woo-hyuk dan Kim Kyung-sook menyebut untuk mendorong niat pengunjung festival bertindak ramah lingkungan, penyelenggara harus menyasar sisi emosional dan norma pribadi mereka.

Hal itu karena pemicu emosional atau merasakan emosi positif saat berbuat baik serta kewajiban moral dari dalam diri alias norma pribadi, terbukti jauh lebih kuat memengaruhi niat pengunjung untuk menjaga lingkungan selama festival, dibandingkan dengan pemicu logis seperti fakta atau data ilmiah, atau pun tekanan sosial.

Christina Ballico serta Marisol Vazquez-Alonso dalam artikelnya pada 2021 juga menyebut, penyediaan inisiatif ramah lingkungan dan pendekatan komunikasi lingkungan yang efektif jadi pendorong utama mendukung perilaku pro-lingkungan para pengunjung.

Awas gimik

Kebijakan konser ramah lingkungan, menurut Judith Mair dan Jennifer Laing pada 2012, mesti dimotori dan didukung oleh pengelola dari festival tersebut.

Nilai-nilai pribadi atau etos manajer dan/atau penyelenggara, permintaan dari para pemangku kepentingan, dan keinginan untuk mendidik dan bertindak sebagai pendukung isu-isu lingkungan, juga jadi pendorong utama kebijakan ramah lingkungan.

Maka dari itu, penting untuk melihat lebih menyeluruh kebijakan ramah lingkungan di konser yang dihelat agar tidak terjebak gimik atau pencitraan semata, mengingat ramah lingkungan bukan hanya memilah sampah atau anti segala hal dari plastik.

Marie Connolly, Jérôme Dupras, dan Charles Séguin pada 2016 mengatakan salah satu aksi ramah lingkungan dalam sebuah konser bisa berupa para artis dan penyelenggara membeli kredit karbon yang setara dengan jejak karbon penggemar mereka.

Connolly dkk menghitung, biaya kompensasi karbon tersebut bisa dimasukkan ke dalam harga tiket dan hanya akan menambah sebesar satu persen secara rata-rata. Mereka mengklaim, tambahan tersebut tidak menghalangi penonton untuk membeli tiket.

Sementara Conolly dkk menilai kompensasi karbon jadi jalan terakhir, Khadijah dan Pratiwi menegaskan aksi nyata konser berkelanjutan harus menyentuh hal-hal sistemik. Oleh karena itu, penonton dapat membedakan aksi nyata dengan gimik semata melalui beberapa indikator konkret.

Konser yang sungguh peduli akan lingkungan akan menunjukkan upaya minimalisasi limbah, menggunakan energi terbarukan, hingga integrasi infrastruktur event dengan transportasi umum.

Selain itu, promotor yang serius juga akan bekerja sama dengan pemangku kepentingan yang memahami konsep berkelanjutan, menciptakan suasana inklusif bagi audiens, dan mendorong atau meningkatkan kesadaran sosial akan konsep berkelanjutan.

Dengan kebijakan yang lebih strategis dan sistemik tersebut, konser akan bisa diyakini berkomitmen menerapkan visi ramah lingkungan alih-alih sekadar menunggangi tren demi menarik keuntungan semata dari kantong penonton.

(end/end) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2