Dilansir Reuters, Selasa (17/3), pada awal tahun ini, Boko Haram mengambil alih 20 wilayah pemerintah lokal demi membangun negara Islam di tengah penduduk dengan agama beragam di Nigeria.
Namun, gempuran militer Nigeria bersama Kamerun dan Chad berhasil menekan Boko Haram beberapa wilayah. Pada akhir pekan lalu, Nigeria berhasil merebut kembali Bima, kota kedua terbesar di Borno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kini, belum dapat dipastikan seberapa besar pengaruh perjuangan militer ini akan mendorong popularitas nama Jonathan dalam pertarungan sengit pemilu.
Akibat serangan Boko Haram, proses pemilu diundur dari Februari menjadi 28 Maret mendatang. Komisi pemilu merencanakan pembangunan tempat pemungutan suara (TPS) di beberapa kamp bagi lebih dari satu juta warga Nigeria yang mengungsi akibat pertempuran tersebut. Kendati demikian, beberapa pihak menyatakan ada potensi warga di kamp tersebut tidak dapat ikut serta dalam pemilu.
Ditanyakan apakah pemilu dapat dilaksanakan di beberapa daerah yang sudah direbut kembali, Minimah mengatakan bahwa keputusan ada di tangan komisi pemilu.
"Wilayah itu sudah dibebaskan, tapi struktur pemerintahan perlu diaktifkan kembali sehingga warga bisa kembali ke daerah mereka dan memilih. Seberapa cepat? Saya tidak tahu," katanya.
Aksi kekerasan Boko haram terhadap warga Nigeria sudah menarik perhatian dunia internasional sejak April tahun lalu. Kala itu, kelompok militan ini menculik lebih dari 200 siswi di Desa Chibok.
Sampai saat ini, Minimah belum mengantongi informasi di mana keberadaan para gadis tersebut. Kendati demikian, Minimah mengaku optimis bahwa militer akan segera mendapatkan informasi. (stu/stu)