Kolumnis Tidak Terdaftar

Teror Tunisia: Penyerang Museum Bardo, Musuh yang Dikenal

Kolumnis Tidak Terdaftar, CNN Indonesia | Kamis, 19/03/2015 11:16 WIB
Teror Tunisia: Penyerang Museum Bardo, Musuh yang Dikenal Jon Marks menganggap pelaku penyerangan di Museum Bardo, Tunisia, adalah musuh yang sudah dikenal. (Dok. chathamhouse.org)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jon Marks adalah pejabat di lembaga think tank London, Chatham House, dalam Program Timur Tengah dan Afrika Utara. Ia memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam melaporkan dan menganalisis wilayah Maghreb. Mark juga merupakan salah satu penggagas badan konsultasi Inggris, Crossborder Information. Tulisan ini adalah opini dari Mark yang dimuat di CNN pada Rabu (18/3).

Penyerangan oleh kelompok bersenjata di Museum Bardo, Tunisia, yang menewaskan 17 turis asing dan dua warga Tunisia pada Rabu (18/8) sudah dapat diprediksi. Kementerian Dalam Negeri Tunisia menyebut bahwa pelaku serangan adalah kelompok radikal Islam.

Dalam pemberitaan pada Rabu (18/8), CNN melansir bahwa serangan ini merupakan obor jihad yang mewakili ribuan militan aktif di Tunisia. Lahirnya militan di Tunisia merupakan dampak dari revolusi Arab yang dikenal dengan sebutan Arab Spring pada 2010 lalu.


Pemicu gerakan ini adalah maraknya KKN, krisis ekonomi, dan pemilu kotor dalam pemerintahan di beberapa negara Arab. Gerakan ini berhasil menggulingkan empat rezim pemerintahan yaitu di Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman.

Dalam empat tahun penuh gejolak, pemerintah yang terus bekerja sama dengan oposisi dari Islam moderat, Ennahda, getol membangun Tunisia yang ramah terhadap investasi luar negeri.

Tunisia adalah satu-satunya negara pembesut Arab Spring yang akhirnya berhasil membangun sistem politik. Presiden Beji Caid Essebsi dan koalisinya dalah produk dari proses konstitusional Tunisia yang panjang.

Di tengah revolusi yang bersemi, rona lain sebenarnya tersembul dibelakangnya. Gerakan lain inilah yang bertanggung jawab atas penyerangan di Museum Bardo.

Kelompok Salafi lokal yang menyebut diri mereka Ansar Al-Sharia mulai merambah di Tunisia. Unit multinasional, termasuk ISIS di dalamnya, dengan efektif merekrut pemuda Tunisia di pojok kota miskin di utara Tunisia. Dari sinilah sebenarnya pertama kali muncul gerakan yang akhirnya melengserkan Ben Ali pada 2011.

Mereka merasa tertipu dengan klaim pemerintah yang menjanjikan lebih banyak pekerjaan dan sumber daya di daerah-daerah kurang mampu selama empat tahun belakangan. Mereka frustrasi.

Kaum radikal dengan basis dukungan kuat di Libya dan Aljazair ini tak pelak menjadi ancaman besar terhadap keamanan negara. Dua politisi "sekuler" menjadi korban pada 2013.

Angkatan bersenjata Tunisia yang didukung Aljazair telah memerangi kelompok radikal di wilayah Gunung Chaambi selama tiga tahun belakangan. Namun, mereka belum mendeklarasikan kemenangan lantaran pertahanan gerakan ini sangat kuat.

Sementara pemerintah sibuk menggempur Salafi, ribuan warga lain bergerak dari bawah tanah. Sebagian besar dari mereka disinyalir mengikuti kelompok tempur militan besar di Suriah dan Libya. Pada Januari 2013, jihadis Tunisia dan Libya bersatu menyerang sebuah pabrik gas strategis yang dioperasikan oleh BP dan Statoil di Aljazair selatan.

Dengan demikian, penyerang di Bardo adalah musuh yang sudah dikenal.

Perdana Menteri Tunisia, Habib Essid, berjanji akan membangun respons keamanan yang kuat. Namun, tragedi di Tunisia telah berdampak langsung dalam proses politik. Mayoritas warga Tunisia masih berdiri mendukung institusi republik, tapi tak setuju dengan kebijakan rincinya.

Insiden ini akan mengingatkan rekan Tunisia bahwa transisi di negara tersebut masih rapuh dan warga memerlukan komitmen dukungan untuk menjadikannya nyata. Dengan pendampingan militer dan finansial, dan yang paling penting, investasi yang dapat mendorong tumbuhnya perekonimian di tengah keputusasaan sejak 2011.

Pembantaian di Bardo ini mengetengahkan Tunisia dalam program globa ISIS yang selama ini telah merambah di negara tetangganya, Libya. Ini adalah cara yang mengerikan untuk mengingatkan dunia bahwa percobaan Tunisia dalam reformasi demokrasi membutuhkan segala bantuan. (stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS