Pajak Super

Perancis Hapus Pajak Super 75 Persen

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 24/12/2014 01:38 WIB
Perancis Hapus Pajak Super 75 Persen Presiden Francois Hollande mempergunakan pajak super untuk memenangkan pemilu presiden melawan Nicolas Sarkozy pada 2012. (Reuters/Philippe Wojazer)
Paris, CNN Indonesia -- Ketika Presiden Perancis Francois Hollande memperkenalkan "pajak super" untuk kaum kaya pada 2012, banyak pihak khawatir akan banyak pebisnis, olahragawan dan seniman meninggalkan negara itu.

Seorang penasehat Hollande bahkan menyebutnya sebagai langkah Sosialis yang terlalu jauh yang bisa mengubah Perancis menjadi "Kuba tanpa matahari".

Dua tahun kemudian ketika masa pemberlakuan pajak ini akan berakhir pada 31 Desember, emigrasi massal tidak terjadi. Tetapi kerusakan terhadap daya tarik Perancis sebagai rumah pegawai bergaji tinggi sangat besar, sementara pemasukan dari pajak ini tidak berarti.


"Reformasi ini jelas merusak reputasi dan daya saing Perancis," ujar Jorg Stegemann, kepala Kennedy Executive, satu perusahaan pencari eksekutif tinggi yang berbasis di Perancis dan Jerman.

"Semakin sulit menarik manajer senior untuk bekerja di Perancis dibandingkan sebelumnya," katanya.

Hollande pertama kali menawarkan pajak sebesar 75 persen bagi orang berpenghasilan lebih dari 1 juta euro pada 2012 ketika berkampanye untuk menyingkirkan capres pesaingnya yang konservatif Nicolas Sarkozy.
Pajak super bagi si kaya menyingkirkan presiden inkumben Nicolas Sarkozy dari kubu Konservatif. (Reuters/Gonzalo Fuentes )
Rencana ini diterima dengan suka cita oleh pemilih berhaluan kiri dan membantu Hollande mengalahkan presiden inkumben.

Akan tetapi pajak ini menjadi duri bagi kubunya karena tidak membantu banyak dalam menurunkan hutang negara sesuai dengan batas yang diperbolehkan Uni Eropa dan menjadi pesan yang kontradiktif ketika Hollande berupaya mempromosikan citra yang lebih pro-bisnis.

Emmanuel Macron, mantan bankir yang kini menteri perekonomian, adalah penasehat Hollande yang mengeluarkan pernyataan "Perancis seperti Kuba tanpa matahari".

Kementerian Keuangan memperkirakan pemasukan dari pajak super ini mencapai 260 juta euro di tahun pertama dan 160 juta euro di tahun kedua.

Angka ini sejalan dengan perkiraan sebelumnya, tetapi kecil jika dibandingkan dengan defisit anggaran yang mencapai 84,7 miliar euro pada akhir Oktober.

Ancaman Mogok Sepak Bola

Versi pertama pajak yang dibayar oleh pegawai ditolak oleh Mahkamah Konstitusi karena dianggap mengandung sifat penghukuman.

Dan versi pajak yang disetujui mewajibkan perusahaan membayar pajak itu.

Klub-klub sepak bola Perancis sempat mengancam untuk mogok, dan bintang film Gerard Depardieu bahkan pindah ke Rusia sebagai aksi protes terhadap beban pajak Perancis yang merupakan salah satu tertinggi di dunia.

Sementara, sejumlah warga membuat kesepakatan diam-diam.

"Sejumlah kecil pindah ke luar negeri - ke Luxembourg, Inggris," ujar Jean-Philippe Delsol, pengacara pajak yang menulis buku tentang warga yang pindah karena pajak berjudul "Why I am Going To Leave France".
Menteri Ekonomi Emmanuel Macron menjadi arsitek mengembalikan perekonomian Perancis agar kembali dipercaya oleh investor. (Reuters/Gonzalo Fuentes )
"Tetapi dalam banyak kaasus, masalah pajak ini dibicarakan dengan perusahaan mereka dan sepakat untuk membatasi gaji dalam dua tahun dan setelah itu baru menerapkan kesepakatan lain.

Hollande dan pemerintahnya berusaha membebaskan bisnis dari pajak dan pungutan lain berjumlah 40 miliar euro karena tingkat pengangguran yang naik di atas 10 persen membutuhkan investasi dalam perekonomian Perancis yang sakit.

Bukan kebetulan bahwa Perdana Menteri Manuel Valis -bersama Macron yang merupakan tokoh reformasi utama dalam kabinet Hollande - memilih berkunjung ke London pada Oktober guna mengkonfirmasi bahwa pajak super ini tidak akan diperpanjang.

Perdana Menteri Inggris David Cameron sempat menawarkan untuk "menggelar karpet merah" kepada warga Perancis yang menghindari pajak super ini.

Tetapi Delsol mengatakan saga ini membuat kliennya khawatir untuk menginvestasikan waktu dan uang di Perancis dan hanya membuat orang semakin tidak percaya pada sistem pajak rumit yang gagal direformasi oleh pemerintah-pemerintah sebelumnya.

"Orang sudah kehilangan kepercayaan," ujarnya. "Ini tidak bisa diperbaiki dalam sekejap mata."