Bahas Soal Imigran, Menlu Malaysia Bertolak ke Myanmar

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Kamis, 21/05/2015 09:57 WIB
Menlu Malaysia, Anifah Aman, akan berkunjung ke Myanmar pada Kamis (21/5) untuk membahas soal eksodus ribuan imigran etnis Rohingya dari negara itu. Menlu Malaysia, Anifah Aman dan Menlu Myanmar, U Wunna Maung Lwin akan bertukar pandangan soal perdagangan dan penyelundupan manusia di Asia Tenggara. (Reuters/Olivia Harris)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman akan melakukan kunjungan kerja ke Myanmar pada Kamis (21/5) untuk membahas soal eksodus ribuan imigran etnis Rohingya dari negara itu.

Anifah dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Myanmar U Wunna Maung Lwin di ibu kota Nay Pyi Taw. Keduanya akan bertukar pandangan soal perdagangan dan penyelundupan manusia di Asia Tenggara.

Kunjungan Anifah ke Myanmar dilakukan sehari setelah bertemu dengan Menlu RI, Retno Marsudi dan Menlu Thailand, Tanasak Patimapragorn, di Putrajaya untuk membahas soal ribuan pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar dan imigran Bangladesh yang terdampar di perairan ketiga negara.


Pertemuan tiga negara ditutup dengan pernyataan bersama dari Malaysia dan Indonesia yang berjanji akan menyediakan tempat penampungan sementara selama satu tahun bagi sekitar 7.000 pengungsi etnis Rohingya dan imigran Bangladesh yang masih terkatung di perairan mereka sembari mengupayakan repatriasi para imigran ke negara asal.

Sementara Thailand berjanji untuk memberikan bantuan dan perlindungan bagi para imigran di tengah laut dan tidak akan mendorong perahu mereka kembali ke laut.

Malaysia dan Thailand telah meminta Myanmar untuk membendung aliran eksodus etnis Rohingya, namun Myanmar menolak bertanggungjawab atas masalah ini dan mengklaim bahwa etnis Rohingya adalah imigran ilegal dari Bangladesh.

Sementara, juru bicara partai oposisi Myanmar, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), Nyan Win menyatakan dia tak pernah menerima istilah 'Rohingya'.

"Kami tidak memiliki masalah Rohingya. Keyakinan saya, mereka adalah manusia, dan mereka harus diperlakukan sebagai manusia," kata Win.

Badan pengungsi PBB, UNHCR, pada awal bulan ini melaporkan bahwa terdapat sekitar 25 ribu imigran menggunakan jasa penyelundup manusia pada periode Januari dan Maret tahun ini. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dari jumlah imigran pada periode yang sama tahun 2014.

Menurut Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, jumlah imigran asal Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di Aceh sebelumnya telah mencapai 1.346 orang. Jumlah ini belum termasuk ratusan imigran yang terdampar di perairan Aceh pada Rabu (20/5) pagi.

Kemenlu saat ini masih menunggu hasil verifikasi yang dilakukan UNHCR dan IOM soal status imigran tersebut.

Sementara, jumlah imigran di Indonesia yang saat ini menunggu resettlement telah mendekati angka 12 ribu jiwa. (ama/stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK