Kelompok bantuan Handicap International mengatakan beberapa dari bahan peledak itu belum meledak dan karenanya akan menimbulkan ancaman mematikan dalam beberapa tahun mendatang.
Badan itu juga menyelidiki 78 ribu kekerasan selama perang Suriah antara Desember 2012 hingga Maret 2015, dan menemukan bahwa lebih dari 80 persen senjata yang terlibat mempunyai efek hancur yang tinggi seperti roket, mortir dan bom.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upaya diplomatik untuk menemukan solusi politik sejauh ini belum berhasil.
Di Suriah, berbagai konflik sektarian bergerumul membuat situasi makin parah. Berbagai kelompok pemberontak berjuang menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, di lain pihak banyak pula kelompok militan yang saling bersaing merebut wilayah-wilayah Libya seperti ISIS dan Front Nusra—afiliasi al-Qaidah di Suriah.
Amerika Serikat bersama pasukan koalisi juga memborbardir Suriah lewat serangan udara untuk menggempur militan ISIS.
Handicap International, yang menyediakan bantuan untuk orang-orang cacat di daerah konflik dan bencana, juga menemukan bahwa sepertiga dari semua insiden terjadi di wilayah yang padat penduduk.
"Hal ini menunjukkan bahwa pihak yang berperang tidak punya niat serius untuk membedakan antara warga sipil dan militan yang melanggar hukum kemanusiaan internasional," kata Handicap.
Provinsi-provinsi di wilayah Barat yang padat penduduk seperti Alepo, Deraa, Homs, dan Idlib merupakan daerah yang paling sering terkena dampak.
Penelitian Handicap dilakukan berdasarkan laporan berita, media sosial, data dari PBB dan lembaga non-pemerintah. (stu)