Kesaksian Horor Pembantaian Warga Desa di Irak

Denny Armandhanu/Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 29/01/2015 15:10 WIB
Kesaksian Horor Pembantaian Warga Desa di Irak Militan Syiah mengumpulkan warga di desa Barwanah, memaksa mereka berlutut dan membunuh hingga 72 orang. Tentara pemerintah ada di situ, tidak berbuat apa-apa. (Reuters/Stringer)
Diyala, CNN Indonesia -- Pembantaian terhadap warga Muslim Sunni kembali terjadi di Irak, diduga dilakukan oleh militan Syiah yang disaksikan langsung tentara pemerintah yang tidak berdaya. Hal ini disampaikan oleh lima orang saksi mata kepada Reuters.

Kelima saksi mengisahkan pembantaian sedikitnya 72 warga Sunni Irak yang tidak bersenjata di desa Barwanah, provinsi Diyala, pada Senin (26/1). Kesaksian mereka hampir sama, komplotan berseragam menciduk warga dari rumah mereka, dibariskan dan dibuat berlutut, lalu beberapa orang ditembak hingga tewas.

Salah seorang saksi, Abu Omar, bercerita melalui telepon pada Reuters. Saat itu, kata Omar, sekitar pukul 3:30 dini hari datang 10 mobil Humvee yang membawa puluhan tentara di dalamnya.


Dari seragam yang berwarna hitam dan cokelat, Omar memastikan mereka adalah militan Syiah dan pasukan pemerintah. Beberapa di dalam Humvee itu berpakaian sipil. Mereka lalu menyisir rumah satu per satu dan mengeluarkan semua pria di dalamnya. Semuanya, bahkan pria berusia hingga 70 tahun, dipukuli dan dimaki dengan makian sektarian.

Para militan ini lantas mengambil kartu pengenal dan telepon seluler mereka. Omar dan putranya yang mengalami kelainan psikologis, 12, diikat dengan tali. Mereka lalu dibawa ratusan meter ke arah ladang, ada ratusan pria telah berkumpul.

Selama sekitar dua jam, mereka dipaksa berlutut dan melihat ke tanah. Para militan lalu memilih targetnya dan membawa ke balik tembok yang terbuat dari lumpur. "Mereka membawa mereka ke belakang tembok. Kurang dari semenit, terdengar tembakan," kata Abu Omar.

Warga yang selamat lainnya mengatakan, korban juga ditembak di gang-gang, rumah, di belakang masjid atau di tempat sampah.

Kesaksian yang sama disampaikan Abu Maz'el, 25, pengungsi dari Sinsil di Barwanah. Dia mengatakan, beberapa militan mengenakan gelang tangan bertuliskan Hussein, tokoh junjungan umat Syiah.

Maz'el diikat bersama dengan sepupunya yang berusia 35 tahun dan dipaksa berlutut. Sepupunya mendongakkan kepala lalu ditampar dan diseret ke sebuah tempat.

"Lima menit kemudian, mereka membawa dia dan membunuhnya," kata Maz'el.

Jatuh seperti domino

Saksi lainnya mengatakan tentara pemerintah tidak berdaya dan hanya menyaksikan pembantaian tersebut. Beberapa di antara tentara itu terlihat menangis saat eksekusi dilakukan.

Saksi lainnya, Abdullah al-Jubouri, 23, mengaku lari dan bersembunyi di dalam tumpukan sampah saat Humvee datang. Dia melihat beberapa tentara dan militan dekat sekolah menembaki sekitar 13 pria yang berbaris dengan tangan terikat.

"Saya melihat mereka berjatuhan seperti domino," kata Jubouri.

Pemandangan usai tentara dan militan pergi sama mengerikannya. Wanita dan anak-anak menangisi suami dan ayah mereka yang terkapar tewas. Ratapan itu terdengar semalaman.

Jubouri mengaku menemukan mayat tetangganya di dalamnya rumahnya dengan lubang peluru menganga di kepala dan dada. Dia melihat mayat-mayat dengan luka yang sama di ladang dan di seluruh desa.

Abu Omar menemukan enam saudaranya terbunuh. Satu di dalam rumahnya dan sisanya di balik tembok di ladang.

Haqqi al-Jobouri, anggota dewan provinsi Diyala mengatakan pada Reuters ada sedikitnya 72 orang tewas pada Senin itu. Sebanyak 35 lainnya hilang, diduga ditahan.

Perang sektarian

Diyala adalah lokasi kekerasan sektarian antara kelompok ISIS dan militan Syiah dalam perebutan wilayah timur laut Irak yang strategis.

Militan ISIS kerap melakukan pengeboman bunuh diri dan pembunuhan. Sebagai balasan, militan Syiah dituduh melakukan pembunuhan warga Sunni, termasuk dua pembantaian di Diyala tahun lalu.

Pemerintah Irak mengatakan mereka tengah melakukan penyelidikan terkait peristiwa Senin lalu. Namun beberapa pejabat pemerintah dan militer Irak membantah kesaksian warga dan mengatakan ISIS berada di balik serangan tersebut.

"Perdana menteri telah memerintahkan investigasi secepatnya dan kami menunggu hasilnya. Saya tidak bisa mengambil kesimpulan saat ini. Saat hasil penyelidikan keluar, kita bisa melihat gambaran keseluruhannya," kata Rafid Jaboori, juru bicara Perdana Menteri Haider al-Abadi.

Sementara itu, ketakutan masih menghantui warga Barwanah. Mereka mengatakan bahwa militan dan pasukan keamanan yang sama masih mengepung desa itu usai pembantaian pada Senin lalu, mencegah warga keluar.

"Kami telah dikepung berhari-hari. Kami tidak punya makanan, tidak punya apa-apa," kata Abu Ahmed, 27. (stu)