Review Film: Backrooms (2026)
Menyaksikan Backrooms (2026) itu macam pasrah masuk ke mesin MRI, menerima segala rasa terhimpit, bising, dan tertekan dari medan magnet, hanya untuk mendapati hasil yang tidak semua bisa mengerti.
Kane Parsons jelas tak menyia-nyiakan penawaran studio yang ingin mengangkat Backrooms (2022) --serial web Parsons yang terkenal dari folklor internet 2019, The Backrooms-- menjadi sebuah film panjang. Hal itu terlihat jelas bahkan dari detik pertama film ini dimulai.
Lihat Juga : |
Will Soodik sebagai penulis pun terlihat memahami betul keinginan Parsons dan potensi apa yang mau dilihat oleh penggemar YouTuber tersebut begitu opening title berakhir: sebuah reka adegan yang merujuk pada episode pertama Backrooms (2022).
Hanya saja kali ini, Soodik mengembangkan dengan serius serial web yang ceritanya mesti diraba-raba tersebut. Mengingat ini untuk film panjang, maka keputusan itu memang harus dilakukan.
Sayangnya, Parsons selaku kreator serial web tersebut agaknya tidak banyak terlibat dalam penulisan cerita. Hal ini terlihat dari komponen cerita yang dibuat Soodik untuk film ini.
Cerita Backrooms (2026) yang ditulis Soodik terasa persis seperti ruangan-ruangan tak berujung yang ditampilkan dalam film ini, ada cerita di dalam cerita. Ada satu jalur yang dipaksa ada untuk menghubungkan seluruh ruangan tersebut.
Seperti yang ditulis Soodik dalam film ini, manusia memang terbiasa membuat jalur yang kemudian menjadi loop atau pengulangan tabiat. Seperti itulah Soodik dan Parsons membawa penonton Backrooms (2026) selama 110 menit.
Hingga kemudian, mengingat durasi film punya ujung tidak seperti bangunan The Backrooms itu sendiri, Soodik dan Parsons harus menentukan akhir dari film ini. Yang mana hasilnya tidak memberikan gambaran jelas atas apa yang selama ini dilihat penonton.
Ibarat kata, sudah susah payah merasakan sesak di bawah mesin MRI, bising mendengar suaranya, tapi ternyata hasil pindainya tidak menjawab secara tegas apa yang sebenarnya dicari dari menjalani proses tersebut.
Namun seperti hasil MRI itu yang mungkin tidak menjawab pertanyaan utama, akan ada hal lain yang bisa diambil dari hasil tersebut. Sama seperti film ini, terlepas dari naskah Soodik yang jelas cuma bisa dinikmati sebagian orang, masih ada bagian Backrooms (2026) yang menarik.
Hal pertama yang benar-benar bisa dinikmati adalah bagaimana atmosfer tercipta dalam film ini. Topi patut diangkat tinggi-tinggi untuk tim desainer produksi yang sudah dengan penuh niat membangun set lokasi.
Entah apakah Parsons juga menyertakan tim yang sama dengan versi serial webnya, tapi yang jelas tim untuk film bekerja dengan ekstra, mulai dari mendesain letak ruangannya, membangunnya, dan menciptakan sistem supaya ruangan itu luar biasa luasnya tapi dengan efisien mengingat bujet film ini 'hanya' US$10 juta.
Selain tim desain produksi, tim artistik termasuk untuk tim rias dan tata cahaya juga berperan sangat penting dalam membangun atmosfer yang sungguh bikin merinding saat menyaksikan film ini.
Backrooms (2026) mungkin tidak akan bikin merinding kalau tata cahaya dan artistiknya mengikuti tipikal film horor yang gelap, suram, dan temaram.
Kemudian pujian juga patut diberikan untuk Jeremy Cox selaku pawang kamera yang mampu memberikan sorotan gambar yang pas untuk menyampaikan suasana ganjil nan tidak nyaman dari bangunan The Backrooms.
Cox jelas memainkan kameranya dalam berbagai mode sepanjang film ini, mulai dari yang normal dan pada umumnya digunakan, hingga menggunakan kamera lawas dan efek khusus yang menekankan atmosfer tidak nyaman.
Tentu saja ada juga permainan musik dari Parsons dan Edo Van Breemen yang mempertebal atmosfer creepy dari film ini. Musik distorsi yang mengganggu hingga permainan beat memang memuluskan cerita.
Namun uniknya, pada satu momen, scoring ini sebenarnya bisa berfungsi sebagai peringatan diri dan membuat penonton lebih siap dalam menghadapi peluang apa pun saat menelusuri ruangan The Backrooms.
Padahal, andai Parsons dan Van Breemen berani menjatuhkan penonton dalam 'kondisi nyata' yang dihadapi Clark dalam bangunan ganjil itu --yakni sunyi senyap tanpa suara selain dari tubuh sendiri-- atmosfernya bukan cuma creepy, tapi teror psikologis yang lebih depresif.
Terlepas dari naskah Parsons dan Soodik yang menggambarkan Clark dan Mary Kline melakukan tindakan bodoh khas karakter film horor, Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve tampil prima dalam membawakan karakter tersebut.
Ejiofor memang bagai menanggung sebagian besar drama yang terjadi sepanjang Backrooms (2026). Bahkan ketakutan penonton pun muncul seiring dengan kecemasan yang dirasakan Ejiofor.
Karakter Mary yang diperankan Reinsve juga sebenarnya punya arti penting dalam masalah di film ini dan penyelesaiannya. Hanya saja Soodik tampak terlalu sibuk untuk melabirinkan cerita demi mengejar gaya edgy, sementara Parsons terlalu fokus memastikan kesamaan antara film ini dengan serial webnya.
Hasilnya, Backrooms (2026) ditutup dengan konklusi yang berbeda untuk tiap penonton, ada yang pulang dengan pemahaman dan perasaan yang penuh, ada yang cuma separuh seperti barang-barang di The Backrooms, tapi ada juga yang pulang dengan penuh pertanyaan.
Seperti yang dilakukan ilmuwan bernama Phil (Mark Duplass) kepada Mary saat perempuan itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi selama ini, Kane Parsons merespons dengan "itu bukan wewenang saya untuk menjelaskan" dan meninggalkan Mary juga penonton dengan pertanyaan menggantung.