Protes Charlie Hebdo

Protes Charlie Hebdo, Demonstran Aljazair Bentrok

Ike Agestu/Reuters, CNN Indonesia | Sabtu, 17/01/2015 15:49 WIB
Protes Charlie Hebdo, Demonstran Aljazair Bentrok Demonstran mengatakan mereka menolak terorisme namun juga melawan kritik terhadap Nabi Muhammad. (Reuters/Ramzi Boudina)
Algiers, CNN Indonesia -- Polisi bentrok dengan demonstran di Algiers, Aljazair, setelah kerusuhan pecah pada protes terhadap penerbitan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad di edisi terbaru majalah satire Perancis Charlie Hebdo.

Beberapa petugas terluka dalam kerusuhan itu, dengan kelompok-kelompok kecil pengunjuk rasa melemparkan batu, kembang api dan botol ke pasukan keamanan di sekitar wilayah pantai dari ibukota Aljazair.

Puluhan orang ditangkap dan dua pemimpin Islam, Ali Belhadj dan Hamadache Zeraoui, ditahan karena mengorganisir demonstrasi secara ilegal di Algiers di mana demonstrasi masih dilarang, kata sumber keamanan.

Ratusan orang, termasuk perempuan dan anak-anak, sebelumnya berbaris secara damai di jalan ibu kota meneriakkan "Allahu Akbar”, bernyanyi dan melambaikan plakat mengatakan "Saya Mohammad" dalam bahasa Perancis dan Arab untuk memprotes kartun Charlie Hebdo itu.


"Ini adalah agama saya. Saya dengan Nabi saya dan mereka mengkritik dia," kata Mohammed Rechache, seorang sopir truk yang ambil bagian dalam aksi di Algiers dengan putranya.

Tiga teroris membunuh 17 orang pekan lalu di Perancis, yang dimulai dengan pembunuhan di majalah Satire Charlie Hebdo yang di waktu lalu pernah memuat kartun Nabi Muhammad. Pelaku penembakan di kantor Charlie Hebo ini adalah warga Perancis keturunan Aljazair.

Edisi pertama Charlie Hebdo setelah serangan, yang diterbitkan pada Rabu (14/1), menampilkan kartun lain dari Nabi Muhammad di sampul depannya yang dianggap sebagai provokasi baru. Kartun Nabi Muhammad digambarkan memegang tulisan "Je Suis Charlie" yang berarti "Saya Charlie" dan tulisan diatasnya yang berbunyi "Semua Dimaafkan".

Demonstrasi dilarang di Aljazair sejak konflik mendera negara itu pada awal 1990an. (Reuters/Ramzi Boudina)
"Kami melawan mereka yang mengkritik Nabi Muhammad, tapi kami juga melawan terorisme," kata Salem Benzamia, mahasiswa, yang membawa poster dalam bahasa Inggris.

Aljazair mengalami perang berdarah dengan militan Islam pada 1990-an ketika sekitar 200 ribu orang tewas dalam konflik di mana seluruh desa terkadang dibantai dan ekstremis berjuang untuk membentuk negara Islam sendiri.

Sebelum perang, gerakan politik Islam mengorganisir puluhan ribu orang dalam demonstrasi untuk mendengar pidato di Algiers. Tentara membatalkan pemilu pada 1991 yang kemungkinan besar akan dimenangkan oleh kelompok Islam, membuat negara itu didera konflik selama hampir satu dekade. (stu)