Diberitakan Channel NewsAsia, polisi memperkirakan pengunjuk rasa berjumlah lebih dari 800 orang. Demonstran melakukan aksinya dengan merobek buku teks sekolah versi baru yang dicetak berdasarkan pedoman kurikulum baru.
Demonstran yang sebagian besar merupakan orang dewasa, meneriakkan slogan seperti "dukung mahasiswa", "jaga demokrasi" dan "(Menteri) Wu Se-hwa mundur".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivis pemuda, Lin Kuan-hua, salah satu dari demonstran yang merangsek masuk ke dalam gedung kementerian, melakukan aksi bunuh diri di rumahnya pada Kamis pekan lalu. Para pengunjuk rasa pada Ahad berkumpul untuk mengenang perjuangan Lin dan menyematkan ratusan bunga mawar putih di pagar besi di depan gedung kementerian pendidikan sebagai tanda duka.
"Bunga-bunga untuk mengenang Lin. Saya ingin Lin tahu dia tidak akan mati sia-sia. Saya percaya kematiannya telah membangunkan lebih banyak orang yang telah dicuci otaknya oleh pemerintah Kuomintang selama beberapa dekade," kata Chuo Li-chen, seorang ibu rumah tangga berusia 57 tahun dari kota utara Taoyuan.
Kondisi ini meresahkan warga Taiwan, khususnya kalangan pemuda yang menilai China terus menanamkan pengaruhnya di Tawaian, utamanya melalui Presiden Ma Ying-jeou dari Partai Kuomintang (KMT).
Situasi ini juga mendorong mahasiswa menduduki parlemen selama tiga pekan pada tahun lalu atas kesepakatan perdagangan Taiwan dengan China dalam protes yang dikenal sebagai Gerakan Bunga Matahari.
Perubahan kurikulum yang dituntut oleh mahasiswa, termasuk referensi di buku teks sekolah soal Taiwan yang "ditemukan oleh China", bukan "diberikan ke China" setelah akhir pendudukan Jepang pada 1945.
Dalam buku teks, periode 50 tahun pemerintahan Jepang di pulau tersebut juga disebut sebagai era ketika "Jepang menduduki" Taiwan, menggantikan frase sebelumnya "Jepang memerintah" Taiwan.
Oposisi China, Partai Progresif Demokratik meminta perubahan kurikulum oleh China tersebut dibatalkan. (ama/ama)