Baghdad Cabut Jam Malam, Banyak Restoran Buka Saat Sahur

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2015 14:59 WIB
Pencabutan jam malam di ibu kota Irak, Baghdad, sejak lima bulan lalu rupanya menjadikan kehidupan warga menjadi lebih semarak pada malam hari. (Reuters/Thaier Al-Sudani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pencabutan jam malam di ibu kota Irak, Baghdad, sejak lima bulan lalu rupanya memberikan berkah bagi warga Irak di kala bulan Ramadan. Pasalnya, banyak rumah makan di Baghdad beroperasi lewat tengah malam, menawarkan variasi menu santap sahur bagi warga sekitar.

Rumah makan Aroma Cafe yang terletak di jantung kota Baghdad, misalnya, terlihat ramai riuh disesaki pengunjung yang tengah menikmati santapan sahur dengan menu tradisional Irak pada pukul 01.30 pagi.

Keadaan seperti ini tidak akan dapat terjadi beberapa bulan lalu, karena jam malam mengharuskan warga Baghdad berada di dalam rumah setelah tengah malam hingga pukul 5 pagi.


(Baca juga: Jam Malam Akan Dicabut, Ledakan Bom Tewaskan 34 Orang di Irak)

Sejumlah pramusaji restoran yang berpakaian rapi terlihat dengan cepat melayani pesanan pelanggan, menyajikan sup, teh dan shisha. Masakan di meja prasmanan pun terus diisi ulang, menggoda siapapun yang datang dengan aroma daging panggang dan segarnya salad, jus serta buah-buahan.

Irak mencabut jam malam yang telah berlangsung selama satu dekade di Baghdad pada awal tahun ini, untuk memulihkan kembali kondisi ibu kota setelah invasi militer pimpinan AS membawa kekerasan dan kekacauan di negara ini sejak 2003.

Dilaporkan Reuters, meskipun suasana sahur di ibu kota terlihat aman, namun peperangan antara tentara pemerintah dengan anggota militan ISIS masih terus berkecamuk, sekitar 50 km dari Baghdad. Serangan bom mobil yang kerap meletus di ibu kota menjadi serangan yang paling ditakutkan warga.

"Ini adalah tahun pertama kami merasakan kebahagiaan Ramadan dengan cara yang biasa kami lakukan pada tahun 80-an dan 70-an," kata seorang warga Baghdad bernama Fawziya yang tengah menikmati sahur di Aroma Cafe, mengacu pada era yang kerap disebut sebagai masa keemasan oleh banyak penduduk Baghdad.

Meskipun pada pagi hari nanti harus bekerja hingga sore, Fawziya dan keluarga tetap menyempatkan diri berkumpul sembari bersantap sahur di luar rumah.

"Anda merasa sangat gembira, karena keluarga kami telah mengalami banyak kesedihan. Di sini, malam ini, tak ada rasa takut. Suasana seperti ini biasa kami jumpai di Turki atau Libanon, namun sekarang kami menikmatinya di Irak," kata Fawziya.

Fawziya dan keluarga bukan satu-satunya warga Baghdad yang bergembira jam malam telah dicabut. Kegembiraan dan riuh tawa terdengar dari berbagai restoran di sepanjang jalan Sungai Tigris di kawasan Jadriya.

Kawasan itu dipenuhi oleh mobil yang terparkir maupun warga yang memilih berjalan di bawah rimbun pepohonan. Udara malam yang dingin disukai warga Irak, karena pada siang hari cuaca terik, dengan suhu dapat mencapai 50 derajat Celcius.

"Mencabut jam malam memiliki dampak yang besar. Kehidupan menjadi lebih ramai," kata Abbas al-Taii, 46, seorang warga yang menikmati santap sahur dengan enam anggota keluarganya.

"Ada kehidupan sekarang. Baghdad mencintai kehidupan. Pergi di malam hari merupakan upaya menentang ketakutan," kata seorang warga Amerika Serikat yang membawa keluarganya pulang kampung ke Irak untuk merasakan pengalaman Ramadan di Irak.

Suka cita malam di bulan Ramadan

Meskipun suasana sahur seperti di Jadriya tidak dapat dirasakan diseluruh penjuru Irak, namun malam hari saat Ramadan merupakan waktu yang sangat spesial bagi warga Baghdad.

Di Kota Sadr yang mayoritas warganya Syiah, anak-anak menikmati malam dengan bersepeda dalam gelap, bermain bola, dan bermain Muhaibis, permainan tradisional Irak.

Di kawasan miskin ini, hanya sedikit warga yang memiliki uang berlebih untuk bersantap sahur di restoran. Meski demikian, beberapa warga mengumpulkan dana untuk memberi makan warga miskin selama bulan suci ini.

Lain lagi dengan suasana di kawasan barat Tigris yang mewah. Warga memenuhi mal Mansour dan kompleks bioskop yang terlihat terang benderang di pada malam hari. Salah satu film yang tengah ditayangkan adalah Mad Max: Fury Road, film yang menggambarkan kekerasan pemerintahan yang lalim dan tiran, yang menimbun sumber air di gurun pasir.

Setelah bertahun-tahun menghadapi kecamuk perang di tanah sendiri, warga Baghdad seperti tengah belajar menikmati hidup dan menghargai stabilitas yang mereka rasakan saat ini, meskipun keamanan di negara ini masih tergolong rapuh.

"Kami haus akan keadaaan yang aman seperti sekarang ini. Saya ingat waktu ketika saya masih semuda anak perempuan saya, dan saya sering menceritakan kehidupan pada 2003 hingga 2015. Kami bersyukur kepada Tuhan atas keadaan saat ini, dan berharap keamanan akan terus berlangsung," kata seorang istri warga Baghdad bernama Abbas Um Maram. (ama/stu)