Sengketa Perbatasan Malaysia dengan Berbagai Negara

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Rabu, 17/06/2015 14:30 WIB
Sengketa Perbatasan Malaysia dengan Berbagai Negara Perkara Ambalat hanya satu hal yang harus dipusingkan Malaysia. Negeri jiran itu memiliki konflik perbatasan dengan beberapa negara lainnya. (Reuters/Ritchie B. Tongo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Isu sengketa Ambalat kembali mengemuka setelah Indonesia melayangkan protes pelanggaran wilayah udara oleh angkatan udara Malaysia.

Perkara Ambalat hanya satu hal yang harus dipusingkan Malaysia. Negeri jiran itu memiliki konflik perbatasan dengan beberapa negara. Berikut ulasan singkat sengketa perbatasan yang dialami Malaysia, termasuk dengan Indonesia:

Malaysia vs China


Salah satu sengketa perbatasan terbesar yang melibatkan Malaysia adalah perebutan Kepulauan Spratly di Laut China Selatan. Gugusan terumbu karang yang diyakini kaya minyak ini diperebutkan oleh Malaysia, Filipina, Taiwan, China dan Vietnam.

Malaysia adalah negara terakhir yang mengklaim Spratly, yaitu pada 1979 dengan menunjukkan peta perbatasan laut mereka. Klaim Malaysia ini diprotes China, Vietnam dan Filipina, serta memicu sengketa baru dengan Singapura dan Indonesia terkait pulau-pulau yang baru pertama kali muncul dalam peta tersebut.

Malaysia mengklaim puluhan pulau kecil di Spratly yang terletak 200 mil laut dari Zona Ekonomi Eksklusif mereka.

Hingga saat ini, sengketa ini masih belum menemui titik terang. Tahun 2002 ditetapkan "Deklarasi Perilaku Pihak-pihak di Laut China Selatan" yang berhasil meredam ketegangan di perairan ini. Namun, deklarasi ini bukanlah "tata berperilaku" yang mengikat seperti yang diinginkan oleh banyak pihak.

Kini beberapa negara pengklaim menuduh China mulai berusaha menguasai Spratly, ditandai oleh reklamasi untuk landasan udara militer. Selain diyakini kaya minyak dan gas, wilayah ini merupakan jalur pelayaran dagang terbesar.

China melakukan reklamasi di wilayah sengketa Laut China Selatan. (Reuters/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative)
Malaysia vs Thailand

Ada dua wilayah di perbatasan Malaysia-Thailand yang menjadi objek sengketa, yaitu wilayah Bukit Jeli di dekat Sungai Kolok dan perairan dekat Teluk Thailand.

Bukit Jeli adalah wilayah seluas 45 hektar yang dipersengketakan tahun 1990-an saat dilakukan demarkasi oleh Malaysia.

Sementara sengketa Malaysia-Thailand di Teluk Thailand terjadi akibat tumpang tindih klaim perbatasan. Solusi sementara, Malaysia dan Thailand pada 21 Februari 1979 menandatangani nota kesepahaman untuk menciptakan wilayah pengembangan bersama seluas 7.250 km persegi.

Langkah ini kemudian diikuti oleh kesepakatan pada 30 Mei 1990. Berdasarkan kesepakatan ini, kedua negara berhak melakukan eksploitasi bersama sumber daya alam di wilayah pengembangan tersebut.

Kedua sengketa antara Malaysia dan Thailand berakhir tanpa ketegangan bersenjata.

Malaysia vs Singapura

Malaysia sempat berseteru dengan Singapura terkait wilayah Pedra Branca pada tahun 1979. Kasus ini diselesaikan di Mahkamah Pidana Internasional, ICJ, pada 2008 dengan pembagian wilayah bagi dua negara yang bersengketa.

Sengketa dimulai tahun 1980 saat Singapura mengajukan protes atas peta yang dibuat Malaysia tahun 1979, mencakup pulau Pedra Branca, Middle Rocks dan South Ledge.

Singapura berargumen Pedra Branca adalah adalah terra nullius, atau pulau yang tidak pernah dimiliki oleh negara mana pun. ICJ memenangkan Singapura atas pulau Pedra Branca. Sementara Malaysia mendapatkan Middle Rocks.

Malaysia vs Brunei

Malaysia mengklaim wilayah Limbang yang juga diakui oleh Brunei. Sengketa ini selesai pada tahun 2009 saat Brunei membatalkan seluruh klaim mereka dan mengakui bahwa Limbang masuk dalam wilayah Sarawak, Malaysia.

Malaysia vs Indonesia

Malaysia memiliki beberapa sengketa perbatasan dengan Indonesia, di antaranya adalah wilayah Tanjung Datu, Camar Wulan dan Ambalat.

Ambalat yang sekarang tengah ramai diberitakan adalah blok laut yang terletak antara Kalimantan Timur dan Sabah.

Terletak di atas jantung basin Pasifik, Ambalat memiliki kekayaan laut yang kaya, termasuk lebih dari 3.000 spesies ikan dan ratusan koral. Wilayah ini juga punya cadangan minyak dan gas berlimpah yang diperkirakan bisa dieksploitasi hingga 30 tahun lamanya.

Ambalat masuk dalam peta Malaysia tahun 1979, namun Indonesia menolaknya karena peta itu belum terdokumentasikan di Majelis Umum PBB. Kendati masih dalam sengketa, Malaysia telah mengembangkan potensi pariwisata laut di sekitar Ambalat.

Pemerintah Malaysia mengatakan tidak akan membawa perkara ini ke ICJ dan akan memilih jalur diplomatis.

Baca juga: Sejarah Panjang Kemelut RI-Malaysia di Ambalat (den)